30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
rencana mengambil alih perusahaan


__ADS_3

Flashback.


Tadi ketika handphone Elsa berbunyi begitu nyaring dia mengangkat telepon yang ternyata telepon itu dari mamanya Lidia. Bu Lidia memberitahu Elsa kalau suaminya Bayu sudah sampai di rumahnya 5 menit lebih cepat dari perkiraannya. Elsa yang mendengar kabar itu dia jelas jelas santai karena dia sudah bertemu dengan suaminya 10 menit sebelum mamanya Lidia bertemu dengan Bayu, jadi dia tenang tenang saja melanjutkan misinya mengintip siapa orang yang sedang bayu perhatikan sedari tadi.


Elsa dengan pintar menyelinap ke dalam halaman villa itu mengikuti Semak hijau yang ditata rapi oleh si tukang kebun, dia dengan mudah sampai di halaman belakang tepatnya di sebelah kamar yang sedang dipakai istirahat oleh Nadira. Dia mendengarkan percakapan Nadira dan dokter Raisa yang sedang ngobrol sedari tadi.


Sedangkan Dokter Raisa dan Nadira tidak menyadari kalau Elsa mendengarkan percakapan mereka.


"Jadi mas Bayu dari tadi liatin perempuan penyakitan itu, dari mana mas Bayu tau kalau mereka ada disini?" Elsa menyandarkan tubuhnya di tembok setelah dia mendengar semuanya, dia bingung kenapa suaminya bisa tau Nadira berada di villa itu. "Jadi perempuan penyakitan itu mau menikah sama seorang dokter? Kok bisa bisanya ya dokter mau nikah sama perempuan kaya dia? Tapi bodo amatlah,Ya bagus dia nikah! Biar dia gak ganggu ganggu suami gue lagi, tapi kalau dia minta harta Gono gini gimana ya? Gak bisa dibiarin, gue harus cepat cepat mengambil alih perusahaan biar si perempuan penyakitan itu gak berani minta minta hak dia dan anaknya, biarin aja, biar dia jadi gembel sekalian" Elsa terus berbicara sendiri. Dia masih bersandar di tembok sembari memikirkan sesuatu.


Dreeed


Dreeed


Dreeed


Suara getar dari ponsel Elsa berbunyi di tas kecilnya.


"Siapa sih yang nelpon gue, ganggu aja!" Elsa mengambil ponsel dalam tasnya dengan wajah merah menyala, dia sangat kesal sekali karena lagi dan lagi suara handphone nya mengganggu dirinya yang sedang fokus.

__ADS_1


Ketika handphone itu sudah di tangannya, muncul nama mama di layar ponselnya.


"Mama, ngapain lagi sih? Pasti mama nelpon gue gara gara Keyla, aduuuh, ganggu saja si tuh orang tua" sembari terus menggerutu Elsa mengangkat telpon dari mamanya.


📞Ada perlu apa lagi sih mah?" Tanya Elsa 


📞Elsa, kamu cepat pulang, barusan mama dengar suami kamu sama Clara mau pergi" jawab Bu Lidia dengan serius, Bu Lidia terdengar ngos-ngosan karena mungkin dengan cepat dia mengambil ponselnya setelah mendengar percakapan Bayu dengan clara.


📞Ya gak papa dong mah, paling mas Bayu sama Clara ada meeting, emang kenapa sih mah? Kok kaya serius gitu?" Dengan santai Elsa menjawab perkataan ibunya, dia tidak keberatan jika suaminya pergi bersama Clara karena dia begitu sangat percaya kepada sahabatnya itu.


📞Elsa memangnya kamu gak keberatan suami kamu pergi bersama wanita lain?" Tanya Bu Lidia lagi, Bu Lidia sangat bingung dengan pemikiran anaknya itu, bisa bisanya Elsa membiarkan Bayu pergi dengan Clara.


