30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
Elsa menggadaikan rumah


__ADS_3

Ketika Bayu dan Nadira sudah bisa berdamai, Elsa yang membawa kabur surat kepemilikan rumah pun merasa dirinya sudah berhasil, meskipun sekarang dia sudah berpisah dengan Bayu tapi hidupnya merasa tenang dan damai, dia tidak takut hidup miskin lagi karena dia sudah memiliki surat surat penting itu, sekarang dia tinggal menyusun rencana untuk kehidupannya dan mencari cara  untuk menghancurkan Nadira dan Bayu yang sudah mempermainkan hidup dan perasaannya.


"Apa rencana kamu sekarang Elsa? Kamu mau apakan surat surat penting itu?" Tanya Bu Lidya kepada Elsa yang sedang sibuk membaca berkas berkas itu.


"Aku punya rencana mau jual rumah ini ma, menurut mama gimana?" Elsa balik bertanya kepada mamanya. Elsa berniat untuk menjual rumah itu agar uangnya bisa dia pakai untuk buka usaha dan bersenang senang tapi itu hanya keinginannya saja, semua itu belum jelas karena apa yang Elsa inginkan semuanya tidak mudah.


"Dijual?" Bu Lidya kaget mendengar perkataan anaknya itu. 


"Iya mah, memangnya kenapa? Lumayan kan kalau kita jual rumah itu, kita akan mendapatkan uang yang banyak, kita bisa shoping ma, beli perhiasan yang banyak buat kita pamerin ke teman teman arisan mama" jawab Elsa tersenyum. Elsa terus mengandai andai, dia merasa sangat beruntung sekali dengan apa yang dia dapatkan saat ini, karena sebelumnya dia tidak pernah mendapatkan harta yang banyak secara gratis seperti ini.


"Iya Elsa, tapi apa mungkin bisa kita jual rumah itu? mama gak yakin ah" tanya Bu Lidya lagi. Bu Lidya sepertinya tidak yakin dengan keinginan anaknya itu karena yang dia tau jual menjual itu tidak semudah yang dibayangkan apalagi itu adalah barang milik orang lain.


"Kenapa ma? Berkas berkasnya kan ada ditanganku, aku tinggal kasih ke pembelinya, beres!" Jawab Elsa. Elsa sepertinya menganggap remeh masalah seperti ini, padahal Bu Lidya sudah tau dengan jelas bahwa jual menjual seperti ini itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


"Tidak segampang itu Elsa, kamu kan cuma pegang surat surat rumah saja sedangkan rumahnya masih dihuni orang lain, jadi siapa yang mau percaya, orang yang mau beli tidak akan gegabah" ujar Bu Lidya. Bu Lidya mulai berfikir sejenak, dia menatap anaknya itu dengan serius dia mencoba mencari cara yang lain agar bisa mendapatkan uang dengan berkas berkas itu tanpa repot repot menjualnya. "Sa, kita gadaikan saja rumah itu, gimana?" Tanya Bu Lidya mencoba meminta pendapat Elsa.


"Digadai? Memangnya bisa?" Tanya Elsa. Elsa sebenarnya tidak mengerti dengan cara gadai menggadai tapi dia percayakan saja semuanya kepada sang mama, yang penting dia bisa mendapatkan uang untuk bekal masa depan dia dan anaknya. "Terserah mama saja lah, yang penting kita bisa mendapatkan uang, aku percayakan semuanya sama mama" ujar Elsa tersenyum


"Oke, nanti mama akan coba hubungi teman mama" 


"Sekarang aja ma! biar kita bisa cepat dapat duit, gak kebayang kalau rumah itu di sita, Nadira sama mas Bayu pasti nangis Bombay. Haha" ujar Elsa lagi. Elsa sudah tidak sabar ingin menggadaikan rumah itu agar Nadira dan Bayu terusir dari rumah itu.

