30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
berangkat ke pengadilan


__ADS_3

Pagi pun tiba, waktu sudah menunjukkan pukul 05.30. suara burung terdengar berkicauan dari belakang villa membangunkan Ilham yang kala itu masih tertidur lelap.


Ilham membuka kedua matanya, dia menengok ke arah Sifa tapi ternyata adiknya masih tertidur pulas, mungkin karena adiknya kecapean jadi dia tidur pulas malam ini sampai sampai tidak ingat kalau bundanya sudah bangun lebih dulu.


"Kok bunda gak ada!" ilham kaget ketika Nadira sudah tidak ada di sampingnya.


"Dik, ayo bangun!" Ilham mencoba membangunkan Sifa yang masih terlihat pulas.


"Iya ka" Sifa membuka kedua matanya lalu menoleh ke arah kiri dan kanan "bunda mana?" Tanya Sifa. 


Cleeeekkk.


Pintu kamar terbuka, ternyata Nadira, baru saja Nadira ingin membangunkan kedua anaknya, tapi ternyata mereka sudah bangun lebih dulu.


"Eehhhh ternyata anak anak bunda sudah bangun, baru saja bunda mau bangunin kalian, ayo bersih bersih dulu nak! Kita ke dapur, bunda sudah buatin nasi goreng loh buat kalian" ujar Nadira tersenyum.


"Asiiiik, hari ini kita makan nasi goreng buatan bunda ka, ayo kita mandi!" Ujar Sifa. Sifa terlihat sangat bersemangat karena mungkin sudah lama dia menunggu momen seperti ini bersama bundanya, dia sangat rindu masakan bundanya apalagi nasi goreng yang biasa Nadira sediakan sewaktu mereka masih berkumpul bersama Bayu.


"Kamu duluan dek" ujar Ilham. Sifa sangat bersemangat karena mungkin dia belum mengerti apa apa, tapi Ilham, dia terlihat sangat lesu karena Ilham tau sebentar lagi bunda dan ayahnya akan berperang merebutkan hak asuh mereka.


Sifa pun beranjak dari tempat tidur itu dengan penuh ceria, dia berjalan menuju kamar mandi sedangkan Nadira dan Ilham masih duduk di tempat tidur sembari terus berbincang.


"Kamu kenapa nak, bunda lihat dari kemarin Ilham terlihat murung, Ilham gak senang ya bunda pulang?'' tanya Nadira lagi. Dia terus menggoda Ilham dengan bertanya seperti itu karena memang Nadira melihat dia kelihatan tidak bersemangat.


"Nggak bunda, Ilham gak papa kok" jawab Ilham sembari menoleh ke arah bundanya, "bunda kok sudah rapi, sudah mau berangkat ke pengadilan ya bunda?" Ilham balik bertanya kepada Nadira, dia seakan ingin tau semua urusan Nadira, sedangkan Nadira berusaha menyembunyikan itu semua karena dia tidak mau Ilham terlalu banyak pikiran, Nadira ingin Ilham fokus dengan sekolahnya agar anaknya yang satu ini bisa menjadi anak yang sukses seperti kakek dan neneknya dulu.

__ADS_1


"Iya sayang, sebentar lagi bunda mau berangkat, doain bunda ya nak!" Ujar Nadira dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Ilham pasti doakan bunda terus, semoga semuanya berjalan lancar ya bunda biar kita bisa cepat pulang ke rumah kita, Ilham gak mau tinggal di rumah Bu dokter terus bunda, Ilham malu" celetuk Ilham. Entah apa yang anak itu pikirkan, yang jelas semua itu terucap dari bibir anak pintar itu membuat Nadira tak kuasa menjatuhkan air matanya.


"Amiiiinnn, Allah kabulkan doa anak baik seperti kamu nak, maafin bunda ya sayang bunda belum bisa bawa Ilham kerumah kita" ujar Nadira terisak. Nadira memeluk Ilham dengan erat sembari terus menjatuhkan air mata.


"Bunda tidak perlu minta maaf, bunda gak salah apa apa kok, ayah yang salah bunda, ayah yang harus minta maaf sama kita" ujar Ilham.


