30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
berkunjung ke rumah dokter Raisa


__ADS_3

"Ayah sama bunda kok gak pakai baju lagi? Pasti lagi olahraga? Aku ke kamar kakak aja ah!" Batin Sifa. Melihat bundanya yang hampir telanjang bulat, sifa pun bangkit dari duduknya, dia berjalan ke kamar kakaknya melewati Nadira dan Reza yang masih tergeletak lemas.


Cleeeekk


Pintu kamar itu dibuka oleh Sifa, lalu ditutup kembali. Saking lemasnya Nadira tidak menyadari anak itu berjalan melewatinya di sofa, dia hanya mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka.


Deg.


Nadira kaget mendengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.


"Ya ampuuun, siapa yang buka pintu kamar? Pasti semalam mas Reza lupa kunci pintu kamar" dengan cepat Nadira bangkit dari tidurnya lalu melihat ke arah pintu kamar itu.


Dia menghela nafas panjang lalu membuangnya kembali sembari mengelus dadanya. "Alhamdulillah, aku kira ada yang buka pintu kamar, ternyata cuma perasaan aku saja" batin Nadira. Nadira merasa lega karena ternyata tak ada yang membuka pintu kamarnya sama sekali, dia tidak menyadari kalau Sifa sudah tidak berada di kamar itu lagi, dia hanya berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu melaksanakan sholat subuh.


Di kamar Ilham.


"Ka.." teriak Sifa. Sifa membuka pintu kamar Ilham dengan rambut yang masih terlihat acak acakan. 


"Eehhhh, Non Sifa sudah bangun!, Sini non! Duduk sama bibi disini!" Ujar bi Minah. 


"De, kamu belum mandi?" Tanya Ilham yang melihat adiknya masih acak acakan.


"Belum ka, kakak lagi apa? Memangnya Kakak udah mandi?" Sifa malah balik bertanya kepada Kakaknya. Sifa terlihat masih ngantuk sekali, dia duduk di tempat tidur kakaknya dengan tubuh yang terlihat lemas. 

__ADS_1


"Kakak udah mandi, udah sholat, kamu pasti belum ya dek? Kelihatan banget, rambut kamu masih Acak acakan kaya sarang lebah" Ilham mulai meledek adiknya itu sembari tersenyum. Dia senang sekali menggoda adik kesayangannya itu.


"Huuus! Meskipun rambutnya acak acakan juga non Sifa mah udah terlihat cantik den, lucu lagi, bibi jadi gemes" ujar bi Minah sembari menoleh ke arah Ilham. Ilham hanya tersenyum tipis. Dia masih saja sibuk mengurusi lukisannya sedangkan Sifa, dia masih duduk melamun dengan menghadap ke arah kakaknya.


"Kakak lagi ngelukis?" Tanya Sifa.


"Seperti apa yang kamu lihat adik cantik, ayo mandi! Nanti kan kita mau ikut ke kampung bibi, kamu mau ikut gak?" Tanya Ilham tersenyum. Ilham menoleh ke arah arah bi Minah, dia berpura pura akan pergi ke rumah bi Minah agar sifa cepat cepat mandi, Ilham rasanya geli sekali melihat adiknya yang masih terlihat kucel seperti itu.


"Beneran ka?" Tanya Sifa. Wajah cantik itu berubah segar setelah mendengar mereka mau pergi ke kampung bi Minah. Sifa langsung bangkit dari duduknya berjalan mengambil handuk.


"Bener dek, ayo cepat cepat mandi, nanti ketinggalan loh!" Ujar Ilham tersenyum. 


"Santai aja ka, bunda juga belum mandi kok, bunda sama ayah masih olahraga" ujar Sifa. Sifa dengan polosnya berkata seperti itu di hadapan bi Minah dan kakaknya. Membuat Ilham dan bi Minah saling bertatapan, bi Minah tersenyum ke arah Ilham tapi Ilham hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud adiknya itu.


Sifa bergegas masuk ke kamar mandi karena tidak mau ketinggalan oleh kakaknya dan bi Minah.


