
...🌾seempuk apapun dan seberapapun mahal harga sebuah bantal, tidak akan mampu menggantikan tenang dan nyamannya bahu seorang suami untuk bersandar🌾...
...Happy reading...
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Pagi pun tiba, suara kicauan burung terdengar begitu merdu saling bersahutan dari belakang halaman rumah dokter Raisa, pak Bram yang sangat menyukai burung dia memelihara berbagai jenis burung di halaman belakang rumahnya sehingga setiap pagi sore maupun siang, suara burung itu terdengar merdu menghibur dirinya dikala sepi ketika ditinggal sang istri bekerja.
Pak Bram adalah seorang pengusaha yang sukses, dia memiliki perusahaan yang memiliki cabang dimana mana, tapi dia tidak tergolong orang yang sibuk, karena semua urusannya telah diserahkan kepada orang kepercayaannya, dia hanya akan datang disaat menandatangani berkas berkas penting atau hanya untuk melihat lihat/ memantau kemajuan perusahaannya.
Cit cit cuit, cit cit cuit
Begitulah suara burung burung peliharaan pak Bram dari belakang rumah, terdengar begitu sangat merdu sehingga membuat Ilham penasaran ingin melihatnya.
"Dek, kayanya ada suara burung deh dibelakang rumah ini, kayaknya dokter Raisa punya banyak peliharaan burung, kita lihat yuk dek!" Ujar Ilham yang terlihat sangat penasaran
"Engga ah ka, Sifa mau disini aja nunggu bunda, bunda kok lama ya ka?" Tanya Sifa yang terlihat cemberut
"Kakak juga gak tau de, mungkin sebentar lagi bunda jemput kita, dari pada nunggu bunda disini, mending kita keluar yuk, barusan ada suara burung, suaranya bagus banget, pasti burungnya juga cantik kaya kamu" jawab Ilham mencoba menghibur adiknya itu
"Ayo ka!" Ujar Sifa dengan wajah sedihnya
"Ayo de, tapi kita beresin tempat tidurnya dulu ya, ingat kata bunda, kita gak boleh bandel di rumah orang, kalau bisa kita juga beresin tempat tidur kita agar kita gak terlalu merepotkan dokter Raisa, kamu bisa kan?" Tanya Ilham menoleh ke arah adiknya itu
"Iya ka, aku bisa" ujar Sifa tersenyum
Anak anak pintar itu pun mulai membereskan tempat tidurnya, Ilham berusaha mengajarkan adiknya agar dia bisa terus seperti ini dimanapun dia berada, Ilham sudah terbiasa dengan ini karena Nadira yang mengajarkan semua ini kepadanya.
__ADS_1
"Sekarang udah beres, ayo dek, kita lihat lihat ke belakang" ujar Ilham tersenyum
"Ayo ka" ujar Sifa
Ilham menggandeng tangan adiknya itu keluar dari kamar, dia melihat lihat seisi rumah dokter Raisa, lalu berjalan menuju belakang untuk melihat-lihat bagian belakang rumah mewah itu.
"Pagi sifa, Ilham, kalian sudah bangun?" Tanya bi Minah yang sedang mengepel lantai
"Udah dong bi, kita sudah biasa bangun subuh kok" jawab Sifa dengan bibir monyongnya
"Waaaah, pinter banget sih, oh iya!? Kalian mau kemana?" Tanya bi Minah lagi
"Kita mau lihat lihat kebelakang bi, tadi aku dengar suara burung, aku penasaran bi, dari pada diem di kamar terus mending aku ajak Sifa kesini" jawab Ilham
"Iya nak, di belakang banyak burung burung cantik, kalau kalian mau lihat, ke belakang aja gak papa, tapi jangan lama lama ya! Habis ini kalian mandi, sarapan terus berangkat ke sekolah" ujar bi inem
"Iya bi" ujar Ilham tersenyum
Ilham dan syifa pun melanjutkan langkahnya, dengan perlahan mereka berjalan ke belakang halaman sembari melihat lihat mewahnya rumah dokter cantik itu, mereka melihat ada kolam renang, ada kolam ikan, dan taman kecil yang dihiasi berbagai jenis bunga dan pohon buah, membuat ilham dan Sifa merasa betah melihatnya.
"Ka, rumah dokter cantik besar banget ya! ada kolam renangnya juga, coba kalau di rumah kita ayah buat kolam kaya gini, pasti kita ada tempat bermain'' ujar Ilham
"Kalau ayah sama bunda niat, pasti mereka bikin dek, kakak tau alasannya kenapa bunda gak bikin kolam di rumah kita" ujar Ilham
"Apa ka?" Tanya Sifa penasaran
"Karena ayah sama bunda takut kita main terus, kalau keasikan bermain bahaya dong de, bisa bisa kita lupa belajar" jawab ilham
__ADS_1
"Tapi kan ka, kita bisa belajar dulu terus bermain" ujar Sifa
Bibir tipis kecil itu terlihat manyun karena dia ingin sekali memiliki kolam seperti apa yang ada di rumah dokter Raisa.
"Kita mainnya tiap hari Minggu saja ya! Ayo kita lanjut lagi, kakak udah gak sabar pengen liat burung burungnya" ujar Ilham menarik tangan adik ya itu
"Ayo kak" ujar Sifa dengan matanya yang berkaca-kaca.
Kedua anak pintar itu punya harapan besar, mereka memiliki keinginan dan harapan yang berbeda kepada ayah dan bundanya, terutama kebahagiaan dan keharmonisan keluarga mereka.
Semenjak Ilham dan Sifa tau kalau ayahnya akan menikah lagi, belum lagi sang bunda yang memiliki penyakit yang cukup berat, pikiran mereka jadi sangat terganggu, kebebasan kedua anak kecil itu seakan hilang begitu saja, kenyamanan yang kedua orang tua mereka berikan seakan hilang, yang ada saat ini hanyalah ketakutan dan kegelisahan yang terus menghantui pikiran mereka saat ini.
Setelah melewati taman dan dapur, Sifa dan Ilham akhirnya sampai di halaman belakang rumah dokter Raisa, mereka tersenyum ketika melihat begitu banyaknya burung burung cantik yang sedang makan, mandi dan berkicau di dalam sangkar sangkar itu.
Mereka mulai menghampiri burung itu satu persatu, Ilham berharap dengan adanya hiburan seperti ini dia dan adiknya bisa betah tinggal berlama lama di rumah ini sampai bundanya datang menjemputnya.
Ilham sengaja mengajak adiknya melihat lihat burung ini karena Mereka butuh sekali penenang agar mereka tidak terlalu kepikiran dengan bundanya yang sedang jauh disana.
Sembari melihat adiknya yang sedang bermain dengan burung lakbet Ilham duduk di teras sembari terus berdoa dan berharap ada keajaiban untuk bundanya.
Ilham sangat berharap bundanya datang dan menjemputnya disini dengan keadaan sehat, dia ingin segera bertemu dengan bundanya, Ilham begitu sangat rindu karena memang sebelumnya mereka tidak pernah jauh seperti ini.
"Ya Allah, sembuhkan bunda agar bunda bisa cepat cepat jemput kita disini" batin Ilham merintih
...bersambung...
...bab ini menceritakan tentang Ilham dan Sifa dulu ya, nanti di lanjut lagi....
__ADS_1
...jangan lupa like n comenya 🌹...