"Iya sayang, nanti kita ngobrol baik baik sama ayah ya!" Ujar Nadira "Ilham harus ingat, seburuk apapun perilaku ayah terhadap kita, ayah tetap ayah kamu nak, sebenarnya ayah sayang banget sama kalian, jadi kalian gak boleh benci sama ayah, ya!?" Ujar Nadira kepada Ilham. Seburuk apapun Bayu tapi Nadira tidak mau Ilham dan Sifa sampai membenci dia, Nadira ingin kedua anaknya tetap menghormati Bayu meskipun Bayu telah menyakiti dirinya dan kedua anaknya.


"Baik bunda" ujar Ilham menundukkan kepalanya. Ilham sebenarnya sangat membenci Bayu, tapi mendengarkan perkataan bundanya Ilham akan berusaha memaafkan ayahnya, Ilham akan berusaha mendengarkan perkataan bundanya karena dia yakin setiap apa yang bundanya ucapan itu semua untuk kebaikannya.


"Oh iya nak, nanti kalau bunda berangkat ke pengadilan, bunda titip adik Sifa ya, kalian pulang ke rumah Bu dokter dulu bareng pak Karyo, bunda pergi gak lama kok, mudah mudahan besok kita sudah bisa pulang ke rumah kita, Ilham berdoa yang banyak" 


Ketika Nadira sedang memeluk Ilham dengan erat, dokter Raisa masuk kedalam kamar itu untuk menemui Nadira, dokter Raisa sudah terlihat rapi dengan memakai jas berwarna putih dengan celana hitam  panjangnya sangat memperlihatkan jati dirinya sebagai seorang dokter spesialis, dia sudah sangat siap mengantar Nadira ke pengadilan.


"Bu Dira! Ibu sudah siap?" Tanya dokter Raisa tersenyum.


"Sudah dok, sebentar lagi kita berangkat, saya mau nemenin anak anak sarapan dulu" jawab Nadira 


"Oh ya sudah, kalau gitu saya tunggu diluar saja ya Bu, ingat! Jangan terlalu banyak pikiran" ujar dokter Raisa mencoba mengingatkan Nadira agar dia tetap rileks, dokter Raisa tau betul kondisi kesehatan Nadira saat ini, makanya dia terus menguatkan Nadira agar nadira tetap bersemangat.


"Baik dok, terimakasih banyak" ujar Nadira menganggukkan kepalanya.


"Ok" 

__ADS_1


Nadira merasa ada banyak perubahan dalam diri dokter cantik itu, dokter Raisa yang sekarang tidak seperti dokter Raisa yang dulu, sekarang Nadira merasa dia sangat bersemangat, entah mungkin ini hanya perasaannya saja atau justru memang benar adanya. Yang jelas Nadira sangat bersyukur bisa kenal dengan orang baik seperti dia.


"Dokter Raisa aja semangat sekali, aku juga harus bisa seperti dia, aku harus semangat" Nadira mengepalkan kedua tangannya. Dia bersiap menguatkan dirinya untuk berhadapan dengan bayu.


….


Singkat cerita, Nadira dan dokter Raisa pun berangkat dengan menggunakan taksi online yang dia pesan tadi malam. Sedangkan Ilham dan Sifa, mereka pulang bersama pak Karyo dan yang lain.


Taksi yang ditumpangi dokter Raisa dan nadira melaju dengan kecepatan tinggi menuju kantor pengadilan agama. Nadira dan dokter Raisa bergenggaman tangan, mereka saling menguatkan karena sebentar lagi mereka akan berhadapan dengan orang orang licik seperti Bayu dan Elsa.


"Bismillah, semoga semuanya berjalan dengan lancar" ujar Nadira sembari menoleh ke arah dokter Raisa.


"Amiiiinnn, saya berharap kalian bisa dengan cepat mengambil alih perusahaan" ujar dokter Raisa.


"Amiiiinnn, sekali lagi terimakasih banyak dokter" ujar Nadira. Lagi lagi matanya berkaca kaca ketika mengingat kembali kebaikan dokter Raisa terhadapnya yang sampai kapanpun tak akan pernah terlupakan. Nadira benar benar berhutang banyak kepada keluarga dokter cantik itu.


"Ingat Bu, ibu jangan sampai mengeluarkan air mata di hadapan mereka, kita harus tetap tegar, saya yakin ibu pasti kuat" 


...Bersambung...


...Untuk pembaca setia, terimakasih atas dukungannya....


...Kalau kalian suka dengan ceritanya Jangan lupa like, comen, n votenya ya!...


...😘😘🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2