30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
ragu


__ADS_3

"Saya ingin 2M pak" jawab Elsa dengan cepat. Dia tidak memikirkan nominal yang dia sebutkan karena memang dia hanya ingin uang itu saja tak perduli berapa banyak uang yang dikeluarkan dari penggadaian rumah itu.


"2M? kamu yakin 2M? Buat apa uang sebesar itu elsa? Bukannya suami kamu seorang pengusaha? Kenapa kamu tidak minta uang itu ke suami kamu? Apa suami kamu tau kamu akan menggadaikan rumah itu?" Pak baskoro terus saja bertanya kepada Elsa. Dia kaget ketika elsa menyebutkan nominal uang itu, dia juga baru ingat kalau suaminya adalah pengusaha, jadi menurut pak baskoro tidak mungkin elsa membutuhkan suntikan dana sebesar itu padahal suaminya sendiri adalah pengusaha sukses dan kaya raya.


"Maaf pak, itu rumah saya, jadi saya bebas mau menjual atau menggadaikan rumah itu, rumah saya kan banyak, pak baskoro, suami saya itu memang pengusaha sukses tapi saya tidak mau merepotkan suami saya dengan usaha ini" jawab elsa yang sedikit kesal. Elsa lagi lagi harus berbohong, padahal sebenarnya dia sudah berpisah dengan Bayu.


"Oke, ternyata kamu tipikel perempuan yang mandiri ya? Saya senang dengan perempuan seperti kamu" ujar pak Baskoro. Pak Baskoro sebenarnya masih menyimpan keraguan, tapi dia mencoba menyembunyikannya lagi, kali ini dia tidak ingin mencari tahu lewat Elsa dan mamanya tapi dia akan mencoba terjun ke lapangan, dia akan bertemu dengan suami dari Elsa terlebih dahulu baru setelah itu dia akan mentransfer uang itu jika memang semuanya benar.


"Jadi gimana pak? Bapak mau ambil atau tidak? Biar semuanya jelas!" Tanya Elsa lagi.


"Baik Elsa, saya akan ambil rumah itu! Tapi saya transfer uangnya nanti ya! soalnya saya harus cepat cepat pergi meeting, nanti saya hubungi kamu lagi!" Jawab pak Baskoro. pak Baskoro terpaksa berbohong kepada Elsa, dia berusaha mencari alasan agar Elsa mau menunggu uang itu darinya sampai dia bertemu dengan Bayu.


"Oke pak, saya tunggu transferannya!" Ujar Elsa. Elsa langsung mematikan teleponnya itu lalu melemparnya ke atas kursi yang sedang diduduki Bu Lidya.


"Ya ampun sa, kamu ini" ujar Bu Lidya kepada anaknya yang ceroboh itu.


"Asiiiikkk mah, sebentar lagi kita punya uang banyak" ujar Elsa kepada mamanya. "Nanti kita mau beli apa ya mah? Coba mama mau beli apa?" Saking senangnya Elsa melompat lompat seperti anak kecil di hadapan Bu lidya, rupanya lamunannya sudah mengalahkan alam bawah sadarnya.

__ADS_1


"Pak Baskoro jadi gadai rumah kamu sa?" Tanya Bu Lidya penasaran.


"Iya ma, nanti dia mau langsung transfer uangnya ke rekening aku" jawab Elsa tersenyum. 


"Semudah itu sa? Tadi pak Baskoro ngomong apa sama kamu, dia gak nanya apa apa kan?" Bu Lidya terus bertanya kepada anak semata wayangnya itu, dia ingin tahu sekali kenapa pak Baskoro bisa semudah itu mau menggadai rumah itu tanpa melihat keadaannya terlebih dahulu.


"Mama kenapa sih kok nanya nanya kaya gitu? Mama ragu?" Elsa balik bertanya kepada Bu Lidya.


