
"Katanya sih belum mas, katanya besok pagi dia ada janji sama temannya mau fitting baju di butik punya temannya, mudah mudahan aja cepat beres lah mas, aku udah kasian banget sama Ilham dan Sifa, mereka jadi gak keurus" jawab dokter Raisa.
Dokter Raisa Mulai merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu.
"Capek sekali hari ini aku mas, banyak sekali pekerjaanku di rumah sakit, pasien melonjak, kayaknya nanti aku juga gak bisa hadir di acara pernikahan Reza deh mas, soalnya hari itu aku ada jadwal kemoterapi, pasien pasien ku banyak" ujar dokter Raisa yang sedikit kebingungan.
"Kok bisa? Trus gimana? Emang ga bisa cuti dulu sayang?" Tanya Bram lagi. Pak Bram sangat menyayangkan sekali istrinya tidak bisa hadir di acara itu padahal dia sendiri yang paling semangat, dia mengerti istrinya banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan, kemarin dia sempat cuti beberapa waktu jadi pasti dia tidak ada waktu buat libur kerja lagi apalagi jika pasien pasien nya semakin bertambah banyak.
"Gak tau mas, kita liat aja nanti, aku capek! Aku tidur duluan ya mas!?" Jawab dokter Raisa.
Karena badannya yang sudah terasa lelah, Dokter Raisa pun mencoba memejamkan matanya, dia pamit tidur lebih dulu kepada suaminya, sedangkan pak Bram, dia masih sibuk di depan laptopnya. Maklum saja, pak Bram adalah pebisnis yang sangat profesional, dia memiliki cabang bisnis dimana mana jadi tak heran jika dia jarang sekali berada di rumah, dan berkumpul bersama keluarga nya.
Di kamar Nadira.
"Ya Allah, apa benar mereka betah tinggal bersama mas Bayu? Tapi kenapa? Aku tau sendiri mereka benci sama ayahnya, tapi kenapa mereka tiba tiba seperti ini? Ya allah! Aku bahagia sekali jika anak anak bisa bermain, berkumpul bersama ayahnya, tapi aku gimana? rasanya aku gak bisa berpisah dari mereka'' batin Nadira merintih.
__ADS_1
Nadira mulai berfikir sejenak, dia mengingat kembali apa yang membuat kedua anaknya lebih memilih tinggal bersama Bayu padahal Bayu adalah sosok ayah yang begitu sangat mereka benci.
"Aku masih bingung kenapa Ilham dan Syifa lebih memilih tinggal bersama Bayu? Apa mungkin aku yang kurang perhatiin mereka? Ya Allah jika memang benar adanya maka maafkanlah kesalahanku, aku seperti ini karena mereka, aku ingin membuat mereka bahagia" ujar Nadira. Nadira tak kuasa menjatuhkan air matanya. Dia mengingatkan semua kesibukannya selama ini, tapi itu dia lakukan semata mata untuk kedua anaknya, dia ingin melihat kedua anaknya bahagia, dia juga berniat menikah dengan dokter Reza karena dia ingin kedua anaknya tidak kekurangan kasih sayang dari ayah dan bundanya karena Dia yakin dokter Reza bisa memberikan kasih sayang untuk mereka.
"Maafkan bunda nak" ujar Nadira sembari menangis terisak. "Sepertinya besok aku harus bicara sama bi Minah, aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia pasti tahu apa yang Ilham rasakan, Ilham pasti sudah cerita banyak sama bi Minah" ujar Nadira.
Malam semakin larut waktu sudah menunjukkan pukul 24.00, sudah pertengahan malam, ini saatnya untuk dia mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terasa lelah, Nadira merebahkan tubuhnya di atas ranjang, kaki yang terasa pegal dia luruskan dengan penuh kehati hatian. mata yang sudah terasa pedih dia pejamkan dengan perlahan.
..
Elis berjalan melewati lorong demi lorong, dia kembali ke ruangan depan untuk bertemu dengan madam cantik itu, dia ingin bertanya sesuatu kepadanya. Sesampainya di depan Elis melihat sahabatnya Elsa sedang menari, tertawa bersama seorang pria, dia hanya bisa melihatnya dari kejauhan, dia mulai memperhatikan, belajar darinya agar dia bisa mendapatkan pelanggan seperti apa yang dia inginkan.
"Kenapa kamu diam di sini sayang? mana tamu kamu yang tadi? Apa semuanya sukses?" Tanya madam cantik itu yang melihat Elis sedang duduk memperhatikan Elsa. Elis menoleh ke arah madam cantik itu, dia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Kenapa seperti itu? Harusnya malam ini kamu sudah benar-benar sukses Elis!?" Ta tanya madam cantik itu lagi. Madam cantik itu penasaran sekali, dia ingin tahu kenapa
__ADS_1
Elis menggelengkan kepalanya. Dia juga ingin tau berapa banyak bayaran yang pria itu kasih malam ini.
"Dia ninggalin aku madam, aku belum bisa mendapatkan pelanggan yang benar benar mau bayar aku" jawab Elis.
"Ya sudah, gak papa sayang, mungkin belum ada rezeki kamu, sekarang kamu temenin Elsa di depan gyh! Biar kamu bisa dapat pelanggan juga seperti dia, hari ini dia sukses dapat 2 pelanggan sayang, coba kamu gabung sama dia" ujar madam. Madam cantik menyuruh Elis untuk maju ke depan panggung, dia ingin Elis bersosialisasi dengan yang lain agar dia bisa cepat terbawa seperti Elsa. Malam itu madam cantik benar benar untung besar, dia mendapatkan uang dari hasil kerja Elsa yang dibagi dua dengannya, belum lagi dari pekerja pekerja yang lain, membuat dia semakin sukses menjadi ibu madam di tempat hiburan itu.
Karena tergiur dengan uang yang melimpah dan kenikmatan sesaat, Elis pun memberanikan diri untuk maju ke depan, sekarang dia terlihat lebih agresif, dia lebih memberanikan diri untuk tampil mempesona di hadapan tamunya agar mereka terpikat dan mau membelinya malam ini.
"Elis, kamu kemana aja? Kamu udah dapet tamu kan?" Teriak Elsa di telinga sahabatnya itu. Suara musik yang teramat sangat keras membuat Elsa harus berbicara dengan cara berteriak, beda dengan tamu tamunya, dia sudah bisa memberi kode kepada mereka jika memang dia sedang diperlukan.
"Belum sa" jawab Elis. Elis terus berlenggak lenggok di depan panggung itu. Dia memperlihatkan goyangnya yang bisa membuat para Adam tergila gila, sebuah jurus jitu yang banyak jadi incaran para pria.
Madam cantik itu terus saja memperhatikan anak anaknya yang sedang beraksi. Dia hanya bisa mengarahkan para tamu kepada anak anaknya yang mereka sukai, setiap kali dia juga suka melayani pria hidung belang jika dia sedang ingin saja.
"Itu siapa? Apa dia pendatang baru disini? Goyangannya lumayan juga, boleh gak saya pesan dia malam ini" ujar seorang laki laki tua yang melihat Elis bergoyang. Baru saja dia maju ke depan sudah ada laki laki yang melirik, usahanya kali ini benar benar membuahkan hasil.
__ADS_1