
Setelah mengiyakan semua perkataan Bi Minah, Ilham dan Sifa pun masuk kedalam rumah dokter Raisa, mereka terlihat ceria karena mereka sudah tau kalau sebentar lagi mereka akan segera bertemu dengan bunda yang sangat mereka rindukan, mereka sudah tidak sabar ingin segera memeluk sang bunda mencurahkan rasa rindunya yang sudah lama terpendam.
"Assalamualaikum" ujar kedua anak pintar itu mengucap salam.
Mereka langsung berjalan menuju kamar untuk bersih bersih, habis itu mereka akan langsung mengerjakan PR agar nanti mereka bisa bertanya tanya lagi tentang kabar bundanya kepada bi Minah.
"Ka, bi Minah gak bohong kan sama kita?" Tanya Sifa yang masih penasaran dengan kabar bundanya itu.
"Bohong apa dek?" Ilham balik bertanya kepada adiknya itu.
"Bibi gak bohong kan kalau bunda sebentar lagi akan jemput kita?"
"Ya enggak dong dek, gak mungkin bi Minah bohong sama kita, memangnya kamu gak mau apa ketemu sama bunda?" Ilham balik bertanya kepada adiknya itu.
"Ya mau dong ka, aku udah kangen banget sama bunda" jawab Sifa tersenyum
''iya dek, kakak juga udah kangen banget sama bunda, kita doakan bunda ya! semoga saja bunda bisa cepat pulang'' ujar Ilham dengan matanya yang berkaca kaca.
''iya ka'' ujar Sifa menundukan kepalanya.
Sifa merasa sangat rindu kepada bundanya itu, semenjak bundanya pergi dia tumbuh menjadi anak yang mandiri, dia terlihat seperti orang dewasa karena mungkin keadaan lah yang memaksa dia harus seperti ini, tak ada canda tawa seperti dulu, meskipun dokter Raisa memberikan kasih sayang dan perhatian untuknya, semua itu terasa beda, bagi Sifa dan Ilham, tak ada kasih sayang yang sejati yang seperti kasih sayang Nadira berikan terhadap mereka.
''Ka, bibi kan bilang bunda pulangnya besok lusa, kita jemput bunda yuk! bunda pasti seneng kalau kita jemput'' ujar Sifa menoleh ke arah kakak nya.
Dia terlihat bersemangat karena dia yakin bundanya pasti akan senang kalau mereka yang jemputnya di bandara.
''Jemput bunda? kita kan gak tau harus jemput bunda kemana, lagian kakak gak punya uang dek, kita gak mungkin kan nyuruh pak Karyo buat ngantrin kita, kakak malu, kita sudah terlalu merepotkan orang orang di rumah ini'' tanya Ilham yang tidak menyangka adiknya bisa ada pikiran seperti itu.
''Kita kan bisa tanya bi Minah ka, kalau uang, Sifa punya ka, Sifa kan punya tabungan di sekolah, kalau kita mau jemput bunda, uangnya Sifa tinggal ambil aja di bu guru, gimana ka? mau ya!?'' tanya Sifa mencoba membujuk kakaknya itu.
''Iya dek, nanti kakak pikir pikir dulu ya, udah ah! kakak mau mandi dulu'' jawab Ilham.
__ADS_1
Mendengar ajakan dari adiknya itu Ilham merasa sedikit kebingungan, dia ingin sekali menjemput bundanya, tapi dia takut, dia sama sekali belum pernah pergi sendirian apalagi ke tempat jauh seperti itu, tapi dia ingin, dia sangat dilema, sembari berjalan masuk ke dalam kamar mandi, Ilham terus berfikir, dia mulai memikirkan bagaimana caranya dia bisa menjemput bundanya, serta membawa adiknya pergi dengan aman.
...🍂Di ruang keluarga🍂...
''Bi… bibi..!?'' teriak dokter Raisa dari ruang tengah
''Iya bu'' jawab Bi Minah dari dapur
Begitu mendengar teriakkan dari majikannya, BI Minah langsung berlari menghampiri dokter Raisa yang sedang duduk di sofa.