__ADS_1


"Iya ya Sa, mama jadi gak sabar pengen liat mereka hidup menderita, mereka harus merasakan apa yang kita rasakan, malah mama pengen mereka merasakan yang jauh lebih buruk dari kita" ujar Bu Lidya. Bu Lidya dendam sekali dengan Nadira dan Bayu, dia tidak terima anaknya diperlakukan seperti ini, jadi dia akan berusaha membuat hidup mereka menderita seperti apa yang mereka rasakan saat ini.


Bu Lidya mulai mengambil ponselnya yang dia simpan di meja, dia benar benar akan menelpon temannya untuk menawarkan rumah mewah itu.


Tuuuut


Tuuuuttt


Tuuuuttt


Suara panggilan yang belum diangkat.


"Mudah mudahan aja teman mama srek dengan rumah itu" batin Elsa.


📞 Hallo pak! maaf saya mengganggu waktu kerja bapak" ujar Bu Lidya yang merasa tidak enak.


📞Gak papa Bu, ada perlu apa ya? Apa ibu ada perlu sama istri saya?" Tanya pak Baskoro. 


📞Tidak pak, saya ada perlu sama bapak" 


📞Gimana Bu? Ada perlu apa ya?'' tanya pak Baskoro lagi, dia merasa heran dengan Bu Lidya karena tidak biasanya Bu Lidya seperti ini.

__ADS_1


📞Jadi gini pak, saya mau menawarkan rumah anak saya Elsa, siapa tau saja pak Baskoro berminat" jawab Bu Lidya


📞 Rumah yang mana ya Bu?" 


📞 Rumah besar yang waktu itu bapak antarkan Bu Ajeng, apa bapak masih ingat? Kalau bapak ingin tahu rumahnya biar anak saya yang kirim foto rumahnya sama bapak, gimana?" Bu Lidya balik bertanya kepada pak Handoko. Dia mencoba mengingatkan pak Handoko tentang rumah itu karena memang dia pernah mengantarkan istrinya sewaktu ada acara arisan di rumah itu.


📞 Tidak perlu Bu, saya ingat kok? Kenapa anak ibu mau jual rumah itu? Sayang loh Bu!" Pak Handoko bertanya lagi, dia semakin heran kenapa Elsa mau menjual rumah sebagus dan semewah itu, dia jadi sedikit curiga kepada mereka berdua, tapi dia mencoba menutupi kecurigaannya dia melanjutkan pertanyaannya karena rasa penasarannya Kepada rumah yang selama ini dia idam idamkan itu.


📞 Sebenarnya tidak dijual sih pak, anak saya cuma mau menggadaikan rumah itu untuk beberapa waktu kedepan, anak saya lagi butuh suntikan dana untuk usahanya pak jadi terpaksa dia keluarin itu rumah, anak saya kan rumahnya banyak pak, mungkin dia sudah bosan saja dengan rumah itu" jawab Bu Lidya. Bu Lidya terpaksa berbohong kepada pak Baskoro agar tidak ada keraguan di hatinya, dia tidak mau anaknya terlihat rendah jadi dia berusaha menyanjungnya agar pak Baskoro semakin yakin jika anaknya Elsa adalah orang kaya.


📞Oke, memangnya anak ibu butuh dana berapa?" Tanya pak Baskoro. Dia rupanya tertarik dengan tawaran itu. 


📞 Sebentar pak!" 


📞Baik!''


"Elsa, dia mau rumah itu, kamu butuh uang berapa?" Bisik Bu Lidya di telinga Elsa. Bu Lidya terlihat gembira sekali begitupun Elsa.


 Elsa langsung merebut handphone itu dari tangan mamanya, dia ingin mengobrol langsung dengan pak Baskoro mumpung dia menawarkan dana yang sesuai dengan apa yang dia inginkan.


📞Hallo pak, ini saya Elsa" ujar Elsa tersenyum.

__ADS_1


 Elsa terlihat semangat sekali mengobrol dengan pak Baskoro, rupanya dia sudah tidak sabar ingin meminta dana itu agar dia bisa cepat cepat belanja apapun yang dia mau.


📞Jadi kamu butuh dana berapa Elsa? Biar saya langsung transfer ke rekening kamu sekarang juga" pak Baskoro bertanya dengan serius.


__ADS_2