30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
keterlaluan


__ADS_3

...🌾 pernikahan tak hanya tentang janji setia sepasang suami istri, tapi ia seharusnya menjadi benteng yang melindungi suami agar Hati berpaling ke wanita lain, namun, apa daya jika benteng itu tubuh karena rasa iba yang akhirnya berubah menjadi cinta terlarang antara suami dengan perempuan lain, haruskah istri menanggung masih menjadi yang ditinggalkan?🌾...


...Happy reading...


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Hari semakin larut, tubuh yang lemas terpaksa harus berjalan menelusuri jalanan sepi sembari merasakan efek samping dari cemoterapi yang baru saja dia jalani, hari ini dia pulang malam karena dia harus menunggu antrian, tadi dia tidak bisa datang lebih pagi karena kondisi jalan yang begitu macet membuat dia terlambat dan mendapatkan antrian ke 3 di rumah sakit itu, dia terpaksa mengantri hingga pulang selarut ini.


"Ya Allah, gak ada angkutan umum sama sekali, bagaimana aku bisa pulang? Aku gak kuat kalau harus berjalan seperti ini" ujar Nadira dengan tubuhnya yang gemetar serta wajahnya yang sudah terlihat sangat pucat.


Nadira berhenti sejenak mengistirahatkan tubuhnya yang sudah mulai lelah.


"Terimakasih ayah, bunda aku sayang kalian" terdengar oleh Nadira seorang anak kecil berterimakasih kepada ayah dan bundanya


Nadira menoleh ke arah belakang untuk melihatnya, ternyata seorang ibu dan ayah memberikan sebuah boneka untuk anak tercintanya, dia melihat keluarga yang begitu harmonis ketika sang ayah menggendong anaknya dengan Tangan kiri sedangkan tangan kanannya menggandeng tangan istrinya seperti tidak merasakan kerepotan sedikitpun, laki laki itu tampak begitu mencintai istri dan anaknya, membuat Nadira iri ketika melihatnya.


"Ya Allah, kenapa kelurgaku tidak seharmonis mereka, aku ingin mempunyai seorang suami yang seperti bapak itu, dia terlihat begitu menyayangi istri dan anaknya, beruntung wanita itu yang Allah" batin Nadira


Melihat kelucuan anak perempuan itu Nadira jadi mengingat kedua anaknya, dia merasa bersalah karena tidak bisa menjemput mereka ketika mereka pulang sekolah.


"Tadi Ilham sama Sifa di jemput siapa ya? Kok aku jadi khawatir gini, aku harus telpon mereka" ujar Nadira mencoba mengambil ponselnya di dalam tas.


Nadira duduk disebuah bes besar di pinggir jalan raya untuk menelpon anak anaknya sembari mengistirahatkan tubuhnya.


...Tuuuuuutt...


...Tuuuuuutt...


...Tuuuuuutt...


...Suara panggilan yang belum di angkat...

__ADS_1


πŸ“žHallo bunda" ujar Ilhaam mengangkat telpon


πŸ“žHallo sayang, anak anak bunda lagi apa?" Tanya Nadira yang sangat mengkhawatirkan mereka


πŸ“žKita lagi nonton sambil belajar bunda, bunda lagi dimana sih? Bunda kok belum pulang juga?" Kedua anak pintar itu balik bertanya kepada bundanya


πŸ“žBunda lagi di jalan sayang, maaf ya! Bunda pulangnya telat, tadi pulang sekolah kalian di jemput sama siapa?" Nadira malah balik bertanya lagi kepada mereka


πŸ“žKita di jemput teman ayah bunda, namanya om Riki, tadi ayah nyuruh om Riki jemput kita" jawab Sifa riweh


πŸ“žLoh, kok di jemput om Riki? Memangnya ayah kemana?" Tanya Nadira lagi, Nadira penasaran kenapa bayu tidak menjemput kedua anaknya.


