
Pagi pun tiba, suara burung terdengar merdu saling bersahutan dari taman belakang, suara si beo yang selalu membangunkan tidurnya setiap pagi.
Ilham pun membuka kedua matanya tatkala si beo berbunyi, dia bangkit dari tidurnya lalu berjalan menghampiri jendela kamarnya untuk melihat lihat keluar.
Pagi itu awan masih terlihat gelap, yang terlihat hanya beberapa bintang menghiasi langit itu. kabut tipis menyelimuti kota dengan semilir angin sejuk yang menyapu setiap jalanan kota itu, terasa segar nan indah dipandang mata. Ilham mulai mengambil alat lukisnya, melukis pemandangan cantik itu dengan segala keahliannya. Pagi itu dia tidak langsung pergi ke kamar mandi karena memang adzan subuh masih tersisa 20 menitan lagi. Dia tidak mau menyia nyiakan waktunya hanya untuk berdiam diri saja, jadi dia lebih baik melukis seperti ini untuk menambah koleksinya yang akan dia promosikan besok ke teman temannya.
"Ayah pasti belum bangun, kebiasaan, kalau gak dibangunin sama aku kan ayah gak bakal bangun cepat cepat" ujar Ilham. Dia masih saja memikirkan ayahnya itu meskipun dia sedang sibuk melukis.
"Den Ilham, Udah bangun ya den? den Ilham ngapain disitu?" Tanya bi Minah yang melihat Ilham sedang sibuk di depan kaca jendelanya.
"Aku lagi melukis pemandangan kota bi, lumayan kan buat nambah koleksi aku" jawab Ilham tersenyum. Anak itu terlihat semangat sekali, membuat bi Minah menggelengkan kepalanya keheranan.
"Anak itu memang aneh, beda sekali dengan ayahnya, sepertinya kelak Ilham akan menjadi anak yang sukses, masih kecil kaya gini aja dia udah tau waktu, ahh' kalau saja den Ilham ini anak bibi, udah pasti bibi bangga sekali den" batin bi Minah.
Bi minah pun bangkit dari tidurnya, dia mulai berjalan ke kamar mandi untuk bersih bersih, baru setelah itu dia melaksanakan sholat subuh.
"Bibi duluan kamar mandi ya den! Aden masih lama kan lukis nya?" Tanya bi Minah.
"Masih lama bi, bibi duluan aja" jawab Ilham yang masih terlihat fokus dengan lukisannya itu.
"Iya den" ujar bi Minah sembari masuk ke dalam kamar mandi.
Ilham dengan lihainya menggerakkan pena itu, satu persatu warna diterapkan hingga pemandangan itu terlihat seperti aslinya.
__ADS_1
"Karyaku yang ini harus benar benar bagus, aku harus bisa menjual lukisan ini agar aku bisa membantu ayah, kasian ayah, dia tidak punya tempat tinggal" ujar Ilham dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Assolatuqoirumminanaum" tiba tiba terdengar suara adzan subuh yang begitu indahnya, ini saatnya untuk para kaum muslimin bangun dari tidurnya dan melaksanakan sholat subuh berjamaah.
"Den, udah nak! Nanti lanjut lagi ya! Kita sholat subuh dulu!" Ujar bi Minah. Bi Minah menyuruh Ilham untuk menyimpan tintanya itu agar dia sholat berjamaah dengannya. Bi Minah menerapkan kedisiplinan agar dia terbiasa dengan ini. Agar suatu saat nanti jika bi Minah tidak lagi bersamanya, Ilham sudah biasa melakukan ini, meninggalkan pekerjaan untuk sholat yang sudah menjadi kewajibannya.
"Iya bi" ujar Ilham tersenyum. Ilham menaruh semua peralatan melukisnya lalu di mulai berjalan ke kamar mandi untuk bersih bersih.
Ketika bi Minah dan Ilham sudah siap untuk melaksanakan sholat subuh, di kamar Nadira, Nadira juga mulai membangunkan dokter Reza yang terlihat masih tertidur lelap. Malam ini dokter Reza tidur nyenyak sekali mungkin karena dia capek melayani tamu seharian, dia sampai lupa dengan malam pertamanya yang memang sudah dia tunggu dari jauh jauh hari, malam itu dia belum sempat menikmati tubuh indah Nadira karena terganggu dengan kehadiran Sifa di kamarnya itu.
