30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
tiba di Indonesia


__ADS_3

Waktu terus berputar, jam kini sudah menunjukkan pukul 03.00, Penerbangan dari Singapura menuju Indonesia sudah siap melandas, itu artinya Nadira, Lisa, dan dokter Reza sebentar lagi akan tiba di Indonesia.


ketika Nadira bersiap untuk take uot, Bayu yang semalaman mencari dokter Raisa ke rumah sakit, sekarang dia memilih menunggu dokter Raisa di depan rumah dokter Raisa, laki laki yang kurang beruntung itu, semalam dia tidak berani mengetuk pintu rumah dokter Raisa karena dia rasa waktunya tidak tepat, Bayu memilih menunggu dalam mobil sembari memperhatikan rumah dokter Raisa dari kejauhan, berharap besok pagi bisa melihat anak anaknya, bertemu, lalu mengajak mereka pulang ke rumahnya.


.....


Pagipun tiba, penerbangan dari Singapura sudah mendarat di bandara Indonesia, Kebahagiaan tampak jelas di raut wajah mereka setelah pesawat itu mendarat dengan selamat, air mata kebahagianpun mengalir deras dari setiap pelupuk matanya.


"Alhamdulillah Lis, akhirnya kita bisa Pulang lagi ke tanah kelahiran kita" ujar Nadira sembari menjatuhkan air matanya


"Alhamdulillah Bu, saya juga bahagia sekali, sudah 2 tahun saya tidak pulang, tapi sekarang saya bisa bertemu dengan keluarga saya, terimakasih ya Bu, kalau saja tidak ada ibu mungkin sekarang saya tidak akan berada disini" ujar Lisa dengan matanya yang berkaca-kaca


"Iya Lis, sama sama, terimakasih juga ya! kamu dan dokter Reza sudah mau mengantarkan saya pulang"


"Iya Bu sama sama"


Nadira pun memeluk Lisa dengan erat, dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Lisa dan dokter Reza yang selalu menemani dan membantunya selama dia di Singapura, bahkan hingga dia pulang ke Indonesia pun mereka setia menemaninya, menyayanginya seperti saudara sendiri.


"Udah dong!, Dari pada sedih sedihan, mending kita istirahat dulu sambil telepon Raisa, dari semalam Raisa pasti nunggu nunggu kabar dari kita, ayo sayang! kita duduk dulu disana..!!!" Dokter Reza mengajak Lisa dan Nadira untuk istirahat, dia menunjuk ke arah kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


"Ayo mas!" Ujar Nadira tersenyum


Karena rasa lelah dan pegal akibat duduk berjam jam, Nadira, Lisa dan dokter Reza pun berjalan menghampiri sebuah kursi yang terlihat masih kosong, mereka duduk di kursi itu sembari melihat lihat sekeliling bandara.


"Sebentar ya! Mas telpon Raisa dulu"


Dokter Reza menggeluarkan ponselnya untuk menelpon dokter Raisa.


Tuuuuuutt


Tuuuuuutt


Tuuuuuutt

__ADS_1


📞Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi.


Dokter Raisa tidak menerima panggilan.


"Gak diangkat ya mas?" Tanya Nadira


"Engga, mungkin Raisa lagi di jalan sayang, paling sebentar lagi juga mereka sampai ke sini jemput kita" jawab dokter Reza tersenyum


Dokter Reza merasa ada yang aneh dengan Raisa, tidak biasanya Raisa menolak panggilan telepon darinya, tapi dia tidak berfikir terlalu jauh, dia tetap tenang tenang saja karena mungkin Raisa punya alasan sendiri kenapa dia menolak telepon darinya.


"Mas yakin dokter Raisa sedang menuju kesini? dari semalam dokter Raisa gak ngasih kabar apapun loh mas, di telepon sama Lisa juga gak di angkat angkat, mas kasih tau kita mau pulang hari ini kan?" tanya Nadira penasaran


"Iya sayang, mas sudah telepon Raisa kok, mungkin tadi malam Raisa lagi sibuk jadi gak bisa angkat telepon dari Lisa "


"Iya mas, mungkin dokter Raisa sibuk" ujar Nadira sembari menundukkan kepalanya.