πŸ“žKita gak tau bunda, sampai sekarang ayah juga belum pulang" jawab Ilham


πŸ“žya Allah, Berarti dari tadi kalian berdua dirumah? Kalian sudah makan kan?" Tanya Nadira merasa khawatir dengan kondisi kedua anaknya


πŸ“žSudah bunda, tadi om Riki belikan kita makanan banyak banget, om Riki juga beliin kita mainan, om Riki baik sama kita bunda" jawab kedua anak pintar itu terlihat semringah


πŸ“ž Syukurlah kalau kalian sudah makan, bunda khawatir banget sama kalian, ya sudah, bunda matikan dulu ya telponnya, kalian tunggu bunda, sebentar lagi bunda sampai ko nak" ujar Nadira


"Ya Allah, kemana mas Bayu? Kenapa dia tega membiarkan kedua anakku berdua di rumah, aku harus telpon dia" ujar Nadira cemas


Nadira mencoba mencari nomor Bayu lalu menghubunginya untuk mencari tau keberadaannya.


...Tuuuuuutt...


...Tuuuuuutt...


...Nomor yang anda tuju sedang di alihkan, cobalah beberapa saat lagi...


...Terdengar suara Operator...

__ADS_1


"Ya Allah, kok gak di angkat sih? Aku harus segera pulang, kasian Ilham dan Sifa" ujar Nadira


Nadirapun bangkit dari duduknya berjalan dengan perlahan menyusuri jalan yang gelap sembari mencari angkutan umum yang lewat di daerah situ.


Nadira terus berjalan melangkahkan kakinya dengan penuh semangat agar dia bisa dengan cepat sampai ke sebuah cafe yang sudah tak jauh dari penglihatan.


"Alhamdulillah, itu ada cafe di depan, semoga saja ada taksi" ujar Nadira tersenyum


Kaki yang sudah terasa berat dia langkahkan dengan perlahan, dia benar benar sudah merasa tidak sanggup, tubuhnya sudah terasa gemetar dengan keringat dingin yang bercucuran di sekujur tubuhnya.


Dia berhenti sejenak, meluruskan pinggangnya yang terasa ingin copot sembari melihat ke arah cafe, berharap ada sopir taksi yang mengantarkan penumpang ke cafe itu.


Setelah Nadira melihat lebih dalam.


"Ya Allah, itu kan mas Bayu, ngapainn dia di cafe ini? Benar benar keterlaluan, aku harus samperin dia" ujar Nadira emosi


Dengan wajah yang penuh kekesalan Nadira berjalan menghampiri bayu, rasa sakitnya seketika hilang karena melihat Bayu dan Elsa sedang bermesraan di cafe itu, Nadira tidak menyangka Bayu bisa setega ini membiarkan kedua anaknya berdua di rumah sedangkan dia malah asyik pacaran bersama perempuan murahan itu.


"Kamu benar benar keterlaluan ya mas, kamu biarkan kedua anak kamu berdua di rumah, sedangkan kamu malah asik pacaran bersama dia, dimana hati kamu mas? apa ga khawatir dengan mereka di rumah?" tanya Nadira dengan nada tinggi.


"Kamu bisa berkata seperti itu terhadap ku sedangkan kamu jam segini masih berada di sini? kamu sehat Nadira?" bayupun berbicara dengan nada tinggi kepada Nadira


"Aku ini pulang dari rumah sakit mas, harusnya kamu tau, kamu perhatikan istri kamu yang sedang sakit ini, bukannya malah keluyuran sama perempuan murahan ini"


"Ehh kamu, kamu itu benar benar tidak laku ya, bisa bisanya kamu dekatin laki laki yang sudah beristri padahal di luar sana masih banyak laki laki yang single, dimana hati nurani kamu elsa? ooohhh iyaaa, aku lupa, perempuan penggoda seperti kamu aku yakin tidak memiliki hati nurani, hati kamu terbuat dari batu, wanita perusak rumah tangga orang" Nadira merendahkan Elsa di hadapan banyak orang sehingga mereka semua tertuju kepada Elsa.


"berisik kamu Nadira,pergi kamu dari cafe ini! kalau kamu tidak mau pergi, biar aku yang akan pergi" ujar Bayu yang benar benar kesal dengan ucapan Nadira


Nadira tidak pergi dari cafe itu, dia hanya diam sembari terus menjatuhkan air matanya.


"Ayo sayang! kita pergi dari tempat ini" Elsa menggandeng tangan Bayu berjalan meninggalkan Nadira

__ADS_1


...bersambung...


...jangan lupa like 🌺...


__ADS_2