
Ilham tunggu ayah, tapi ayah jangan lama lama ya! Ayah Kan udah janji sama aku kalau ayah mau bantu aku berbisnis, aku gak punya waktu banyak ayah, sebentar lagi kan aku masuk sekolah" ujar Ilham. Akhirnya Ilham mengerti dan dia pun memperbolehkan ayahnya untuk pergi, ilham ingin ayahnya mencari tempat tinggal yang bagus setelah itu dia ingin ayahnya berjanji untuk menjemputnya, Ilham benar benar ingin tinggal bersama ayahnya bukan bersama bundanya.
"Ayah janji nak! Sekarang ayah berangkat dulu ya! Ayah baik baik di rumah, jaga adik Sifa dengan baik, ayah akan segera jemput Ilham kok, Ilham gak usah khawatirkan ayah" Bayu memeluk ilham satu kali lagi, dia terus menciumi anak itu hingga 3x, betapa sayangnya Bayu kepada kedua anaknya, jika saja semuanya tidak seperti ini, Nadira tidak menikah lagi dengan orang lain. mungkin dia masih bisa menumpang tinggal di rumah itu untuk beberapa hari kedepan, tapi sekarang Nadira sudah memiliki suami baru, Bayu tidak mungkin bisa tinggal lagi, dia harus tetap pergi.
Ilham menganggukkan kepalanya dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya, hari ini dia benar benar harus merelakan ayahnya pergi, baru kemarin Ilham merasakan kebahagiaan berkumpul bersama keluarganya, sekarang dia harus kembali merasakan kesakitan yang sangat luar biasa. Semakin jauh ayahnya melangkah semakin sakit pula batinnya. Tapi Ilham harus tetap mengikhlaskan, Ilham yakin ayahnya tidak akan lama, dia pasti akan menjemputnya lagi, dan mereka akan kembali tinggal bersama.
Ilham terus memperhatikan ayahnya yang sudah mulai jauh dari pandangan, air matanya mengalir tak tertahankan melihat sosok yang disayanginya pergi.
"Ayah, Ilham akan terus menunggu ayah, Ilham janji Ilham akan berusaha untuk ayah, Ilham akan belajar memulai bisnis ini sendiri" batin Ilham. Ilham berlari menuju kamarnya setelah Bayu pergi dari rumah itu, dia mengurung dirinya di kamar sembari terus berpikir untuk usahanya kali ini, Ilham ingin sekali membantu ayahnya yang sekarang serba kekurangan, dia akan berusaha semampunya dengan tangan kecil itu.
Suara alunan musik terdengar nyaring di telinga Ilham, tapi tak menghilangkan konsentrasi nya saat ini, dia tetap berusaha menggambar apa yang ada di isi kepalanya. Suatu gambaran langka tapi sangat menginspirasi.
Saat ini pikirannya sedang kacau tapi ini justru membangkitkan rasa semangatnya, rasa keinginannya begitu kuat, Ilham yang sudah tumbuh jadi anak dewasa, dia berusaha untuk mandiri, bekerja keras sendiri tanpa merepotkan siapapun termasuk orang tuanya.
Anak itu benar benar sangat sibuk hari ini, beda sekali dengan bunda dan ayah barunya begitu juga yang lain, mereka sedang tertawa bahagia sembari menikmati alunan musik yang sedari tak hentinya berputar, acara demi acara sudah hampir terlewati, semuanya berjalan sangat lancar, para tamu undangan juga sudah mulai pergi dari resepsi.
__ADS_1
"Bang, den Ilham mana ya?" Tanya bi Minah kepada pak Karyo yang sedang sibuk menikmati Hidangan yang sudah disediakan.
"Abang gak tau bi, dari tadi kan Abang disini, coba tanya aja sama pak Agus sama Bu Clara, mereka pasti tau den Ilham dimana" jawab pak Karyo sembari tak hentinya memakan makanan yang ada di hadapannya itu.
