
Pagi pun tiba, waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB, semua orang sudah siap dengan aktivitasnya masing masing termasuk Nadira. Pagi itu Nadira terlihat sudah rapi dan wangi, dia sudah siap pergi bersama dokter Reza, hari ini mereka ada fitting baju pengantin di sebuah butik yang tak jauh dari rumah dokter raisa.
"Bunda.." ujar Ilham memanggil bundanya yang masih duduk di depan meja rias. Ilham melihat pantulan wajah bundanya dari cermin, bundanya begitu ceria, dia berdandan berlenggak lenggok di depan kaca dengan wajah berseri membuat anak yang satu ini merasa enggan.
"Ada apa nak?" Tanya Nadira tersenyum. Nadira tidak menoleh ke arah Ilham, dia hanya memperhatikan Ilham dari cermin itu saja dengan tangan yang masih sibuk memoles wajahnya.
"Sekarang bunda sudah benar benar berubah, biasanya juga bunda gak kaya gini, kenapa sekarang bunda jadi terlihat centil" batin Ilham. Rupanya anak itu tidak suka melihat bundanya memoles wajah seperti itu, bagi dia prilaku seperti itu hanya dilakukan oleh wanita wanita centil saja. Ilham benar benar tidak biasa melihat pemandangan seperti itu.
Ilham tidak menjawab pertanyaan Nadira, dia hanya diam lalu berjalan meninggalkan kamar itu menuju kamar bi minah.
"Ilham..' kamu mau kemana nak?" Teriak Nadira yang melihat Ilham beranjak, tapi dia tidak mengejarnya karena memang dia belum beres ber-make up. Hari ini Nadira ingin tampil cantik di hadapannya calon suaminya, dia ingin terlihat lebih segar agar semua orang yang melihatnya merasa nyaman.
Di kamar bi Minah.
"Assalamualaikum bi, ini Ilham" teriak Ilham di depan pintu kamar bi Minah.
Tok
Tok
Tok
"Bibi, ini Ilham" teriak Ilham lagi. Bi Minah tidak membuka pintu kamarnya karena memang dia sedang sibuk di belakang, pagi itu bi Minah sedang sibuk mencuci baju jadi dia tidak mendengar Ilham berteriak teriak memanggilnya.
"Kemana ya bibi? Apa mungkin bibi sibuk ya?" Ilham bertanya tanya. "Aku ke depan aja ah! Jam segini pak Karyo pasti lagi nongkrong di depan gerbang" ujar Ilham.
__ADS_1
Karena merasa kesal ilham pun berjalan meninggalkan kamar bi Minah menuju tempat pak Karyo, baru saja dia berpisah dengan Sifa beberapa jam saja tapi rasanya dia sudah sangat jenuh, dia merasa sepi sekali tanpa kehadiran Sifa disisinya.
"Pak Karyo.." teriak Ilham melambaikan tangannya dari depan pintu rumah.
"Ada apa nak? sini!!" Teriak pak Karyo. Pak Karyo juga melambaikan tangannya mengajak Ilham untuk duduk di sampingnya sembari menikmati secangkir kopi hangat.
Melihat pak Karyo yang sedang asik menikmati kopi sambil mendengarkan musik Sunda Ilham pun tertarik lalu menghampirinya.
"Bujang ganteng ini mau kemana sih? Pagi pagi udah rapih" tanya pak Karyo tersenyum menggoda Ilham. Ilham Pun yang melihatnya tersenyum dengan tingkah pak Karyo.
"Gak kemana mana pak, Ilham jenuh diam di rumah terus" jawab Ilham. Anak itu duduk disamping pak Karyo sembari menikmati pisang goreng buatan pak Karyo.
"Biasanya juga main sama non Sifa, gimana pisang goreng buatan mamang, enak gak?" Tanya pak Karyo yang melihat Ilham mencicipi pisang goreng buatannya. Pak Karyo terlihat senang sekali ditemani Ilham pagi ini.
"Sifa gak ada pak Karyo" jawab Ilham. Ilham langsung bengong ketika menyebut nama Sifa, dia jadi teringat kemarin waktu adiknya bermain bersamanya ayahnya mereka terlihat bahagia sekali membuat Ilham merasa sedih. Ilham sebenarnya ingin sekali bermain bersama ayahnya bahkan dia ingin mencurahkan rasa rindunya selama ini tapi Ilham masih sangat kesal kepada ayahnya itu jadi dia tidak berani mendekatinya di waktu dekat dekat ini.
"Sifa kan nginep di rumah ayah pak, memangnya pak Karyo gak tau apa?"
"Mamang benar benar gak tau atuh den, kemarin mamang kan gak ada di rumah, kalau non Sifa nginep di rumah ayah Aden kenapa den Ilham kok gak ikut nginep? Pantas saja den Ilham nyamperin mamang pagi pagi ternyata teman mainnya gak ada" jawab pak Karyo sembari menaikkan bibirnya sedikit. Pak Karyo baru tau kalau mereka berdua sudah bertemu dengan ayahnya. Pak Karyo benar benar tidak tau apa yang terjadi di rumah itu karena memang kemarin dia tidak ada di rumah. Pak Karyo baru pulang dari luar kota bersama pak Bram, kemarin dia mengantar pak Bram mengurus proyeknya di luar kota.
