
1 jam berlalu Ilham pun merasa bosan berada di rumah itu, entah kenapa dia merasakan hal seperti itu padahal dulu rumah itu menjadi satu satunya tempat ternyaman dalam hidupnya. Ilham mencoba melihat lihat ke seluruh ruangan di rumah itu dari mulai ruang tamu, ke arah ruang keluarga begitupun yang lain dia hanya bisa menjatuhkan air matanya, dia teringat semua kenangan indah bersama ayah dan bundanya dulu, Ilham ingat sekali bagaimana ayahnya memperlakukan bundanya, bundanya di manja di hadapannya hingga digendong setiap pagi ketika dia dan adiknya akan berangkat sekolah, Ilham melihatnya begitu indah sekali, hingga dia merasa sangat kagum kepada ayahnya, dia sangat mempercayai ayahnya. Tapi sekarang kepercayaan itu hilang begitu saja, kekagumannya sekarang berubah menjadi kebencian, semua pemandangannya seakan hilang begitu saja seperti tertiup angin, sampai sekarang dia tidak percaya semua ini bisa terjadi dalam hidupnya.
"Sepertinya Ilham sangat membenciku, maafkan ayah nak" batin Bayu. Bayu memang sedang bermain dengan si bungsu Sifa tapi matanya tertuju kepada Ilham, dia sedih sekali melihat anak yang begitu dia sayangi mulai menjauh darinya bahkan melihat ayahnya pun Ilham sudah tidak sudi lagi.
"Bunda' kita pulang yuk! Ilham bosan disini" ujar ilham kepada bundanya.
"Kenapa nak? Kita kan baru sebentar, kasian Sifa dia masih mau main sama ayah?" Tanya Nadira. Nadira sangat mengerti dengan perasaan anaknya tapi dia ingin ilham bersikap biasa biasa saja terhadap ayahnya.
"Ya Allah nak, bunda ingin kamu bersikap biasa saja sama ayah kamu, eeehh! Ilham kan masih anak anak jadi maklum saja kalau dia bersikap seperti ini, maafin bunda ya nak" batin Nadira.
"Kita keluar yuk Bun! Gerah lama lama diam di sini!?" Ujar Ilham. Ilham menarik tangan bundanya untuk keluar dari rumah itu. Tapi Nadira berusaha menghentikan Ilham, Nadira masih punya perasaan jadi dia tidak mau sampai Bayu sakit hati gara gara tingkah laku anaknya yang seperti ini.
"Sebentar ya nak! Ilham duluan saja! Bunda mau pamit dulu sama Sifa" ujar Nadira tersenyum menatap anaknya itu.
"Gak usah bunda, lagian Sifa lagi main sama ayah" ujar Ilham.
"Harus dong, kalau kita gak pamit sama Sifa nanti Sifa nyariin kita, kasian dong nanti dia nangis disini, memangnya Ilham mau liat adiknya nangis? bunda pamit dulu ya sayang, Ilham duluan saja nanti bunda nyusul!" Ujar Nadira lagi. Dia mencoba membujuk Ilham agar dia mau mengerti.
"Baik bunda, Ilham tunggu di taman depan ya" Ilham pun berjalan meninggalkan bundanya yang masih duduk di ruang tamu, anak itu berjalan dengan menundukkan kepalanya. Matanya juga berkaca kaca, mungkin dia menahan kesedihan yang cukup mendalam, hatinya teriris, dia cukup dilema dengan permasalahan ini.
__ADS_1
"Ayah kenapa ayah tega menyakiti bunda, kalau saja ayah tidak menikah lagi mungkin kami masih bisa tinggal disini berkumpul sama ayah dan bunda" batin Ilham.
Sementara itu Nadira berjalan menghampiri Sifa dan Bayu yang sedang bermain dengan si beo.
"Bunda, liat deh si beo kesayangan ka Ilham, dia masih hidup bunda" ujar Sifa menoleh ke arah bundanya sembari tersenyum manis.
"Iya nak, Alhamdulillah" ujar Nadira.
