
Iya ayah, bunda mau menikah lagi sama dokter Reza, dari kemarin bunda sibuk terus ngurusin acara pernikahannya jadi bunda gak ada waktu buat kita ayah" jawab Ilham sembari menundukkan kepalanya. Ilham terlihat sangat kesal sekali dengan bundanya, tapi anak itu tidak berani berbicara kepada ayahnya, dia hanya bisa diam memendamnya seorang diri dengan hati yang teriris kesakitan.
"Ya Allah, beginikah rasanya!? aku gak pernah menyangka semuanya akan berubah secepat ini" batin Bayu. Bayu diam tanpa sepatah kata apapun, hatinya sangat hancur berantakan, bahkan dia merasa semua harapannya sudah berakhir.
"Meskipun bunda sibuk ngurusin acara pernikahannya, Ilham gak perlu sedih, disini kan masih ada ayah yang selalu ada buat kalian, mending sekarang kita fokus sama bisnis kita, Ilham kan udah besar, udah dewasa, jadi Ilham gak usah mikirin bunda lagi, Ilham mau dengerin ayah kan nak?" ujar Bayu. Bayu mencoba menenangkan hati anaknya itu. Dia tidak mau anaknya sedih gara gara bundanya yang lupa waktu, Bayu sangat mengerti sekali dengan posisi Nadira sekarang, jadi dia ingin Nadira mengalihkan hak asuh mereka untuk sementara kepadanya sampai dia benar benar sudah tidak sibuk lagi. Bayu ingin bergantian mengurus mereka agar mereka tidak kekurangan kasih sayang dari ayah + bundanya meskipun mereka sudah berpisah.
"Iya ayah, mulai sekarang Ilham mau tinggal sama ayah aja ya! Ayah gak keberatan kan?" Tanya Ilham kepada ayahnya. Mulai sekarang Ilham berharap bisa tinggal bersama ayahnya karena dari dulu juga sebenarnya dia tidak betah tinggal di rumah dokter raisa. Ilham merasa tidak enak menumpang terus dirumah orang lain sedangkan rumahnya sendiri saja kosong, tidak terurus.
"Tentu saja nak, ayah gak pernah keberatan, justru ayah senang kalian bisa tinggal bersama ayah, bahkan dari dulu ayah menginginkan momen seperti ini nak, ayah ingin kalian selalu menemani ayah" jawab Bayu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya ayah" ujar Ilham Tersenyum.
__ADS_1
Bayu dan ilham pun terus berbincang sembari mengasuh adik Sifa yang masih asik bermain di taman itu, sedangkan bi Minah dan pak Karyo mereka sibuk memikirkan kedua anak itu, bi Minah terlihat sangat khawatir karena sudah larut seperti ini kedua anak itu masih saja belum pulang, pak Karyo juga sudah 2 kali menjemput mereka ke rumah Bayu tapi pak Karyo tidak mendapati mereka di sana.
"Bang, Abang gak salah kan? Abang masuk ke rumahnya kan? Masa iya sih pak Bayu sama anak anak gak ada di rumah?" Tanya bi Minah dengan wajahnya yang terlihat pucat. Bi Minah tidak mau diam sebelum dia bertemu dengan kedua anak itu, dia terus bertanya kepada pak Karyo hingga pak Karyo pun pusing dengan pertanyaannya.
"Bener bi, rumah pak Bayu benar benar kosong, Abang gedor gedor juga gak ada yang nyaut, pintunya dikunci, masa iya Abang harus kesana lagi? Abang kan udah 2 kali kesana" jawab pak Karyo. Pak Karyo juga terlihat sangat panik karena memang tadi dia yang mengantarkan Ilham ke rumah itu.
"Ya kesana lagi lah bang! Anak anaknya kan belum ketemu, kita harus cari lagi ke rumah pak Bayu sebelum Bu dokter sama Bu Nadira pulang" ujar bi Minah. Bi Minah mengajak pak Karyo untuk kembali lagi ke rumah Bayu. "Ayo bang! Nanti Keburu Bu dokter pulang, bisa bisa kita kena marah kalau Bu dokter tau Ilham sama Sifa gak ada di rumah" ujar bi Minah lagi. Bi Minah menarik tangan pak Karyo masuk ke dalam mobil.