"Sayang, bangun, kita sholat subuh berjamaah yuk!" Dengan perlahan Nadira meraih tangan suaminya itu. Tapi dokter Reza masih saja tidur dengan lelap.
"Kok mas Reza gak bangun sih, kasian! Dia pasti kecapekan" ujar Nadira. "Aku duluan aja ah, nanti juga mas Reza nyusul" ujar Nadira. Nadira mulai bangkit dari duduknya. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk bersih bersih.
Ketika Nadira akan turun dari ranjang, Nadira tidak sengaja menabrak meja rias hingga semua make up nya berserakan.
"Awww sakit" teriak Nadira yang terlihat kesakitan dengan benturan itu.
"Sayang, kamu kenapa?'' tanya dokter Reza. Dokter Reza kaget mendengar suara itu, dia pun terbangun dari tidurnya lalu dengan cepat dia menghampiri Nadira yang sedang meringis kesakitan.
"Aku gak sengaja nabrak meja mas, sakit banget" jawab Nadira sembari nyengir menahan kesakitan.
Dokter Reza mulai memeriksa luka di kaki istrinya itu, dia khawatir sekali luka itu besar dan berdarah, tapi setelah dilihat ternyata luka itu hanya luka memar saja, dia hanya mengusap ngusap area yang terbentur itu dengan perlahan serta penuh kasih sayang.
__ADS_1
Kaki Nadira yang terlihat putih itu ternyata membangunkan hasrat dokter tampan itu lagi. Pak dokter dengan sengaja meraba sebuah ladang yang subur di bawah lipatan paha itu, kali ini dia memainkan permainan yang berbeda, dia berusaha mempercepat durasinya agar dia masih bisa melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Tubuh Nadira mulai merasakan tegangan yang berbeda, dia menggelinjang hebat tak kala tangan itu dimainkan. Gesekan demi gesekan terasa begitu nikmatnya setelah satu jari berhasil menancap lobang itu. Suara ******* pun terdengar di telinga membuat hasrat itu semakin menjadi jadi.
"Mas, aaa" Nadira tidak bisa menahan kenikmatan yang sangat luar biasa itu. Tubuhnya spontan beranjak ke sebuah sofa, dia mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk itu.
"hari ini juga aku akan menikmatinya , aku benar benar udah gak tahan" batin Dokter Reza. Dengan cepat dokter Reza membuka satu persatu kain yang menghalangi pemandangan itu. Dia mulai bergerak mendekati t*b*h mulus itu dengan perlahan.
"Ayo mas, mumpung Sifa masih tidur" bisik Nadira di telinga dokter tampan itu.
Karena tak ingin membuang buang waktu, Dokter Reza pun mulai memainkan permainan itu, dia mulai memasukkannya dengan perlahan, membuat Nadira tidak sanggup menahan kenikmatannya.
"Terimakasih sayang, kamu sudah memberikan aku kenikmatan yang sangat luar biasa" bisik dokter Reza ditelinga Nadira. Nadira hanya tersenyum sembari menikmati gesekan demi gesekan itu.
"Sudah lama sekali aku tidak merasakan ini, ya tuhan, inikah rasanya surga dunia, benar benar nikmat sekali" batin Nadira. Nadira memeluk tubuh suaminya itu dengan erat, dia terus berbisik mesra di telinga sang dokter membuat sang dokter tidak tahan ingin segera memuntahkan sesuatu.
"Mas, aaa" bisik Nadira ketika sang dokter mempercepat ritme permainan.
"Sedikit lagi sayang" ujarnya sembari tersenyum.
"Ayo sayang" dia menggelinjang hebat tak kala hasratnya mulai memuncak, tangannya memegangi rambut dikepala sang dokter dengan kuat.
Lalu.
__ADS_1
Brakk
Tubuhnya terbaring lemas dengan keringat yang bercucuran dari segala arah.