"Bibi gak tau den, udah gak usah dipikirin, sekarang Aden beresin aja lukisannya, bibi mau ke dapur dulu'' jawab bi Minah. Bi Minah pura pura tidak tau dengan apa yang dilakukan dokter Reza dan bundanya, dia berharap Ilham tidak ingin mengetahuinya dan dia tidak boleh mengetahuinya. Jadi dia menyuruh Ilham untuk membereskan karya karyanya.


"Bibi mau ngapain ke dapur?" Tanya Ilham.


"Bibi mau bikin sarapan den, sekalian beres beres rumah" jawab bi Minah. Bi Minah mulai beranjak dari duduknya tapi dihentikan oleh anak ganteng itu.


"Jangan bi, ngapain bibi ikut bersih bersih, kan udah ada yang ngerjain, mumpung bibi disini bibi istirahat yang cukup, capek bi kerja terus!" Ujar Ilham. Ilham tidak mau bi Minah ikut membereskan rumahnya. Dia ingin ibu tua itu mengistirahatkan tubuhnya sejenak, dia tidak tega melihat bi Minah terus bekerja seperti ini apalagi di usianya yang sudah tidak muda lagi.

__ADS_1


"Bibi gak enak diem terus kaya gini den, bibi udah biasa kerja, kalau badan bibi gak digerakin rasanya sakit'' ujar bi Minah.


"Kok bisa bi?" Tanya Ilham lagi.


"Bisa den, soalnya bibi kan sudah biasa kerja dari kecil jadi kalau bibi diem nanti badan bibi jadi sakit, sekarang bibi kebawah ya! Bibi mau masak yang enak buat Aden sama non sifa" jawab bi Minah tersenyum. Bi Minah mulai beranjak dari kamar itu, dia tidak menghiraukan Ilham karena dia merasa tidak enak jika berdiam diri seperti ini.


"Aku bantuin bibi ya!?" Ilham pun berlari mengejar bi Minah ke ruang bawah, pagi ini dia benar benar ingin membantu ibu tua itu, sekalian dia ingin belajar memasak darinya, dia ingin bisa memasak sendiri agar nanti jika dia lapar dia tidak lagi menyusahkan orang lain.


"Aden mau bantuin bibi?" Tanya bi Minah. 


"Iya bi, sekalian aku mau belajar masak sama bibi" jawab Ilham tersenyum.


Mereka Pun berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan. Bi Minah yang memasaknya, sedangkan Ilham, dia yang membantu memotong motong sayuran untuk bahan masakan itu sendiri. Mereka terlihat kompak sekali seperti ibu dan anak. Entah kenapa Ilham merasa nyaman jika berada di dekat ibu tua itu, bahkan Ilham sudah menganggap dia seperti ibu kandungnya sendiri, Ilham berani mengungkapkan isi hatinya kepada bi Minah yang jelas jelas bukan ibu kandungnya sedangkan kepada ibu kandungnya sendiri dia tidak berani seperti ini. 


"Cieee anak bunda, pinter banget sih nak! Bunda bangga sekali sama kamu" ujar Nadira yang baru saja turun dari kamarnya. Pagi itu Nadira ingin membuatkan sarapan untuk keluarganya tapi tidak jadi karena keduluan oleh bi Minah dan Ilham yang sudah berada di dapur. 


"Mau minta bantuan bunda gak?" Tanya Nadira kepada anak cikalnya itu, dia tersenyum sembari mengelus kepala Ilham yang sedang sibuk mengiris bawang.


"Jangan bunda! Bunda duduk aja, mulai sekarang di rumah ini Ilham kokinya, jadi bunda duduk aja" jawab Ilham tersenyum.


"Memangnya anak bunda udah bisa masak?" Tanya Nadira. 


"Belum" jawab Ilham nyengir. 

__ADS_1


"Yey, ada ada aja kamu nak, mau jadi koki tapi gak bisa masak, ilham .. Ilham..!" Ujar Nadira.


Mereka Pun tertawa karena tingkah lucu Ilham, kini kebahagiaan Nadira terasa komplit dengan kehadiran dokter Reza dan bi Minah di rumah itu, Nadira jadi merasa punya ibu baru. 


__ADS_2