
Hari semakin larut, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB, Nadira dan dokter Reza terus keliling kota untuk mencari butik yang paling bagus di kota itu, sedangkan Ilham dan Sifa mereka bersenang senang bersama ayah tercintanya jalan jalan kelilingi taman di kota Jakarta.
Sore itu kebetulan Bayu, Ilham dan Sifa sudah sampai di sebuah taman terakhir yang mereka kunjungi hari ini, taman kota yang sangat indah, yang ditanam itu terdapat berbagai permainan anak yang tampak begitu sangat menyenangkan. Membuat kedua anak itu berlari menghampiri setiap wahana permainan itu.
"Horeeee.. ka ayo kita naik ini!" Teriak Sifa kepada kakaknya Ilham. Sifa menghampiri permainan ayunan yang berada tepat di samping kolam ikan, taman itu dihiasi berbagai tanaman bunga yang sudah bermekaran, berbau wangi, begitu enak dipandang.
"Iya dek, kamu duluan aja! Kakak sama ayah tunggu disini ya!" Ujar Ilham. Ilham dan bayupun duduk disebuah kursi yang tak jauh dari ayunan itu, sedangkan Sifa, dia mulai menaiki ayunan itu sembari bernyanyi hingga tertawa sendiri. Membuat Bayu dan Ilham gemes melihatnya.
"Ayah, terimakasih ya! Hari ini Ayah sudah mengajak kita jalan jalan" ujar Ilham menoleh ke ayahnya sembari tersenyum.
"Iya sayang, sama sama, sudah lama ayah memimpikan ini, ayah bahagia sekali bisa melihat kalian senang seperti ini" ujar Bayu. "Yang sehat ya nak! Ayah akan selalu mendoakan kalian, ayah doakan semoga kalian bisa menjadi anak yang berhasil" ujar Bayu sembari mengelus kepala Ilham dengan penuh kasih sayang.
"Amin, terimakasih ayah" ujar Bayu. "Oh iya ayah, hari ini ayah kok ajak kita jalan jalan, memangnya ayah gak kerja?" Tanya Ilham ingin tahu. Ilham baru ingat kesibukan ayahnya di kantor, jadi dia merasa gak enak karena telah mengganggu waktu ayahnya seharian ini.
"Ayah udah gak kerja nak" jawab Bayu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Terus siapa yang urus perusahaan bunda yah?" Tanya Ilham. Ilham terlihat kaget sekali begitu mendengar Bayu sudah tidak bekerja di perusahaan bundanya.
"Sekarang perusahaan itu bunda yang urus nak, ayah mau cari kerjaan lain saja!" Jawab Bayu tersenyum. "Ilham mau bantu ayah kan?" Tanya Bayu kepada anak cikalnya itu.
"Ilham pasti bantu ayah kok, Ilham juga mau buat bisnis yah, menurut ayah gimana?" Ilham malah balik bertanya kepada ayahnya itu.
"Kamu mau buka bisnis apa nak? Memangnya kamu sudah mengerti bisnis?" Tanya Bayu sembari tersenyum. Bayu mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih sayang, dia bersyukur sekali memiliki anak yang pintar seperti Ilham.
"Ya Allah, ada apa dengan anak ini? Baru saja dia keluar dari sekolah dasar sudah ngomongin bisnis, dari mana dia tau bisnis? Siapa ya yang ajarin dia?" Batin Bayu. Dia penasaran sekali siapa orang yang mengajarkan Ilham berbicara bisnis seperti ini padahal usianya masih terbilang anak anak, umurnya saja baru 13 tahun, tapi Ilham sudah sangat dewasa dalam ucapannya bahkan dalam perbuatannya membuat Bayu sangat keheranan.
"Waaah! Ide bagus itu nak, nanti ayah bantuin kamu ya, kalau Ilham mau, nanti ayah yang akan belikan Ilham alat alatnya, Ilham tinggal menggambar yang banyak, nanti biar ayah yang cari cara buat masarinnya" ujar Bayu tersenyum. Bayu baru ingat kalau anaknya yang satu ini sangat hobi sekali menggambar, selain gambar yang sudah sangat bagus Ilham juga berbakat sekali dalam mencocokkan gaya dan warnanya, ini adalah sebuah peluang yang sangat bagus untuk dia dan anak cikalnya itu.
