
"Aku udah makanannya bunda, aku ke kamar duluan ya!" Ujar Ilham. Ilham terlihat tidak berselera makan hari ini, dia lebih banyak diam dan sepertinya dia tidak ingin diganggu oleh siapapun.
"Lah! kok cepet banget makannya nak? Itu juga nasinya cuma dimakan sedikit, gak enak ya masakan bunda?'' tanya Nadira. Nadira merasa aneh dengan anaknya itu, tidak biasanya Ilham bersikap dingin seperti ini, biasanya dia selalu bawel, bahkan dia selalu memuji masakannya setiap kali dia memasak untuk mereka.
"Ilham udah makan bunda, tadi waktu Buda di depan Ilham makan kebanyakan, jadi sekarang gak enak kaya gini, Ilham mual" jawab Ilham sembari memegangi perutnya. Ilham terpaksa bohong kepada bundanya itu, sebenarnya dari tadi dia menahan lapar, tapi karena melihat bunda dan suami barunya seperti ini, Ilham jadi malas sekali berkumpul bersama mereka, rasanya Ilham geli melihat perlakuan ayah barunya itu.
"Ya allah nak, kamu kekenyangan?" Tanya Nadira sembari tersenyum. "Hahaha..' ada ada aja kamu nak!" Nadira tertawa mendengar kelakuan anaknya yang satu ini.
"Ya sudah, nanti nasinya kasih kucing aja ya! Sekarang Ilham istirahat, pasti dia capek Bun" ujar dokter Reza tersenyum. Dokter Reza tau Ilham sepertinya tidak suka dengannya, tapi dia tidak banyak bicara, dia percaya, suatu saat nanti Ilham pasti akan menerimanya di rumah itu, seiring berjalannya waktu Ilham pasti akan menganggap dia seperti ayah kandungnya sendiri.
"Iya nak, sekarang Ilham istirahat ya!" Ujar Nadira tersenyum. Nadira menyuruh anaknya itu untuk istirahat, dia mengerti sekali Ilham pasti capek karena sudah mengerjakan lukisannya itu seharian, dia ingin Ilham istirahat dengan cukup karena besok dia akan mengajak anak itu untuk jalan jalan ke rumah dokter Raisa.
"Iya bunda"
Ilham Pun bangkit dari duduknya, dia berjalan menuju ruang atas lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Kok udah lagi makannya?" Tanya bi Minah. Malam itu bi Minah menginap di rumah Ilham atas permintaan Ilham kepada dokter Raisa, dia tidak ikut makan malam bersama karena dia merasa malu dengan dokter Reza, bi Minah tidak mau makan malam itu hancur gara gara kehadirannya karena dia sadar dia hanyalah seorang asisten rumah tangga di rumah itu.
"Ilham lagi gak nafsu makan bi, Ilham kepikiran terus sama ayah" jawab Ilham. Ilham duduk di samping bi Minah. Anak itu terlihat khawatir sekali kepada ayahnya yang entah dimana.
__ADS_1
"Memangnya tadi ayah Aden mau kemana?" Tanya bi Minah. Bi Minah benar benar tidak tahu kalau Bayu pergi dari rumah itu, kalau saja dia tau kepergiannya mungkin tadi bi Minah berbicara dulu kepada ayah dari anak yang paling dia sayang itu.
"Ayah gak bilang mau kemana bi, tadi ayah cuma bilang sama aku kalau nanti ayah pasti akan kesini lagi kalau dia udah punya rumah baru, ayah mau jemput aku bi" jawab Ilham dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya Allah, berarti pak Bayu belum punya tujuan, pasti sekarang dia lagi cari cari kontrakan, kasihan sekali pak Bayu" batin bi Minah.
"Ayah, sekarang ayah dimana? Ya Allah, lindungilah ayah disana'' batin Ilham. Ilham tak kuasa menjatuhkan air matanya ketika dia mengingat sosok sang ayah yang begitu sangat menyayanginya, dia merasa tidak sanggup jauh dari ayahnya itu.
