30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
tak mau kehilangan


__ADS_3

hari semakin siang, waktu sudah menunjukkan pukul 08.00, hidangan sarapan  yang sejak tadi Nadira dan Lisa siapkan sudah terlihat rapi di atas meja, kedua wanita cantik itu juga sudah duduk manis di kursi meja makan menunggu sang dokter tampan keluar dari kamarnya.


''dokter Reza kok belum keluar juga ya!?'' tanya Lisa mengerutkan keningnya lalu menatap ke arah langit langit ruangan itu.


''mungkin dokter Reza masih sibuk sama pekerjaan nya mbak, sebentar lagi juga pak dokter keluar dari kamarnya'' jawab Nadira dengan tenang


Nadira sangat paham dengan kesibukan sang dokter, kegigihan dan kebaikannya membuat Nadira sangat kagum dengan dokter tampan itu.


''iya Bu, dokter Reza memang orang yang pekerja keras, dia juga selalu melakukan yang terbaik untuk semua pasiennya, dia selalu memikirkan kesembuhan setiap pasiennya hingga lupa dengan kesehatannya sendiri '' ujar Lisa tersenyum


''iya mbak, saya sendiri yang merasakannya, kalau saja tidak ada dokter Reza, saya tidak tau apa sekarang saya masih hidup atau tidak, saya sebagai salah satu pasiennya sangat kagum dengan kegigihan dokter reza"


Sembari menjatuhkan air mata Nadira terdiam, dia ingin sekali berbicara sesuatu kepada Lisa, dia ingin mengungkapkan rasa rindunya kepada Ilham dan Sifa tapi dia malu untuk mengatakannya.


" aku sangat rindu kepada kedua anakku, aku bertahan hidup untuk mereka, gimana kabar kalian nak? Bunda sangat rindu kalian" batin Nadira merintih


"Loh!? Ibu kok nangis? Kenapa Bu? Apa saya salah bicara, maafkan saya Bu Nadira" tanya Lisa panik ketika melihat Nadira menjatuhkan air matanya.


"Mengingat perjuanganku melawan penyakit mematikan itu, aku jadi kangen sama Ilham dan Sifa mbak, aku berjuang hidup untuk mereka, sudah hampir 4 bulan aku meninggalkan mereka, pasti mereka sudah tumbuh menjadi anak yang dewasa" jawab Nadira.


Ibu dua anak itu mencoba untuk kuat di hadapan Lisa, tangan lembutnya menghapus air mata yang mengalir di pipi manisnya itu, dia berusaha tersenyum meskipun hatinya menjerit kesakitan.


"Saya mengerti perasaan ibu, kedua anak ibu juga pasti sangat merindukan bundanya, kita doakan saja mereka Bu, semoga mereka selalu diberikan kesehatan, ibu jangan sedih ya! Sebentar lagi kan ibu akan segera bertemu dengan mereka, daripada sedih sedihan kaya gini, lebih baik kita telpon mereka ya Bu, saya Acan coba telpon dokter Raisa agar ibu bisa ngobrol sama mereka, mereka pasti senang banget" ujar Lisa tersenyum


Lisa mencoba menghibur Nadira, dia berusaha menghubungi dokter Raisa agar Nadira bisa melepaskan kerinduannya terhadap kedua anaknya.


''Boleh mbak, ya Allah terimakasih banyak ya mbak'' ujar Nadira tersenyum.


"Sama sama Bu, ini lagi saya coba telepon, semoga saja dokter Raisa angkat telepon dari kita"

__ADS_1


tuuuuut


tuuuuuuut


tuuuuuut


suara panggilan yang belum diangkat.


''hallo, apa ada yang bisa saya bantu?'' dokter Raisa mengangkat telepon.


Setelah dokter Raisa mengangkat teleponnya, Lisa langsung menyodorkan ponsel itu ke hadapan Nadira.


''hallo dokter, ini saya Nadira,maaf saya mengganggu dokter pagi pagi seperti ini'' jawab Nadira merasa tidak enak


mendengar suara Nadira dokter Raisa terlihat sangat kaget, jantungnya tiba tiba berdetak lebih cepat, dengan perasaan yang berubah tidak karuan.