"Mas aku mau minta maaf atas sikap Ilham sama kamu barusan, nanti biar aku yang ngomong sama dia pelan pelan, aku sama Ilham tunggu di luar, kamu sama Sifa main saja disini" ujar Nadira kepada Bayu yang sedang asik bermain dengan Sifa
"Gak papa, mas pantas diperlakukan seperti itu sama Ilham, tolong bujuk dia pelan pelan, sampaikan maaf mas sama dia" ujar Bayu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya bunda" ujar Sifa tersenyum.
Mendengar jawaban sifa Nadira pun berjalan meninggalkan mereka yang masih asik bermain. Dia memilih bermain bersama Ilham di luar agar Ilham tidak merasa kesepian. Sebenarnya Nadira tau Ilham ingin sekali bermain bersama ayahnya tapi semua itu terhalang oleh rasa bencinya.
"Ilham, kok main disitu sih nak? Ayo sini!" Ajak Nadira yang melihat Ilham berdiri di depan gerbang.
"Ada tamu bunda" teriak Ilham. Nadira mengira Ilham kesal lalu berdiri di depan gerbang itu padahal anak itu sedang menghampiri tamu yang sedari tadi berteriak permisi.
__ADS_1
Nadira bergegas menghampiri Ilham, dia melihat Ilham berbicara dengan laki laki tua yang menunjuk nunjuk ke arah rumah itu.
"Siapa nak?"
"Selamat pagi Bu, Bu Elsanya ada?" Tanya pak Baskoro. Ternyata tamu itu pak Baskoro yang baru saja sampai untuk mensurvei rumah itu yang sekalian ingin bertemu dengan Bayu.
"Maaf pak, bapak ini siapa?" Nadira malah balik bertanya kepada pak Baskoro.
"Saya yang akan menggadai rumah ini Bu, apa bisa saya bertemu dengan Bu Elsa dan pak Bayu?'' tanya pak Baskoro lagi.
"Digadai?" Nadira kaget mendengar ucapan bapak itu. "Ayo masuk pak! Kita ngobrol di dalam saja!" Ujar Nadira. Nadira mempersilahkan pak Baskoro untuk masuk ke dalam rumah itu, dia ingin berbicara sesuatu sekaligus dia ingin tahu siapa yang berani menggadaikan rumah miliknya itu.
Nadira mempersilahkan pak Baskoro untuk duduk kursi tepatnya di taman depan rumah mewah itu, Nadira mengajak pak Baskoro untuk duduk disitu karena di dalam ada Bayu dan Sifa.
"Maaf pak, siapa yang akan menggadaikan rumah ini? Saya pemiliknya, saya kaget loh pak dengar bapak mau menggadai rumah saya?" Tanya Nadira. Nadira menatap pak Baskoro dengan tatapan serius.
"Rumah ini milik ibu? Bukannya rumah ini milik Bu Elsa?" Pak Baskoro balik bertanya lagi kepada Nadira. Pak Baskoro kaget mendengar ucapan Nadira. Dia merasa aneh kenapa perempuan yang dihadapannya ini mengaku ngaku pemilik rumah ini padahal dia sudah tau dengan jelas bahwa Elsa lah pemiliknya.
"Bukan pak, rumah ini milik saya, Elsa hanya numpang tinggal di rumah saya, dan saya tidak akan pernah menggadaikan rumah saya ini" ujar Nadira dengan tegas.
__ADS_1
"Coba ibu jelaskan, saya tidak mengerti Bu, numpang gimana ya? Perasaan Kemarin saya dan istri saya ada acara arisan di rumah ini, jadi tidak mungkin kalau Bu Elsa cuma menumpang, saya tau Bu elsa istri sah dari pak Bayu, ibu jangan bercanda" ujar pak Baskoro. Dia kekeh sekali kalau itu rumah Elsa padahal Nadira benar, rumah itu adalah miliknya, rumah peninggalan kedua Orang tuanya. "Saya ingin bertemu pak Bayu, apa pak Bayu ada di dalam?" Ujar pak Baskoro.