
"Sifa....!!" Teriak Nadira sembari membuka tangannya tersenyum lebar
Tak ada sahutan dari Sifa, tapi Nadira terus menunggu sampai anak yang mirip dengan Sifa itu mendekat ke arahnya.
"Bundaaaa...'' teriak anak itu lagi, berlari ke arahnya
Kakinya yang sangat mungil itu berlari sekuat tenaga mendekat ke arah Nadira, semakin kuat dia melangkahkan kakinya semakin berubah perasaan Nadira karena apa yang dia lihat ternyata bukanlah anaknya (Sifa).
Deg.
Perasaan Nadira berubah ketika harapannya tidak sesuai dengan kenyataan.
"Bundaa...!!'' anak itu memeluk seorang perempuan tua yang berdiri di belakang Nadira.
"Sayang, Ternyata itu bukan kamu nak, dimana kamu sekarang? Bunda kangen" batin Nadira merintih
Nadira menarik tangannya kembali sembari berurai air mata.
"Aisya udah nunggu bunda dari tadi ya nak? maafin bunda ya sayang, kamu jadi kerepotan jemput bunda kesini?" Tanya perempuan itu kepada anaknya, ternyata gadis cantik itu bernama Aisya
"Iya bunda, Aisya sama ayah sudah nunggu bunda dari tadi, gak papa kok bunda, Aisya seneng banget bisa jemput bunda, Aisya kangen banget sama bunda" jawab gadis itu sembari memeluk bundanya erat
__ADS_1
"Iya sayang, bunda juga kangen banget kamu, oh iya! ayahnya mana?"
"Itu...!!!''
Aisya menunjuk seorang laki laki tampan yang sedang berjalan ke arahnya, laki laki itu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya Allah, sungguh beruntung sekali perempuan itu, dia di jemput oleh Suami dan anaknya yang terlihat begitu sayang terhadapnya, sedangkan aku..!!?" Batin Nadira
Melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka Nadira begitu sangat iri, dia ingin sekali hidup seperti mereka, memiliki keluarga yang bahagia, dengan seorang suami yang kasih sayangnya hanya tercurah limpahkan kepada istri dan anaknya, Nadira sangat merindukan keluarganya yang dulu, sebelum Elsa hadir menghancurkan rumah tangganya.
Karena tak ingin larut dalam kesedihan, Nadira enggan untuk melihat ke arah mereka, Nadira memilih membalikkan badannya, tangannya yang gemetar mencoba menghapus air mata yang sedari tadi jatuh membasahi pipi manisnya, lalu diapun berjalan meninggalkan tempat itu kembali ke tempat dimana Lisa dan dokter Reza beristirahat.
Di rumah dokter Raisa
"Iya Bu, sebentar.." jawab bi Minah dari dapur
BI Minah tidak langsung menghampiri dokter Raisa karena memang dia lagi sibuk menyiapkan makanan untuk bekal anak anak di jalan.
"Ada apa sayang? kok teriak teriak, bi Minah mungkin lagi sibuk di dapur" tanya Bram menghampiri dokter Raisa
"Gak ada apa apa mas, aku cuma pengen bi Minah lebih cepat aja kerjanya biar kita bisa lebih cepat sampai ke bandara, kasian dokter Reza sama Nadira sudah nunggu kita dari tadi, aku kan jadi gak enak sama mereka" jawab dokter Raisa
__ADS_1
"Ya sudah, biar mas samperin bi Minah ke dapur ya! sekarang kamu ajak anak anak masuk ke mobil"
"Ya sudah mas, aku duluan ya..!!''
Karena tak ingin membuang buang waktu, dokter raisapun berjalan menuju kamar Sifa dan Ilham untuk mengajak mereka segera masuk ke dalam mobil, sedangkan Bram, dia mengajak pak Karyo ke dapur untuk membantu bi Minah menyelesaikan pekerjaannya.
"Alhamdulillah, hari ini istriku terlihat semangat sekali, aku gak sia sia bicara sama dia semalaman, terimakasih ya tuhan, engkau telah mengabulkan doaku, semoga istriku bisa bersikap seperti ini terus, semoga dia benar benar sudah bisa mengikhlaskan Sifa dan Ilham" batin Bram
Bram sangat bersyukur melihat dokter Raisa yang kelihatannya sudah baik baik saja, meskipun sebenarnya dia tidak tau perasaan istrinya seperti apa.
"BI tolong lebih cepat ya! kasian dokter Reza sudah nunggu kita dari tadi!" ujar Bram kepada bi Minah
"Memangnya Bu Nadira sudah sampai bandara pak?" tanya bi Minah ingin tahu
"Sudah bi, makanya lebih cepat ya! saya tunggu di mobil, pak Karyo tolong bantu bi Minah!?" ujar Bram
"Siap pak" ujar pak Karyo
Dengan tergesa gesa, bi Minah dan pak Karyo pun segera menyelesaikan pekerjaannya memasukkan semua makanan ke dalam tas, sedangkan Bram dia lebih memilih menunggu di mobil untuk menemani istri dan anak anak baik itu.
ketika Bram hendak masuk ke dalam mobil, Bayu yang dari semalam menunggu di depan gerbang, dia keluar dari mobilnya untuk melihat keluarga Raisa lebih jelas lagi, dia kebetulan melihat Ilham dan Sifa ketika mereka masuk ke dalam mobil bersama dokter Raisa, tapi dia tidak menemui mereka dulu karena dia tau kalau mereka mau bepergian, Bayu lebih memilih diam di mobil memperhatikan mereka dari kejauhan.
__ADS_1
"Sifa, ilham, ini ayah nak, ayah kangen banget sama kalian, beberapa bulan ayah gak liat kalian, sekarang kalian sudah tumbuh dewasa, terutama kamu Ilham, ayah pangling liat kamu" batin Bayu
Bayu terus memperhatikan mereka sembari berlinang air mata, dia menyesal sudah mencampakkan Nadira selama ini, kalau saja dia tidak tergoda oleh Elsa, mungkin dia tidak akan pernah terpisah dengan mereka, dia tidak akan kehilangan kepercayaan dari anak kandungnya sendiri.