30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
kesakitan


__ADS_3

Malam semakin larut, Bayu melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 20.30, ini saatnya untuk dia beristirahat.


Malam ini dia harus istirahat lebih exstra Karena besok dia harus berangkat pagi pagi ke kantor, memenuhi keinginan kliennya untuk meeting.


''Karena tugasnya sudah selesai, sekarang waktunya untuk anak ayah yang pintar pintar ini istirahat, kalian bobo ya!'' ujar Bayu mengelus kepala anak anaknya dengan penuh kasih sayang.


''Yaahhh, padahal Ilham masih mau ngobrol sama ayah'' ujar Ilham merajuk


''Ini sudah malam sayang, kalian harus istirahat soalnya besok taktu kesiangan bangun nya, iya kan bunda?'' tanya Bayu menoleh ke arah Nadira


''Iya sayang, besok kan kalian harus bangun lebih pagi, ayooo tidur nak!'' jawab Nadira.


Nadira merebahkan tubuhnya di ranjang Sifa, menemani Sifa hingga Sifa tertidur lelap, sedangkan Bayu, dia meninggalkan kamar anak anaknya berjalan menuju ruang atas, dia masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


"Terimakasih mas, malam ini kamu sudah memberikan waktu kamu untuk Ilham dan Sifa, semoga kamu akan seterusnya seperti ini" batin nadira


Ketika kedua anaknya sudah tertidur pulas, Nadira menyelimuti tubuh mereka, mencium mereka dengan penuh kasih sayang.


"Selamat tidur jagoan dan feri kecil bunda, bunda janji, bunda akan merebut kembali hati ayah, bunda sayang kalian" ujar Nadira menjatuhkan air matanya.


Nadira bangkit dari duduknya meninggalkan kamar ilham dan sifa dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipi. entah apa yang dia rasakan saat ini, yang jelas Nadira ingin sekali menangis, bahagia dan sedih bercampur aduk menjadi satu.


Dia duduk di sofa sembari merasakan kesunyian malam, yang menenangkan hati dan fikirannya.


''Ngapain Nadira duduk disitu?, semakin hari kelakuannya semakin aneh aja, apa mungkin dia masih memikirkan perceraian?'' Bayu bertanya tanya.


dia penasaran dengan tingkah laku Nadira akhir akhir ini, Bayu merasa nadira berubah menjadi dingin, padahal biasanya Nadira selalu ceria, dia juga selalu marah ketika Bayu bermesraan dengan Elsa tapi sekarang dia seakan tidak memperdulikan.


''lagi ngapain kamu disini?'' tanya Bayu.

__ADS_1


Bayu turun dari ruang atas berjalan melewati Nadira yang sedang duduk di sofa.


''Gak lagi ngapa ngapain mas, kamu belum tidur?'' Nadira balik bertanya


''Belum, aku haus, aku mau ambil minum ke dapur'' jawab Bayu.


Dia melanjutkan langkahnya berjalan menuju dapur.


Nadira bangkit dari duduknya berjalan menuju ruang atas, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang sudah mulai lelah, belum lagi kepalanya yang terasa sangat pusing membuat tubuhnya lemas, hingga tak sanggup lagi untuk berdiri terlalu lama.


Nadira berjalan dengan langkah pelan karena tubuhnya yang sudah mulai ngagalibrig.


''Kamu kenapa sih? jalan ko pelan kaya gitu, kamu mau cari perhatian? maaf aku tidak mempan dengan sandiwara kamu'' ujar Bayu dengan mudahnya berbicara seperti itu kepada Nadira.


''Ya allah mas, kenapa kamu ngomongnya kaya itu? aku memang lagi sakit mas, kepalaku pusing'' ujar Nadira.


''Lebay'' ujar Bayu.


''Ya allah, kuatkanlah aku'' ujar Nadira.


Dengan perlahan, Dia memaksakan diri untuk berjalan menuju kamarnya.


"Kalau saja kamu sekarang ada diposisi aku, mungki kamu tidak akan pernah berani menyakiti aku mas, kenapa harus sesakit ini ya Allah?" batin Nadira merintih


Rumah nadira sangatlah besar, tangga menuju kamarnya pun sangatlah tinggi, tubuhnya yang lemas tak mampu lagi untuk berjalan menanjak, dia benar benar tidak mampu melewatinya, baru tangga ke 3 saja dia sudah sempoyongan hingga jatuh tersungkur.


"Ya Allah, kenapa tubuhku jadi seperti ini, apa aku harus menuruti perintah dokter untuk kemoterapi? tapi untuk apa? meskipun menjalani kemo toh tetap saja aku akan tetap mati" ujar Nadira menangis terisak


Nadira menangis sembari memaksakan diri untuk berjalan kembali ke sofa, malam ini dia terpaksa harus tidur di sofa ruang keluarga, Karena dia tak mampu berjalan Ke kamarnya.

__ADS_1


Setelah sampai, Nadira langsung merebahkan tubuhnya di sofa, menatap langit langit, sembari merasakan rasa sakit yang menyayat seluruh organ tubuhnya.


Rasa sakit ditubuhnya tak seberapa dibanding rasa sakitnya saat ini. sekuat apapun Nadira menerima, tapi tetap saja, Nadira belum bisa mengikhlaskannya. Nadira tau ini hanyalah ujian, dan seberat apapun ujian itu, Nadira tidak akan pernah mundur, dia tidak akan pernah melepaskan Bayu begitu saja, dia akan berusaha mempertahankan rumah tangganya hingga ajal menjemput.


''Kenapa tubuhku masih terasa sakit ya? padahal aku sedang berbaring seperti ini, biasany juga kalau di istirahatkn sebentar sakitnya langsung hilang, tapi kenapa ini malah semakin sakit? ya Allah!!, kayanya aku harus minum obat pereda rasa sakit'' ujar Nadira merasa sedikit heran.


Tangan Nadira mencoba meraih obat yang terongok di meja, malam ini dia terpaksa harus di bantu obat itu agar besok pagi dia bisa segar kembali.


Bagaikan hidup sebatang kara rasanya Nadira saat ini, disaat tubuhnya digerogoti penyakit yang mematikan, dia tak pernah merasakan kasih sayang dari suaminya lagi, kasih sayang bayu seakan hilang bak ditelan bumi, tapi Nadira tetap bersemangat, dia tetap kuat menjalani hidupnya nya seorang diri.


malam semakin larut, Nadirapun memejamkan matanya karena rasa kantuk dari efek obat yang barusan dia minum.


...💞💞💞💞...


...Teng...


...Teng...


...Teng...


...terdengar bunyi jam yang menunjukkan pukul 03.00...


Nadira terbangun, Nadira merasakan kondisi tubuhnya saat ini sudah mulai membaik, dia langsung bangkit dari tidurnya berjalan menuju ruang atas masuk ke dalam kamarnya untuk melaksanakan shalat tahajud.


Waktu sholat yang selalu dia tunggu tunggu, karena setelah selesai sholat, dia bisa mencurahkan isi hatinya kepada sang pencipta_allah.


Dengan mukena yang masih terpasang di tubuh, Nadira menoleh ke arah suaminya yang masih tertidur pulas, dia meminta kepada zat yang maha membolak balikn hati agar suaminya bisa kembali mencintainya dan melupakan Elsa yang sekarang menjadi pacarny.


''ya allah, aku tau dia masih mencintaiku, bantu aku agar aku bisa merebut hatinya kembali'' ujar Nadira menjatuhkan air matanya.

__ADS_1


...bersambung...


__ADS_2