Ketika Elsa mengira semuanya aman, Elsa kembali melihat ke balik jendela kamar itu, dia melihat Nadira dan dokter Raisa masih mengobrol di kamar, dia mendekatkan telinganya kembali ke lobang jendela untuk mendengarkan percakapan mereka, tapi ternyata mereka malah membicarakan sesuatu yang tidak penting baginya. Elsa pun kembali berdiri lalu menyandarkan tubuhnya lagi ke tembok.


"Mending gue ke kantor saja lah, dari pada disini, denger omongan mereka yang gak penting" ujar Elsa. Dengan hati hati Elsa pun kembali menyelinap ke balik semak semak meninggalkan villa itu. Dia memilih kembali ke kantor karena dia ingin segera menyampaikan kabar bagus ini ke Bayu suaminya. Dia ingin Bayu tau bahwa orang yang tadi dia intip akan segera melangsungkan pernikahan dengan laki laki yang lebih baik darinya. Elsa ingin memanas manasi Bayu agar Bayu benci kepada Nadira karena dengan itu Bayu bisa berubah respek terhadapnya dan setelah itu  dia bisa lebih mudah menguasai semua harta kekayaan bayu.


"Kamu tunggu mas, sebentar lagi aku akan membawa kabar bahagia untuk kamu, hahahaha" batin elsa. Elsa menaikan sebelah alisnya sembari tersenyum sinis, dia merasa senang sekali karena telah berhasil mendengar percakapan Nadira dengan dokter Raisa, dia yakin setelah ini dia akan hidup dengan tenang tanpa dihantui rasa takut karena si perempuan penyakitan itu.


Di dalam kamar.

__ADS_1


"Jadi kapan Bu Nadira dan dokter Reza melangsungkan pernikahan?" Tanya dokter Raisa dengan serius, rupanya mereka kembali membicarakan perihal pernikahan Reza dan Nadira.


"Dekat dekat ini dok" jawab Nadira tersenyum yakin.


"Trus gimana hubungan ibu sama mantan suami ibu? Dia kan belum ceraikan ibu dengan sah" Dokter Raisa bertanya masalah hubungan Nadira dengan Bayu, karena mereka mungkin belum resmi bercerai, Bayu memang sudah menikah lagi tapi belum ada kata talak yang Bayu ajukan ke pengadilan.


"Itu yang saya pikirkan Bu, entahlah saya bingung" jawab Nadira menundukkan kepalanya.


"Loh ko bingung sih Bu, ibu kan bisa mengajukan gugatan cerai ke pengadilan, ibu jelaskan di pengadilan semua kesalahan dia terhadap ibu, dia bisa diberatkan loh Bu, dengan itu ibu bisa mengambil hak asuh Ilham dan Sifa" dokter Raisa mencoba memberi saran kepada Nadira, dia ingin sekali Nadira mengurus ngurus surat perceraiannya dengan cepat, dia juga ingin Nadira memenangkan hak asuh Ilham dan sifa.


"Iya ya Bu, saya akan coba" ujar Nadira sembari mengepalkan tangannya.


Nadira ingin sedikit memberi pelajaran kepada Bayu atas semua yang sudah dia lakukan kepadanya, dia akan mendengarkan masukan dari dokter Raisa, mengambil hak asuh Ilham dan sifa lalu mengambil semua harta kekayaannya, sebentar lagi Nadira akan mengambil alih perusahaannya kembali lalu mengusir Bayu dan Elsa dari rumahnya.


"Apa yang Bu Nadira pikirkan?" Tanya dokter Raisa yang melihat Nadira terdiam 


"Saya akan coba apa yang dokter sampaikan barusan, saya akan mengambil hak asuh Ilham dan Sifa, setelah itu saya akan mengambil alih perusahaan saya kembali" jawab Nadira. Dia menoleh ke arah dokter Raisa dengan tatapan penuh yakin, Nadira percaya bahwa dirinya mampu memberi pelajaran untuk kedua sejoli yang sudah menyakitinya itu meskipun hatinya tidak ingin.


"Saya dibelakang Bu Nadira, saya akan menjadi saksi kebejatan mantan suami ibu, ibu yang kuat ya!"

__ADS_1


__ADS_2