"Mama aneh aja, kok bisa gitu pak Baskoro mau transfer uang sama kamu, padahal kan kita cuma nawarin gitu aja, kita gak ngobrol langsung sama dia atau bawa dia ke rumah yang akan digadaikan itu, kok dia bisa percaya banget sama kita  ya Elsa padahal itu uangnya gak sedikit loh" jawab Bu Lidya yang mencoba menjelaskan rasa keheranannya. Bu Lidya merasa baginya ini tidak masuk akal.


"Ya bagus dong mah kalau dia percaya sama kita, pak Baskoro kan taunya aku masih istri mas Bayu, uang segitu sedikit lah mah buat aku, biasanya juga aku shopping menghabiskan uang lebih dari segitu" ujar Elsa. 


Elsa dan Bu Lidya pun terus berbincang membicarakan rencana mereka setelah mendapatkan uang itu sedangkan di tempat lain pak Baskoro yang akan menggadai rumah itu masih belum yakin dengan keputusannya, dia memang sangat menginginkan rumah itu tapi dia takut Elsa membohonginya, dan untuk meyakinkan hatinya pagi itu juga Bayu mendatangi rumah itu untuk bertemu langsung dengan Elsa dan suaminya Bayu.


Di rumah pak Baskoro


"Mah' hari ini papa mau kerumah anak Bu Lidya, jadi kalau ada orang yang nanyain papa bilang aja papa lagi ada urusan" ujar pak Baskoro kepada istrinya yang masih berbaring di tempat tidur.

__ADS_1


"Memangnya Papa ada perlu apa sama anak Lidya? Aku jadi curiga deh, jangan jangan diam diam papa mau ketemu Lidya lagi bukan anaknya" tanya Bu Ajeng. Bu Ajeng rupanya curiga kepada suaminya, dia mengira pak Baskoro ada hubungan gelap dengan Bu Lidya padahal sebenarnya mereka hanya ada ikatan bisnis, maklum saja, pak Baskoro suka sekali main perempuan jadi Bu Ajeng selalu curiga dengan apa yang dilakukan suaminya, urusan apapun itu.


"Gak lah mah! Papa lagi ada bisnis sama Elsa, nanti juga mama tau" jawab pak Baskoro. Karena tak ingin mendengar omongan istrinya yang selalu cerewet pak Baskoro pun bergegas meninggalkan istrinya itu. Dia berjalan menuju mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah mewah itu.


perjalanan dari rumah pak Baskoro menuju rumah itu lumayan jauh, dia harus menempuh waktu perjalanan 1 jam untuk bisa sampai ke sana.


di rumah Bayu


"Assalamualaikum ayah" si kecil Sifa berlari setelah melihat Bayu berdiri di depan pintu rumah.


"Sifa anak ayah" Bayu membukakan tangannya menyambut anak kesayangannya itu dengan pelukan. dia memeluk Sifa dengan erat untuk mencurahkan rasa rindunya selama ini.


Sementara itu Ilham dan Nadira berjalan perlahan menghampiri mereka, dia hanya bisa tersenyum menyembunyikan kesedihannya, perasaannya juga sangat hancur melihat Sifa yang terlihat sangat merindukan ayahnya padahal sebenarnya ayahnya sudah menyakiti dia dan menghancurkan keluarganya.


"Ka Ilham, sini! kita main sama ayah" teriak Sifa memanggil Ilham. Sifa terlihat gembira sekali bisa bertemu dengan ayahnya. sedangkan Ilham dia terlihat biasa biasa saja, Ilham diam tanpa sepatah kata apapun, malah dia memalingkan wajahnya, dia tidak mampu menatap wajah sang ayah yang sudah berani menyakiti bundanya itu.


"Ka Ilham main gyh sama adik sama ayah!" ujar Nadira tersenyum. Nadira mengedipkan matanya sebagai kode kepada anaknya itu, tapi ilham tetap tidak mau, dia malah memasang wajah cemberut di hadapan Bayu dan adiknya.

__ADS_1


"Ka Ilham kenapa?" tanya Sifa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Gak papa'' jawab ilham singkat.


__ADS_2