30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
Nadira di vonis sembuh


__ADS_3

...🌾Aku ini manusia biasa, aku bukan dewa atau malaikat, aku adalah wanita yang terlahir dari tulang rusukmu....


... Sakitkah engkau bila aku selalu menangis???...


... Apakah tidak engkau sadari bahwa aku ini lemah??? ...


...Aku butuh engkau sebagai penopang ku, tapi mengapa engkau selalu menyakiti aku sehingga aku tak bisa lagi menangis🌾...


...Begitulah curahan hati nadira...


...Happy reading...


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


2 bulan berlalu setelah Nadira dirawat di Singapura, keadaanya sudah mulai membaik, dia sudah menjalani berbagai rangkaian operasi untuk penyembuhannya sehingga dia bisa kembali sehat seperti sedia kala, dia terlihat lebih baik hanya saja dia perlu memulihkan staminanya sesudah itu dia bisa sehat seperti dulu lagi.


Kesehatan nya saat ini buah dari hasil kerja keras dokter Reza yang merawatnya dengan baik dan sabar, dokter Reza tampak tulus membantu pemulihan Nadira karena Nadira adalah pasien yang paling spesial yang dokter Raisa percayakan kepadanya.


Awalnya dokter Reza bersikap biasa biasa saja, tapi karena dia mendengar kisah hidup Nadira yang penuh kesakitan, dia akhirnya kasihan hingga tak tega membiarkan Nadira terbaring lemah di tempat tidur, dokter Reza sangat perduli dan merasakan kesakitan yang Nadira rasakan karena dia juga pernah mengalami hal yang sama, dia pernah dicampakkan oleh seorang wanita hingga dengan kesakitan itu dia bisa hidup lebih baik dan sukses seperti sekarang ini.


Disaat Nadira sudah siap untuk dipulangkan ke Indonesia, Ilham dan Sifa yang sudah menanti kehadirannya dari 2 bulan yang lalu, mereka malah tampak tenang tenang saja, sekarang mereka terlihat lebih baik, karena fasilitas dan kasih sayang yang dokter Raisa berikan untuk mereka, mereka seakan lupa dengan bundanya yang sedang jauh di sebrang sana, mereka sudah sangat betah tinggal di rumah mewah itu dan sudah menganggap dokter Raisa seperti ibu kandung mereka sendiri.


🌾Keadaan di Singapura 🌾

__ADS_1


Nadira yang sudah mulai membaik, dia duduk bersantai di depan jendela kamarnya sembari melihat pemandangan kota Singapura yang terlihat indah, dia bisa melihat keindahan kota itu karena kebetulan dia sudah pindah ke apartemen yang dokter Reza tempati, dokter Reza belum mengijinkan dia untuk pulang ke Indonesia karena memang Nadira masih butuh cek up 2 sampai 3x lagi sampai kesehatannya benar benar pulih.


"Sudah 2 bulan ini aku meninggalkan kedua anakku, bagaimana kabar mereka sekarang ya? Apa mereka baik baik saja? Ilham, Sifa, bunda kangen banget sama kalian nak!  Bunda ingin sekali bertemu dengan kalian, sekarang bunda sudah sembuh, bunda akan segera menjemput kalian disana" ujar Nadira menjatuhkan air matanya


Tangan mulus itu menyentuh pantulan wajahnya di cermin, dia dia terus menangis karena begitu sangat merindukan kedua anaknya, dia merasa bersalah karena telah meninggalkan mereka hingga berbulan-bulan lamanya.


"Permisi Bu, saya bawakan sarapan untuk ibu" ujar asisten dokter Reza yang mengurus semua kebutuhan Nadira di apartemen itu, sebut saja Lisa


"Terimakasih ya mbak, tapi saya belum lapar, mbak simpan saja makanannya di meja! Nanti saya makan kok" ujar Nadira yang masih saja memandangi keindahan kota itu.


Nadira tidak terlalu menghiraukan Lisa karena dia benar benar sangat kebingungan dengan apa yang dia rasakan saat ini, bahagia atau justru sedih? Perasaannya bercampur aduk menjadi satu.


"Kenapa Bu Nadira? setelah divonis sembuh kenapa dia malah murung seperti ini? Harusnya Bu Nadira senang dong! Apa yang sebenarnya terjadi?" Batin Lisa bertanya tanya


Lisa terus membujuk Nadira untuk segera menghabiskan sarapannya, dia ingin melihat Nadira segera pulih  karena dia sudah tidak sabar ingin segera mengantarkan Nadira pulang ke Indonesia.


Selama Nadira tinggal di apartemen dokter Reza, dokter Reza menyuruh Lisa untuk membantu proses pemulihan.


"Iya mbak" jawab Nadira


Nadira bangkit dari duduknya dengan wajah yang masih memandang ke arah gedung, dia membalikkan badannya, lalu berjalan menghampiri Lisa untuk mengambil satu mangkuk bubur dan segelas air putih itu dari tangan Lisa.


"Bu Nadira kenapa? Apa yang sebenarnya ibu pikirkan? Kalau ada apa apa ibu bisa cerita sama saya, siapa tau saya bisa bantu" tanya Lisa yang tampak cemas melihat Nadira terus melamun seperti itu.

__ADS_1


"Gak ada apa apa mbak" jawab Nadira tersenyum


Dia mulai mencicipi bubur yang Lisa buatkan agar Lisa tidak banyak bertanya, dia ingin sekali bercerita, dia ingin sekali mencurahkan segala isi hatinya saat ini, tapi dia ragu, dia merasa semua permasalahan hidupnya tidak pantas di ceritakan kepada orang lain, cukup dirinya saja yang merasakannya, dia tidak mau terlalu merepotkan orang lain.


"Ibu jangan bohong, saya tau ibu Nadira sedang menyembunyikan sesuatu, cerita saja Bu! Gak pp, saya siap menjadi pendengar setia untuk ibu" ujar Lisa mengelus pundak Nadira


Lisa sangat memperhatikan keadaan Nadira, dia sangat perduli kepada Nadira karena dia tau Nadira adalah wanita yang baik, Lisa sudah tau semua kisah kehidupan Nadira dari suster yang mengantarkan Nadira 3 hari yang lalu, mereka menitipkan Nadira kepada Lisa karena memang mereka sangat memperdulikan Nadira.


"Kenapa mbak Lisa baik sekali sama saya? Mbak Lisa kan belum kenal saya? Bagaimana kalau saya adalah orang yang jahat? Ap mbak masih mau menolong dan memperhatikan saya seperti ini?" Tanya Nadira dengan matanya yang berkaca-kaca


"ini adalah takdir Allah, Allah pasti akan menolong perempuan yang baik seperti ibu" jawab Lisa tersenyum


"Terimakasih ya mbak, saya tidak akan pernah melupakan kebaikan mbak dan dokter Reza yang sudah sangat baik terhadap saya" ujar Nadira tersenyum


"Sama sama Bu" ujar Lisa membalas senyuman manis nadira


"Oh iya mbak, apa boleh saya pinjam ponsel mbak? Saya mau telpon dokter Raisa, saya mau menanyakan kabar kedua anak saya" 


"Tentu boleh Bu, tapi ibu habiskan dulu sarapannya ya! Setelah itu ibu bisa langsung minum obatnya, saya mau ambil ponselnya dulu" jawab Lisa tersenyum


"Baik mbak" ujar Nadira 


...bersambung...

__ADS_1


__ADS_2