
Hari semakin siang, waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 Ilham yang kebetulan hari ini mendapatkan pelajaran tambahan dia keluar dari ruang kelasnya, ilham langsung berjalan menuju ruangan kantor untuk menemui Sifa, tadi dia menitipkan Sifa di ruangan kantor bersama wali kelasnya dan sekarang waktunya dia untuk mengajak adiknya itu untuk pulang karena memang kelas tambahan nya sudah selesai.
2 bulan berlalu semenjak Nadira pergi meninggalkan Ilham, Ilham tumbuh menjadi anak yang mandiri dan pintar, dia mendapatkan ranking pertama di kelasnya seperti apa yang Nadira inginkan, dia juga mendapatkan gelar anak teladan di kelasnya karena sifatnya yang baik dan santun, membuat para guru sangat menyukainya sehingga mereka berat melepas Ilham.
"Assalamualaikum Bu" ujar Ilham masuk ke dalam ruangan kantor dengan mengucap salam.
"Waalaikumsalam, eeeehh nak Ilham! Sudah selesai pelajaran tambahan nya?" Tanya wali kelas Sifa
"Alhamdulillah sudah Bu" jawab Ilham tersenyum
Dengan sopan, Ilham menghampiri wali kelas Sifa lalu mencium tangan Bu guru cantik itu dengan penuh hormat.
"Oh Alhamdulillah, ibu senang dengarnya, kalau semuanya sudah selesai, sekarang kalian pulang ya! Dokter Raisa pasti sudah menunggu kalian di rumah, hati hati dijalan ya sayang sayang ibu" ujar Bu guru sifa, sebut saja Bu guru Teti, dia tersenyum sembari mengelus pundak mereka
"Iya Bu, terimakasih, kalau begitu kita pamit pulang dulu ya, assalamualaikum" ujar Ilham mengucap salam lalu pergi meninggalkan ruangan itu
"Waalaikumsalam nak" ujar bu guru tersenyum sembari melambaikan tangannya.
Bu guru cantik itu mengantarkan ilham dan Sifa hingga depan kantor, Bu guru terus memperhatikan kedua anak pintar itu hingga mereka sampai ke depan, dia tidak akan pergi sebelum Ilham dan Sifa masuk ke dalam mobil jemputan, karena dia takut Ilham dan Sifa pulang dengan orang yang tidak dikenalnya apalagi mereka dibawa oleh ayahnya, Bayu, Bu guru Teti tidak mau sampai itu terjadi karena memang dia sudah dititipi kedua anak pintar itu oleh dokter Raisa..
"Sifa, Ilham, ayo masuk!" Teriak bi Minah yang sedari tadi sudah menunggu mereka.
Mendengar teriakkan itu, Ilham dan Sifa tersenyum, mereka langsung masuk ke dalam mobil itu lalu duduk bersantai di kursi belakang, mereka tidak sabar ingin segera sampai di rumah karena mereka ingin segera bertemu dengan dokter Raisa, seorang ibu pengganti yang selalu memberikan kenyamanan dan hiburan untuk mereka disaat bundanya jauh dari mereka.
"Pak Karyo, yang cepat ya nyetirnya, soalnya Bu dokter cantik pasti udah nungguin kita" ujar Sifa menepuk pundak pak Karyo dari belakang
__ADS_1
"Baik non" ujar pak Karyo tersenyum
Pak Karyo pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia menuruti semua keinginan Sifa karena memang benar, dokter Raisa sudah menunggu anak itu sedari tadi, seperti biasa, pulang sekolah, Sifa selalu bermain dan belajar bersama Bu dokter cantik yang sangat menyayanginya itu, itu seakan sudah menjadi kebiasaan, Bu dokter Raisa menjadikan ini sebagai kewajibannya mengurus dan memperhatikan mereka di tengah jadwalnya yang sangat padat.