Entah apa yang Nadira pikirkan saat ini hingga tubuhnya tiba tiba lemas tak berdaya, dia terdiam dengan posisi tangan yang disimpan di kedua bagian kepalanya.


Di Singapura dia berharap ketika dia sampai di bandara anaknya sudah hadir menyambutnya dengan senyuman, tapi kenyataannya tidak sesuai dengan harapan, sang anak belum hadir di tempat itu membuat Nadira begitu sangat kehilangan semangatnya.


"Gak papa mas, mungkin aku cuma kecapean saja"


"Kamu jangan bohong Dira, mas tau kamu menyembunyikan sesuatu, ada apa? cerita sama mas"


"Mas, apa aku salah kalo aku ngarepin anak anak ada disini jemput aku? apa aku berangan angan terlalu jauh mas?"


"Kamu kenapa sayang? kok tiba-tiba nanya gitu? dengerin mas! Ilham dan Sifa pasti jemput kita kesini, mereka belum sampai kesini karena mungkin mereka kejebak macet atau apa gitu di jalan"


"Mungkin kejebak macet Bu" ujar Lisa


"Mungkin iya Lis"


mendengar perkataan Lisa dan dokter reza, Nadira merasa sedikit lebih tenang, dia harus lebih menguatkan dirinya untuk menerima kenyataan bahwa sekarang hidupnya tidak seperti dulu lagi.

__ADS_1


"Bundaaaaaaa....!!"


Tiba tiba terdengar suara teriakan manja yang samar samar dari kejauhan.


Deg.


Nadira kaget sekaligus bahagia, dia mengira kalau itu teriakan Sifa dan Ilham yang memanggil dirinya, tapi dia tidak terlalu menghiraukan, dia takut itu hanya angan angannya saja.


"Bunda...!!" suara itu terdengar lagi, dia sekarang yakin kalau yang memanggilnya itu adalah Sifa.


karena tak kuat menahan rindunya kepada anak anak, Nadirapun mulai mencoba mencari dari mana suara itu berasal, bandara yang begitu sangat megah dengan banyaknya orang yang berlalu lalang membuat Nadira tidak bisa memperhatikan mereka satu persatu, dia hanya bisa mengikuti suara itu karena mungkin bisa saja keberadaan Sifa terhalang oleh orang yang berlalu lalang di sekelilingnya.


"Bu Nadira...!!" Teriak Lisa mencoba menghentikan Nadira


"Udah Lis gak papa" ujar dokter Reza


"Tapi dok, Bu Nadira mau kemana?" Tanya Lisa bingung


"Memangnya barusan kamu gak denger kalau ada anak yang manggil manggil Nadira, mungkin itu Ilham dan Sifa Lis, jadi biarkan saja, Nadira pasti udah gak sabar pengen ketemu sama mereka" jawab dokter Reza


Dokter Reza mengira kalau suara teriakan itu adalah Ilham dan Sifa jadi dia merasa santai santai saja duduk dengan tenang sembari memperhatikan Nadira dari kejauhan.


"Oh, mungkin iya dok, maaf saya gak denger"


"Kamu pasti capek Lis, kita istirahat disini saja, biarkan Nadira bertemu dengan anak anaknya"


"Baik dok!" ujar Lisa menganggukkan kepalanya


Penerbangan dari Singapura menuju Indonesia menempuh waktu 3 jam, lumayan menguras tenaga Lisa, belum lagi pekerjaan dia kemarin menyita banyak waktu, sehingga dia kehilangan banyak waktu untuk istirahat.


Ketika dokter Reza dan Lisa sibuk dengan gadgetnya, Nadira yang sedari tadi mencari suara Sifa, kini dia melihat seorang anak kecil yang berdiri tak jauh darinya, anak itu terhalang tiang penyangga yang berdiri berjejer di ruangan itu, membuat Nadira tidak bisa melihatnya dengan jelas.


"Sifa..." Teriak Nadira memanggil anak itu dari kejauhan, sekilas wajahnya mirip sekali dengan Sifa.

__ADS_1


"Bunda...!!'' anak itu juga berteriak sembari berlari ke arahnya


Nadira yang begitu sangat rindu kepada anaknya pun bersiap menyambut anaknya dengan pelukan, dia membukakan tangannya bersiap untuk memeluk Sifa dengan erat.


__ADS_2