Pak Karyo terus saja nyerocos di hadapan Ilham menceritakan pengalaman lucunya waktu di luar kota bersama pak Bram, dia berusaha menghibur anak itu, tapi Ilham tetap saja bengong sendiri, dia sepertinya tidak mempan dengan guyonan pak Karyo membuat pak Karyo yang melihatnya pun kebingungan harus berbuat apa lagi untuk mengajaknya bermain.
"Den Ilham kenapa ya? Tidak biasanya dia kaya gini, biasanya juga dia suka ketawa kalau denger cerita lucu, tapi sekarang kok bengong aja ya, pasti lagi ada masalah, kira kira masalah apa ya? Kasian!" Batin Pak Karyo bertanya tanya.
Karena melihat Ilham yang terus saja melamun seperti ini, pak Karyo jadi ingin mengajaknya jalan jalan pagi, dia ingin menghibur anak itu agar dia tidak sedih lagi.
__ADS_1
"Kita jalan jalan yu den! Jogging!?" Ajak pak Karyo sembari tersenyum. Pak Karyo menggerakkan kedua alisnya menghadap ke arah Ilham membuat Ilham tak bisa menahan tawanya.
"Jogging?" Tanya Ilham. "Memangnya pak Karyo suka joging?" Tanya Ilham lagi.
"Oh tentu saja den, memangnya den Ilham gak tau ya? Gimana den? Mau gak?" Pak Karyo terus saja mendesak anak itu.
"Ayo mang!" jawab Ilham tersenyum. Ilham merasa tertarik dengan ajakan pak Karyo, dari pada dia diam di rumah terus melihat apa yang tidak dia sukai jadi dia lebih baik pergi.
Mereka pun mulai beranjak dari rumah mewah itu berjalan keluar, Ilham mengikuti langkah kaki pak Karyo yang berjalan lebih dulu darinya, dia terlihat senang sekali bisa jalan jalan pagi bersama pak Karyo jadi dia bisa menikmati sejuknya angin pagi sembari menghibur hatinya yang sedang dirundung kesedihan.
"Tadi kenapa den Ilham bengong bengong kaya gitu den? Lagi ada masalah ya? Apa Aden mau ketemu ayah Aden? Aden bicara saja, nanti biar mamang yang antarkan" tanya pak Karyo ingin tahu.
"Ilham gak papa kok pak Karyo" jawab Ilham menundukkan kepalanya.
"Den Ilham jangan bohong sama mamang, mamang bener mau anterin kok, den Ilham mau ke rumah ayah Aden kan? Ayah den Ilham pasti senang mamang anterin Aden ke rumahnya" ujar pak Karyo lagi. Pak Karyo mengira Ilham ingin berkumpul bersama ayah dan adiknya padahal bukan, Ilham melamun seperti itu karena dia memikirkan bundanya yang mulai berubah, dia sebenarnya tidak suka melihat bundanya fitting baju pengantin hari ini. Apalagi perginya pun Nadira tidak berbicara terlebih dahulu kepadanya, Nadira sama sekali tidak meminta pendapat Ilham, membuat Ilham merasa tidak dihargai oleh bundanya itu.
Mendengar perkataan pak Karyo ilham pun menghentikan langkahnya, Ilham menghampiri sebuah bes di tempat itu lalu duduk disana, Ilham rasanya malas sekali mendengar pembicaraan pak Karyo yang selalu menjurus ke ayah dan adiknya, dia tidak tau kalau sebenarnya Ilham sangat kesal dengan mereka semua, mereka yang menyebabkan Ilham selalu melamun sendirian.
"Pak Karyo, memangnya benar ya ayah senang kalau aku kerumahnya?" Tiba tiba anak itu bertanya seperti itu kepada pa Karyo. Rasanya dia menyerah dengan ini semua, dia tidak mau mengorbankan perasaannya, kali ini Ilham berpikir kalau dia tidak akan berpihak kepada siapapun, dia hanya akan perduli kepada orang yang perduli terhadapnya, entah itu orang tuanya atau justru orang lain.
Pak Karyo menghampiri Ilham lalu duduk di sampingnya. "Ya pasti senang atuh, ayah den Ilham pasti senang sekali bisa berkumpul sama den Ilham dan non Sifa, orang tua mana yang gak senang dekat dengan anaknya atuh den, mamang juga maunya Deket terus sama anak anak mamang, tapi sayangnya mamang gak bisa" jawab pak Karyo menundukkan kepalanya. Pak Karyo terlihat sedih sekali karena dia harus memendam rindunya kepada anak anaknya di kampung.
"Mmmh seperti itu ya mang, berarti kalau sekarang Ilham ke rumah ayah, ayah pasti bakalan seneng ya mang?" Tanya Ilham sekali lagi.
"Pasti atuh den, kenapa? Ilham mau mamang anterin ke rumah ayah?" Pak Karyo balik bertanya kepada Ilham.
__ADS_1
"Boleh pak Karyo, Ilham mau main ke rumah ayah, sekalian mau liat Sifa, Ilham jenuh di rumah Bu dokter terus, bunda sama Bu dokter sibuk terus pak, mereka gak ada waktu Buat Ilham" jawab Ilham dengan mata yang berkaca-kaca. Karena Ilham rasa bundanya tidak pernah ada waktu buat dia lagi, ilham pun memilih untuk main ke rumah ayahnya, dia ingin bertemu dengan Sifa karena hanya Sifa lah yang selalu menghiburnya setiap waktu. Ilham merasa sepi tanpa kehadiran adiknya jadi dia memaksakan dirinya untuk datang kesana.