"Sifa, Ilham, bibi punya kabar bahagia buat kalian" ujar bi Minah tersenyum
"Waaaaaahhh! Apa bi? Ayo cerita?" Tanya ilham penasaran
"Tadi pas bibi mau jemput kalian bibi denger kalau Bu dokter cantik lagi telponan sama bunda kalian" jawab bi Minah tersenyum menoleh ke belakang
"Apa bi? Bunda telepon dokter Raisa? Apa katanya? Apa bunda akan segera jemput kita?" Ilham terus bertanya kepada bi minah
"Iya, bunda kalian pasti secepatnya jemput kalian" jawab bi Minah menoleh ke arah belakang
Mendengar perkataan Bi Minah, Ilham benar benar sangat bahagia, air matanya tiba tiba jatuh tak tertahankan karena ini adalah kabar yang selama ini dia tunggu tunggu, Ilham sangat bersyukur akhirnya doa dia selama ini dikabulkan oleh sang pencipta.
"Kakak gak tau harus ngomong apa de, yang pasti kakak senang banget, kakak bersyukur akhirnya Allah menyembuhkan penyakit bunda, sebentar lagi bunda akan jemput kita" ujar Ilham kepada adiknya itu.
"Iya ka, Sifa juga senang banget" ujar Sifa tersenyum
Sifa terlihat bersemangat, dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan bundanya.
"Bibi juga ikut bahagia denger bunda kalian bisa sehat lagi, semoga Bu Nadira bisa cepat cepat kembali ke Indonesia ya!" ujar bi Minah
"Amiiiinnn, terimakasih ya bi, oh iya!? bibi tadi denger gak kapan bunda jemput kita?" Tanya ilham penasaran
__ADS_1
"Bibi denger denger sih lusa, tapi gak tau benar atau enggaknya, nanti deh bibi tanyain lagi sama Bu dokter" jawab bi Minah
"Iya bi" ujar Ilham
Mendengar kabar bahagia itu, hati Ilham terasa jauh lebih tenang, rasa khawatirnya selama ini seakan hilang ketika mendengar kabar baik dari bundanya itu, wajahnya yang selalu murung kini berubah ceria, seperti sudah tak ada beban sama sekali tidak seperti pada awal dia ditinggalkan oleh bundanya.
Perjalanan dari sekolah Ilham menuju rumah dokter Raisa tidaklah jauh, hanya memerlukan waktu 30 menit saja, hingga akhirnya mereka pun sampai di rumah yang sangat mewah itu.
"Sifa, Ilham, jangan turun dulu ya nak! Bibi mau bicara sesuatu sama kalian" ujar bi Minah menoleh ke arah belakang.
BI Minah berganti posisi dia berbalik badan agar kedua anak pintar itu mendengar apa yang akan dia bicarakan.
"Bibi mau ngomong apa?" Tanya Ilham penasaran
"Gini nak, masalah bunda Ilham, bibi minta tolong sama Ilham sama Sifa juga ya!, kalian jangan ngomong apa apa dulu ya, sama Bu dokter, Ilham sama Sifa kan sudah tau kalau bunda sudah sehat, jadi gak usah nanya nanya lagi sama Bu dokter, kalau kalian mau tanya sesuatu, kalian tanya aja sama bibi" jawab bi Minah tersenyum
"Memangnya kenapa kita gak boleh nanyain bunda Sama Bu dokter?" Tanya Sifa
"Soalnya bibi kasihan sama Bu dokter, Bu dokter itu kan banyak sekali pekerjaan nya sayang, pasti Bu dokter capek seharian ngurusin pasien nya, jadi Sifa sama Ilham gak usah nanya nanya sama Bu dokter ya! Nanyanya sama bibi aja, kalian ngerti kan maksud bibi?'' bi Minah balik bertanya kepada kedua anak itu.
BI Minah ketakutan sekali kedua anak pintar itu bertanya kepada Bu dokter masalah bundanya yang akan pulang dekat dekat ini karena BI Minah tau dokter Raisa sangat takut kehilangan mereka, bi Minah tadi gak sengaja mendengar percakapan pak Bram dan dokter Raisa, tadinya Bi minah juga tidak ingin memberitahu masalah ini kepada kedua anak itu, tapi kalau tidak dikasih tau, bi Minah kasihan kepada Ilham yang terus mengkhawatirkan bundanya, bi Minah benar benar sangat kebingungan, dia tidak tau harus memihak yang mana, Ilham Nadira, atau Ilham dokter Raisa.
Itu benar benar pilihan yang sulit baginya.
...bersambung...
__ADS_1
...jangan lupa like, comen n votenya ya!...