"Beneran ayah mau bantu aku? Ilham mau banget ayah" tanya Ilham kepada ayahnya. Ilham terlihat senang sekali dengan tawaran ayahnya, dia pun tidak akan menolak bantuan ayahnya itu karena itu adalah peluang yang bagus untuk cita citanya. Ilham tidak akan melewatkan kesempatan ini, dia sudah bertekad untuk menjadi anak yang mandiri yang tidak selalu bergantung kepada orang tuanya apalagi mereka yang selalu sibuk dengan urusan urusannya.
Setelah mengalami kesakitan yang sangat luar biasa, Ilham bertekad untuk menjadi anak yang mandiri, dia sudah tidak mau lagi menyusahkan bundanya, bergantung kepada bundanya apalagi orang lain. Dia sudah merasakan rasa tak enak hidup menumpang, sudah merasakan bagaimana rasanya kekurangan, bahkan dia sudah merasakan bagaimana rasanya diabaikan, jadi dia sudah tidak mau lagi seperti itu, dia ingin hidupnya yang mandiri tanpa mengharapkan belas kasihan, perhatian dari orang lain termasuk orang tuanya.
__ADS_1
"Iya sayang, ayah mau bantu Ilham, tapi ada syaratnya" jawab Bayu tersenyum. Bayu memberikan syarat untuk anaknya itu, dia tidak mau sampai anaknya terlalu fokus dengan hobinya itu hingga lupa dengan tugasnya sebagai pelajaran.
"Apa syaratnya ayah?" Tanya ingin tahu.
"Ilham harus janji sama ayah kalau nanti Ilham sudah mulai bisnis ini, Ilham harus rajin belajar, Ilham harus lebih tekun lagi, jangan sampai ilham melupakan kewajiban Ilham sebagai pelajar" jawab Bayu tersenyum. Bayu ingin anaknya itu mengerti bahwa pendidikan lebih penting dari apapun, dia ingin sekali melihat kedua anaknya cerdas dan berbudi pekerti luhur, tidak seperti dirinya yang hanya mengandalkan fasilitas dari sang istri saja.
"Iya dong yah, Ilham pasti akan rajin belajar, terima kasih ayah" Ilham memeluk Ayahnya dengan erat sembari menjatuhkan air matanya. Ilham merasa bersalah kepada ayahnya karena kemarin dia sempat membenci ayahnya, sekarang dia tau ayahnya begitu sangat menyayangi dia dan adiknya, bahkan sekarang ayahnya lebih memperhatikannya ketimbang bundanya yang selalu dia banggakan.
"Sudah sore nak! Kita pulang yuk!" Ujar Bayu kepada Ilham. Melihat hari yang sudah mulai gelap Bayu mengajak kedua anaknya untuk pulang, dia khawatir Nadira akan mencari mereka jika mereka pulang terlalu larut seperti ini.
"Tapi Sifa masih betah main di sini, kayaknya Sifa belum mau pulang deh yah" ujar Ilham
"Kapan kapan kita main lagi ya nak, sekarang kita pulang dulu, Ilham ajak Sifa gyh! Ayah takut kalau pulangnya terlalu larut nanti bunda nyariin kalian" ujar Bayu lagi. Bayu menyuruh Ilham untuk mengajak adiknya pulang.
"Bunda gak akan nyariin kita kok yah, bunda kan lagi sibuk fitting baju pengantin sama dokter Reza, bunda juga pulangnya pasti malam" ujar Ilham. Sebenarnya Ilham belum mau pulang ke rumahnya, dia masih ingin diam disini menikmati alam sembari mengajak adiknya untuk bermain, maklum saja kedua anak itu sudah lama tidak merasakan jalan jalan hingga bermain seperti ini.
__ADS_1
"Bunda fitting baju pengantin? Bunda mau menikah lagi?'' Bayu kaget ketika mendengar perkataan Ilham barusan. Perasaannya langsung hancur berantakan begitu mendengar kabar itu.