"Dasar tukang makan" ujar bi Minah yang terlihat kesal.
"Yey, gak papa dong bi, mumpung banyak makanan, gratis lagi" ujar pak Karyo lagi.
Bi Minah memalingkan wajahnya, dia mulai berjalan meninggalkan pak Karyo menuju Clara dan Agus, mereka juga tampak asik menikmati Hidangan itu sembari menikmati alunan musik band di depan panggung.
Semua orang tampak menikmati acara itu, begitu juga Nadira dan dokter Reza, mereka terus bercanda di pelaminan, tampak rona bahagia terlihat sekali dari pelupuk mata mereka.
"Iya bunda" Sifa berlari menghampiri bundanya itu. Hari ini sifa terlihat senang sekali, dia tampak ceria, beda sekali dengan kakaknya Ilham, Sifa tidak mengetahui kalau ayahnya sudah tidak berada lagi di rumah itu, jika saja dia tau, mungkin hari ini dia tidak akan seceria ini.
"Sini nak, duduk sama bunda! Ka Ilham mana, dari tadi bunda kok gak liat ka Ilham?" Tanya Nadira kepada anak bungsunya. Sedari tadi memang Ilham tidak menampakkan dirinya, dia hanya menyaksikan ijab Kabul habis itu dia langsung pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Mungkin ka Ilham lagi di kamarnya bunda, Ka Ilham kan lagi punya pekerjaan" jawab Sifa dengan polosnya.
"Pekerjaan apa sih? Anak ayah kok lucu banget, memangnya ka Ilham kerja apa sih?" Tanya dokter Reza sembari mencubit hidung anak cantik itu.
"Pekerjaan kak Ilham kan melukis bunda, nanti lukisannya mau dipasarkan, mau dijual" jawab sifa tersenyum.
"Oh ya? Kok bunda gak tau sih" Nadira tidak terlalu menghiraukan perkataan anak bungsunya itu, Nadira mengira Sifa hanya bercanda, dia tidak tau Ilham sudah punya pikiran untuk berbisnis, yang dia tau Ilham dan Sifa hanya bisa bermain, dia tidak tau sebenarnya anak cikalnya sudah hampir menghasilkan uang sendiri.
Nadira, dokter Reza dan Sifa pun duduk di pelaminan sembari melayani para tamu, meskipun hari sudah siang, tapi para tamu terus berdatangan ke acara pernikahannya, banyak sekali rekan bisnis Nadira, begitu juga para dokter teman dari dokter Raisa berdatangan untuk sekedar mengucapkan selamat kepada kedua mempelai itu.
Di tempat lain, bi Minah masih saja mencari keberadaan Ilham, dia mencari anak itu karena memang dia tau sifat anak itu seperti apa, bi Minah mengerti sekali diumuran Ilham yang masih terbilang kecil, dia belum bisa mengontrol emosinya jadi dia sangat khawatir sekali dengan anak yang satu ini, kalau bukan dia yang memperlihatkannya lalu siapa lagi, karena Nadira dan dokter Raisa masih sangat sibuk dengan acara ini.
"Gus, kamu lihat den Ilham gak?" Tanya bi Minah dengan wajahnya yang terlihat sangat khawatir.
"Enggak bi, dari tadi saya sama Clara disini, gak liat Ilham, bukannya tadi Ilham sama bibi ya?" Agus malah balik bertanya kepada bi Minah.
__ADS_1
"Iya, tadi den Ilham sama saya, pas ijab qobul juga den Ilham masih ada, tapi barusan bibi liat kok gak ada, dia gak pamit lagi" jawab bi Minah. Bi Minah seakan tidak mau diam sebelum dia menemukan anak itu.
"Apa mungkin den Ilham lagi sama pak Bayu ya? Tapi masa iya sih, memangnya pak Bayu mau datang di acara mantan istrinya? Tapi da asa te mungkin ah!" Batin bi Minah.