''iii iya Bu, ti tidak kok, saya tidak merasa terganggu sama sekali, justru saya senang ibu bisa telpon saya seperti ini, bagaimana kondisi ibu sekarang?  kapan Bu Nadira akan kembali ke indonesia?'' tanya dokter raisa


semua pertanyaan itu keluar dari mulut manisnya dengan tubuh yang terus gemetar, dokter Raisa berharap Nadira akan tinggal lebih lama di Singapura, dia ingin sekali mendengar ucapan itu keluar dari mulut Nadira karena dia sangat takut Nadira membawa Sifa dan Ilham dari tangannya.


''alhamdulilah kabar saya baik dok, insyallah besok lusa saya sudah berada di indonesia'' jawab Nadira tersenyum


deg.


dokter cantik sontak kaget ketika mendengar jawaban dari Nadira,


Nadira  terlihat sangat senang ketika Lisa menyodorkan ponselnya, rona bahagia tampak jelas di wajahnya yang cantik, ketika dia mendengar suara dari sang dokter cantik yang sudah mengurus kedua anaknya selama dia tinggal di singapura.


''ya ya bagus dong Bu, Ilham sama Sifa pasti akan senang dengar kabar baik ini'' ujar dokter Raisa

__ADS_1


"Iya pasti dok, oh iya! Apa boleh saya ngobrol dengan mereka? Lagi apa mereka sekarang dok? Saya ingin dengar suara mereka" tanya seorang ibu yang sangat merindukan kedua anaknya


"Maaf Bu, Ilham sama Sifanya sudah berangkat ke sekolah, kalau ibu pengen bicara sama mereka, nanti telpon lagi aja ya Bu" jawab dokter Raisa 


Dokter Raisa terpaksa berbohong karena dia tidak mau Sifa dan Ilham tau kalau ibunya akan segera pulang ke Indonesia.


Dokter Raisa tidak menyadari kalau ada orang yang memperhatikannya sedari tadi, tak lain adalah Minah, bi minah tidak sengaja mendengar percakapan mereka karena kebetulan dia sedang mengepel lantai di ruang keluarga.


BI Minah tidak menyangka majikannya yang sangat baik hati itu akan berbohong kepada Nadira, dia tak suka dengan kebohongan itu, apalagi itu menyudutkan kedua anak yang begitu sangat dicintainya.


"Kenapa Bu dokter bohong sama Bu Nadira? Ya Allah, kok bisa!? Kalau saja Bu dokter kasih ponsel itu ke Sifa dan Ilham, mereka pasti akan senang banget, kasian ke2 anak malang itu" batin bi minah


Sembari mengepel, bi minah terus mendengarkan percakapan mereka, dia berusaha mencari informasi tentang Nadira agar dia bisa memberi tahu Sifa dan Ilham tentang bundanya yang selama ini mereka tunggu, meskipun bi Minah sudah lama kerja di tempat itu, tapi dia tidak berpihak kepada majikannya, dia berpihak kepada Nadira karena dia juga merasakan bagaimana rasanya jauh dari seorang anak.


"Jadi Bu Nadira akan kembali ke Indonesia besok lusa Bu? Apa ibu yakin?" Tanya dokter Raisa


"Saya yakin dok, lagian keadaan saya juga sudah jauh lebih baik, saya gak enak menitipkan Ilham dan Sifa terlalu lama, maafkan saya ya dok, saya sudah merepotkan dokter" jawab Nadira merasa tidak enak


"Gak pp Bu, saya senang akhirnya ibu bisa kembali lagi ke Indonesia, nanti pulang sekolah saya akan memberitahu kabar baik ini kepada mereka, mereka pasti akan senang mendengarnya" ujar dokter Raisa


"Iya dok, terimakasih banyak ya! Kalau begitu saya tutup dulu telponnya, maaf saya sudah menunggu" 


"Tidak pp Bu" dokter Raisa menutup panggilan itu.


Setelah panggilan telepon itu mati, dokter Raisa langsung terdiam, perasaannya tiba tiba sakit bagaikan tersambar petir di pagi hari, entah apa yang harus dia katakan saat ini, yang pasti dia begitu sangat hancur saat ini hingga dia tak bisa menahan air matanya yang tiba tiba jatuh membasahi pipi.


...bersambung...


 

__ADS_1


__ADS_2