"Yang sabar ya den, kita doakan saja mudah mudahan ayah Aden bisa mendapatkan rumah yang lebih nyaman, bibi yakin ko ayah Aden pasti bisa melewati ini semua, dia kan banyak kenalannya den, pasti akan banyak sekali orang yang membantu ayah aden" ujar bi Minah, bi Minah mengelus pundak sang anak dengan penuh kasih sayang, dia mencoba menguatkan Ilham, agar Ilham bisa selalu sabar menghadapi ujian yang sedang menimpanya ini.
"Iya bi, Ilham pasti akan selalu mendoakan ayah" ujar Ilham dengan air matanya yang jatuh membasahi pipinya.
"Iya bi, tapi aku mau beresin lukisan aku dulu, ayah pasti senang kalau aku udah punya beberapa koleksi kaya gini, jadi nanti aku tinggal promosi sama temen temen aku" Ilham terlihat senang sekali karena dia sudah memiliki koleksi lukisannya, dia akan promosi kepada teman temannya agar teman temannya juga promosi kepada ayah ayahnya.
"Bibi senang den Ilham udah ada kegiatan kaya gini, jadi kan den Ilham jadi gak merasa bosan"
"Sekarang aku gak bosan kok bi, kan ada bibi sama Sifa yang nemenin aku" ujar Ilham tersenyum.
"Iya den, tapi kan Minggu depan bibi mau pulang dulu ke kampung" ujar bi Minah. Karena Minggu depan keluarga dokter raisa dan keluarga Nadira mau pergi berlibur ke Bali, jadi bi Minah ada kesempatan untuk pulang ke kampung halamannya, bi Minah sudah sangat rindu kepada anak anaknya, jadi dia ada waktu 5 sampai 7 hari disana sampai keluarga Ilham dan dokter Raisa kembali ke Jakarta.
__ADS_1
"Bibi beneran mau pulang bi?" Tanya Ilham. Ilham terlihat kaget ketika mendengar bi Minah akan pulang ke kampung halamannya.
"Iya den, Minggu depan Aden sama keluarganya Aden kan mau liburan ke Bali, jadi bibi ada kesempatan Buat pulang kampung, memangnya Aden gak tau?" Bi Minah balik bertanya lagi kepada anak itu. Ilham benar benar belum tau rencana ini, sebenarnya dia pernah mendengar kalau mereka akan berlibur tapi kabar itu sudah lama sekali, jadi dia tidak terlalu menghiraukannya.
"Aku gak tau bi" jawab Ilham sembari menggelengkan kepalanya.
"Mungkin Bu Nadira belum kasih tau Aden, udah ah! Sekarang Aden istirahat aja! Biar bibi yang beresin lukisan itu"
"Baik bi, terima kasih ya bi!" Ujar Ilham tersenyum.
Karena tubuhnya yang sudah sangat lelah, Ilham mencoba memejamkan matanya, dia mencoba menghilangkan semua beban pikirannya yang membuat kepalanya sangat pusing, tapi semua itu tepat menghantuinya, dia benar benar tidak bisa tidur malam ini, bayangan ayahnya terus saja menghantui pikirannya saat ini.
"Ayah, ayah dimana sih? Apa sekarang ayah tidur?" Batin Ilham. Ilham terus memikirkan bagaimana nasib ayahnya diluar sana, dia benar benar sangat khawatir, dia takut ayahnya tidak menemukan tempat tinggal baru.
"Bi…" Ilham memanggil bi Minah yang sedang sibuk beres beres kamar itu.
"Apa den, Aden kok masih belum tidur sih?" Tanya bi Minah.
"Aku gak bisa tidur bi, bibi yakin kalau malam ini ayah sudah punya tempat tinggal baru?" Tanya Ilham lagi. Ilham ingin mendengar itu dari mulut bi minah agar dia bisa tidur dengan tenang.
__ADS_1
"Pasti nak, pak Bayu pasti sudah punya tempat tinggal baru, bibi yakin besok juga pak Bayu pasti kesini lagi buat jemput Aden" jawab bi Minah dengan matanya yang berkaca-kaca.