Karena tak ingin membuang waktu, bi Minah dan pak Karyo pun bergegas pergi dari rumah mewah itu. Pak Karyo mulai menghidupkan mobilnya. melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Bayu.
"Macet lagi! Gimana ini bang?" Tanya bi Minah panik.
__ADS_1
"Ya gimana lagi atuh bi, kalau macet ya macet, kita tunggu aja, sabar!" Jawab pak Karyo dengan santai. Pak Karyo juga sebenarnya panik sekali, dia sangat khawatir kepada Ilham dan Sifa tapi dia tidak mau memperlihatkan kekhawatirannya kepada bi Minah, dia tau sekali bi Minah orangnya seperti apa jadi dia lebih baik diam meskipun hatinya bergemuruh.
"Sabar, sabar! Gimana mau sabar, itu anak orang bang, tadi pagi bundanya titipin mereka ke ke saya, kalau mereka kenapa Napa gimana? Mana hujan lagi!" Ujar bi Minah, bi Minah terus saja berkoar di dalam mobil itu membuat pak Karyo merasa frustasi dibuatnya.
"Ya mau gimana lagi bi, kita kan sudah berusaha, lagian Bu dokter sama Bu Dira main pergi aja sih, sibuk ngurusin acara pernikahan, anaknya mah ditinggal ga keurus, lagian ni bi, di kampung saya mah kalau mau nikahin duda sama janda ya kari di kawinin aja, gak usah ribet resepsi resepsi, apalagi udah punya bontot kaya gini, ibunya dimana, anaknya dimana jadi ribet kan urusan" ujar pak Karyo dengan begitu kesalnya.
"Ya di kampung saya juga sama bang ke gitu, namanya juga di kampung, beda bang sama di kota, mereka kan orang kaya" ujar bi Minah.
"Orang kaya ya orang kaya, tapi jangan kaya gini juga bi, kasian tu den Ilham, tadi dia cerita sama Abang, katanya dia kesepian, melamun aja sendirian makanya Abang anterin ke rumah pak Bayu biar dia ada temennya"
"Iya sih bang, kemarin den Ilham juga curhat sama bibi, dia nangis di kamar bibi semalaman, kasian dia bang, baru aja kemarin dia kehilangan bundanya, cari cari bundanya, sekarang giliran bundanya udah pulang dia dibiarin gitu aja, saya sebenarnya ngerti Bu Nadira seperti ini karena dia lagi banyak urusan, tapi yang saya mau dia tetap perhatiin anaknya, ngertiin perasaannya, kecil kecil begitu juga pikirannya Udah dewasa bang, dia malah bilang sama saya kalau dia kecewa sama bundanya, gimana itu coba?" Ujar bi Minah. Bi Minah menyayangkan sekali Nadira bersikap seperti kepada anaknya Ilham, bi Minah mau Nadira selalu bercerita apapun kepada Ilham, meminta pendapat Ilham meskipun dia masih terbilang anak anak, tapi Nadira justru bersikap seolah olah Ilham belum mengerti apapun, membuat bi Minah geregetan dibuatnya.
__ADS_1
"Justru itu bi, harusnya Bu Nadira ngerti perasaan den Ilham" ujar pak Karyo juga.
Mereka pun terus berbincang membicarakan sikap Nadira kepada kedua anaknya, bi Minah dan pak Karyo tidak habis pikir Nadira bisa bersikap seperti ini, dia memang belum pernah mengenal Nadira tapi setidaknya dia mendengar dari dokter raisa, dari Ilham dan Sifa tentang sifat ibu dua orang anak itu, mereka selalu membicarakan kebaikannya, tapi sekarang bi minah dan pak Karyo tau sendiri Nadira orangnya seperti apa, tentu mereka sangat kecewa.