
Hari ini ayah yang antar kalian ke sekolah ya" ujar Bayu tersenyum
Semenjak Nadira memberikan persyaratan itu kepada Bayu, Bayu jadi ada waktu untuk sekedar mengobrol dan sarapan bersama kedua anaknya. Biasanya dia tidak pernah ada waktu untuk kedua anaknya karena jadwal pekerjaannya yg sangat padat, kini Bayu baru merasakan bagaimana rasanya dekat dengan mereka, dan dia merasakan kenyamanan, hatinya sperti terketuk, sikap cueknya seakan hilang, kini Bayu berubah menjadi seorang ayah yang sangat penyayang.
"Horeee, hari ini kita berangkat bareng ayah ka" ujar Sifa tersenyum bahagia.
"Iya de"
Mereka berdua tampak bahagia, mereka sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah, apalagi kalau yang mengantarkannya itu seorang ayah yang baik dan keren.
Dengan penuh semangat mereka masuk ke dalam mobil Bayu, tawa canda tampak terlihat dari wajah manis mereka.
"Kita berangkat dulu ya bunda" teriak Ilham dari dalam mobil Bayu
"Iya sayang, hati hati" ujar Nadira tersenyum melambaikan tangannya.
"Assalamualaikum bunda" ujar kedua anak anak pintar itu
"Waalaikumsalam" jawab Nadira.
"Bahagianya aku melihat mas Bayu bisa sedekat ini sama Ilham dan Sifa, semoga akan selamanya seperti ini ya Allah" batin nadira
Nadira tersenyum bahagia, dia berharap ketika nanti dia pergi, mereka akan terus seperti ini, Nadira ingin melihat Ilham dan sifa bisa terus tersenyum bahagia meskipun dia tidak ada disamping mereka
dengan terburu buru Nadira masuk ke dalam rumahnya untuk membereskan dapur yang masih berantakan, dia hanya punya waktu 5 menit saja karena sebentar lagi dia harus pergi ke rumah sakit.
"Ini jam berapa ya?"
Nadira menengok ke arah jam, ternyata sudah menunjukkan pukul 06.30. dia harus buru buru pergi ke rumah sakit, untuk melakukan kemoterpi, karena kalau telat sedikit, dia akan menunggu antrean panjang.
Nadira mengambil ponselnya untuk memesan taksi online.
Zaman yang sudah canggih, membuat Nadira tidak perlu repot menelpon.
__ADS_1
20 menit kemudian, taksi itu datang dan berhenti di depan rumah Nadira.
"Bu Nadira?'' supir itu menunjuk ke arah Nadira
"Iya pak, ke rumah sakit ya pak!" Ujar Nadira. Dia langsung masuk ke dalam taksi berwarna putih itu.
"Baik Bu"
Supir taksi itupun menghidupkan mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.
perjalanan dari rumah menuju rumah sakit memerlukan waktu sekitar 30 menit, butuh kesabaran extra untuknya menunggu di dalam taksi yang dingin sembari menahan kesakitan yang sedang dia rasakan saat ini.
30 menit kemudian
"Sudah sampai Bu" ujar supir taksi itu berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit
Nadira menoleh ke arah taksi itu dengan wajah yang sudah pucat.
Nadira turun dari taksi itu dengan tubuh gemetar, dia merasa sangat lemas, keringat dinginpun bercucuran dari pori pori tubuhnya karena menahan rasa sakit yang menyiksa di bagian perut bawahnya.
"Tolong suster" Teriak Nadira memanggil perawat berharap mereka mau membantu nya.
Keadaan Nadira saat ini sangat mengkhawatirkan, tadinya dia tidak mau ikut kemoterapi karena memang dokter sudah memvonis kalau dia tidak akan hidup lebih lama, tapi ternyata tidak bisa, Nadira terpaksa harus tetap melakukan kemoterpi itu untuk meringankan penyakit yang dideritanya.
"Antarkan saya ke ruangan dokter raisa sus" ujar Nadira kepada suster yang membantunya
"Baik Bu" ujar suster.
suster cantik itu mendorong Nadira menggunakan kursi roda menuju ruangan dokter raisa.
Ketika Nadira sedang berjuang dengan sel kanker yang menggerogoti tubuhnya, Bayu yang tidak mengetahui hal itu dia bersantai menemani Sifa di halaman sekolah sembari tertawa lepas seperti tak ada beban sama sekali.
"Sebentar lagi Ayah mau pergi ke kantor ya?" Tanya Sifa kepada Bayu yang sejak tadi menemaninya duduk di taman bermain.
__ADS_1
"Iya sayang, nanti kalau Sifa masuk kelas, ayah langsung berangkat ya!, Soalnya ayah ada meeting di kantor" jawab Bayu mengelus kepalanya dengan lembut
"Nanti kita pulang sama siapa ayah?" Tanya Sifa lagi
"Nanti bunda yang jemput ya, maaf ayah gak bisa jemput Sifa, soalnya ayah pulangnya agak sore" jawab Bayu tersenyum
"Iya ga pp ayah"
"Ya sudah, Sifa masuk kelas ya!, ayah mau berangkat sekarang soalnya, takut keburu siang'' ujar Bayu
"Iya ayah''
''Semangat'' Bayu tersenyum memberikan semangat untuk Sifa, dia mencium kening Sifa lalu mengantarkan Sifa masuk ke dalam kelas.
sangat berat rasanya untuk Bayu meninggalkan kedua anaknya saat ini, ingin sekali dia menemani mereka hingga pulang nanti, tapi dia tidak bisa, karena banyak sekali pekerjaan yang harus dia kerjakan di kantor.
...🌹 keadaan di rumah sakit🌹...
Nadira keluar dari ruangan dokter raisa dengan wajah yang sangat pucat, sekarang kondisinya membaik karena pengaruh obat yang dokter raisa berikan ketika kemoterpi tadi, hanya saja dia sedikit lemas, dia juga merasakan mual yang sangat luar biasa.
''Terimakasih dokter'' ujar Nadira tersenyum
perasaan Nadira saat ini sangat ketakutan, rasanya dia tidak sanggup melewati semua ini seorang diri.
''No urut selanjutnya'' Teriak suster dari ruangan Bu Raisa.
Nadira melihat banyak sekali orang yang mengantri duduk di depan ruangan, dan hatinya merasa terketuk.
"Ternyata banyak sekali orang yang mengidap penyakit yang sama seperti ku, aku harus kuat, aku harus bisa seperti mereka yang tampak sehat dan ceria, aku harus bisa menyembunyikan kesakitan ku ini, bismillah" batin Nadira
''Selamat siang Bu Rosa, ibu beruntung sekali memiliki suami yg selalu setia menemani ibu, semangat dari suami ibu berpengaruh sekali untuk proses kesembuhan ibu, semoga saja, kemoterapi yang terakhir ini membuat ibu sembuh dan terbebas dari penyakit yang mematikan ini'' ujar Bu Raisa kepada Bu Rosa
Mendengar perkataan Bu Raisa barusan, Nadira merasa sedih, Nadira merasa iri dengan mereka, ingin rasanya Nadira merasakan perhatian dari suaminya, tapi rasanya itu tidak mungkin, sekarang Bayu sudah berubah, dia sudah tidak mencintai Nadira lagi.
__ADS_1