''Ada apa bu? apa ada yang bisa saya bantu?'' tanya Bi Minah penasaran
''Anak anak mana bi? tumben banget mereka gak nemuin saya disini? biasanya juga mereka selalu cium tangan dulu sama saya dan suami saya?'' dokter Raisa balik bertanya kepada bi Minah.
Dokter Raisa begitu sangat mengkhawatirkan Sifa dan Ilham, dia takut kedua anak itu dibawa oleh bundanya pergi tanpa sepengetahuannya.
''Anak anak langsung masuk kamar Bu, mungkin mereka capek makanya mereka gak nemuin ibu dulu'' jawab Bi Minah
"Saya ke dapur lagi ya Bu! Saya mau nyiapin makan siang buat anak anak"
Dokter Raisa hanya diam, dia hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, dokter Raisa tidak bisa berkata apa-apa, dirinya memang menyembunyikan ketakutan yang sangat luar biasa, tapi dia tidak mungkin bercerita kepada bi Minah masalah ini, dia takut, dia sadar kalau ketakutannya saat ini hanyalah kesalahan yang akan membuat dirinya malu dengan perasaannya sendiri.
...🍂Di singapura🍂...
Tok
Tok
Tok
Dokter Reza mengetuk pintu apartemennya, hari ini dia pulang lebih awal karena dia merasa kepikiran terus dengan Nadira, dia tak bisa membohongi perasaannya kalau dia sangat takut kehilangan wanita sebaik dan secantik Nadira dari kehidupannya.
__ADS_1
"Sebentar" teriak Nadira berlari untuk membuka pintu.
Hari ini Terpaksa Nadira yang membuka pintu apartemen karena memang Lisa sedang pergi belanja.
"Assalamualaikum" dokter Reza mengucap salam ketika Nadira membuka pintu apartemennya.
"Waalaikumsalam dokter, ayo masuk dok" ujar Nadira menjawab salam.
Nadira langsung mengambil tas yang ada di tangan dokter Reza, dia berusaha membantu dokter ganteng itu karena memang dia merasa tidak enak, dia selalu merepotkan dokter Reza, dan hanya inilah yang bisa dia lakukan untuk membalas semua kebaikan nya, mencoba melayani dokter Reza sebisa mungkin disaat kondisinya masih belum pulih 100%.
"Ayo duduk dok! Biar saya buatkan minum dulu untuk dokter, dokter pasti capek ngelayanin pasien seharian" ujar Nadira mempersilahkan dokter Reza untuk duduk di sofa.
Nadira langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
"Hari ini kamu terlihat beda, semoga saja keadaan kamu sudah sangat baik, aku selalu berdoa untuk kesehatan kamu Nadira, aku berharap kamu sembuh total dan bisa menikmati kehidupan kamu dengan bahagia" batin Reza berharap.
Reza terus memperhatikan Nadira yang sedang berjalan menuju dapur, dia senang melihat Nadira yang seperti ini, sikapnya membuat dia semakin jatuh cinta dengan wanita dengan dua orang anak itu.
"Ya Allah, Kalau saja aku punya istri seperti dia, aku pasti akan hidup bahagia" batin Reza
Reza terus mengandai andai, dia sangat berharap memiliki istri seperti Nadira yang selalu melayani dia dengan baik seperti ini, meskipun baru 3 hari Nadira berada di apartemennya, Reza sudah merasa sangat nyaman, dia senang dengan kehadiran Nadira, kelembutan dan kasih sayangnya yang tulus membuat dia ingin sekali memiliki Nadira, reza ingin hidup dengan Nadira, dia akan berusaha memberikan kebahagiaan yang tak pernah Bayu berikan terhadapnya.
"Ini dok minumnya!" Ujar Nadira
Nadira menaruh satu gelas teh hangat ke atas meja yang tepat di hadapan Reza.
"Terimakasih ya Nadira, maaf saya jadi merepotkan kamu" ujar Reza merasa tidak enak
"Sama sama dok, harusnya saya yang berbicara seperti itu, saya yang harus berterima kasih kepada dokter, saya minta maaf karena saya sudah terlalu merepotkan dokter" ujar Nadira menundukkan kepalanya
...bersambung dulu ya😁...
__ADS_1
...jangan lupa like n comenya 😘...