30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
kesedihan elsa


__ADS_3

Mendengar perkataan Elsa Bayu Pun langsung mematikan teleponnya, dia malas sekali mendengar perkataan perempuan sakit seperti dia. Tadinya Bayu ingin tau dari mulutnya langsung masalah penggadaian rumah itu tapi ternyata Elsa tidak mengakuinya.


"Elsa pasti tidak akan mengakui perbuatannya, aku harus mencari tahu sendiri, aku harus bisa mengambil berkas berkas itu kembali" ujar Bayu mengepalkan kedua tangannya. Dia terlihat semakin benci kepada mantan istrinya itu.


Di restoran.


"Arrrrrghhh.." teriak Elsa kesal. "Brengsek!! kenapa mas Bayu bisa tau kalau gue yang gadaian rumah itu, ini semua gara gara Nadira, awas saja kamu Nadira, gue gak akan kasih ampun, gue akan buat hidup Lo menderita seperti apa yang Lo lakuin sama gue" ujar Elsa kesal. Elsa berteriak di restoran itu hingga semua orang yang berada di tempat itu tertuju padanya. Semua orang heran dengan tingkah laku Elsa yang seperti orang stres. Ada yang menertawakan, bahkan ada orang yang menyebutnya perempuan gila.


"Ngapain mereka liatin gue" batin Elsa. Karena malu elsa pun bangkit dari duduknya berjalan meninggalkan tempat itu. Dia berlari ke pinggir jalanan untuk menghindari penglihatan mereka.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini sih? Arrrgggghhh, sial..!!!" Teriaknya lagi. 


Elsa terlihat sangat kesal sekali hingga dia tak merasa air matanya jatuh membasahi pipinya, hidupnya saat ini sudah benar benar hancur, sekarang dia sudah tidak punya apa-apa lagi bahkan untuk biaya hidupnya sehari hari pun dia sangat kebingungan.


Di rumah dokter raisa.


"Assalamualaikum" Nadira yang baru saja datang dia langsung masuk ke dalam rumah dokter raisa dengan mengucapkan salam. 

__ADS_1


"Waalaikumsalam" jawab si pemilik rumah. 


"Pak Bram, mas Reza' kalian sudah pulang?" Tanya Nadira sembari tersenyum manis. Nadira senang sekali melihat keluarga dokter raisa sudah komplit seperti ini. Dia Pun langsung duduk di sebelah dokter raisa. Kebetulan saat itu mereka sedang berbincang membicarakan masalah pernikahan Nadira dan dokter Reza yang akan segera dilaksanakan dekat dekat ini.


"Bu Nadira! mas Bram sama Reza baru saja datang Bu, kebetulan sekali ya bu Nadira pulang, ini kita lagi ngomongin masalah pernikahan ibu sama Reza, menurut ibu gimana? Ibu maunya gimana?" Tanya dokter raisa tersenyum. Dokter raisa terlihat sangat semangat sekali tapi Nadira malah bengong sendiri, mungkin dia masih memikirkan kedua anaknya dan masalah rumahnya yang mau digadaikan oleh Elsa.


"Iya Bu, acaranya tinggal beberapa hari lagi loh! Kita harus cepat cepat urus semuanya, saya ingin acara ini bisa dirayakan secara besar besaran, menurut kalian gimana?" Bram juga bertanya kepada semuanya. Dia ingin acara ini berjalan dengan sangat baik dan mewah karena memang acara ini untuk sahabat yang sudah dia anggap sebagai keluarganya sendiri, dia ingin melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan sahabatnya itu.


"Saya sih ikut Bu dokter aja, saya percayakan semuanya sama Bu dokter sama pak Bram juga, iya kan mas?" Nadira menoleh ke arah dokter Reza sembari tersenyum.


"I-iya sayang" ujar dokter Reza. "udah lah Bram, urus urus sendiri saja! Kamu kan paling jago ngurusin acara kaya gini" ujar dokter Reza sembari menepuk pundak sahabatnya itu.


Mereka Pun terus berbincang membicarakan acara pernikahan itu sedangkan Ilham, dia duduk di taman belakang sendirian. Anak itu terlihat melamun sembari menatap pantulan wajahnya di atas air. Entah apa yang sedang dia pikirkan tapi yang jelas wajahnya memperlihatkan kesedihan yang mendalam, mungkin ini karena masalah keluarganya, dan bahkan mungkin semua ini ada hubungannya dengan penggadaian rumah itu.


"Itu kayaknya Ilham, lagi apa dia disitu? Sendirian lagi!?" Tanya bi Minah penasaran. Bi Minah kebetulan sedang bersih bersih di ruang keluarga jadi dia tidak sengaja melihat Ilham yang sedang duduk sendiri di tepi kolam.


"Ilham.. kamu lagi apa disini nak? Bunda kamu mana?" Tanya bi Minah. Bi Minah menyimpan semua peralatan kerjanya lalu menghampiri Ilham.

__ADS_1


"Bunda ada kok bi" jawab Ilham. Ilham berbicara tanpa menatap bi Minah membuat bi Minah sangat penasaran dengan anak itu karena tidak biasa dia bersikap seperti ini terhadapnya.


"Terus kenapa Ilham sendirian disini? Kok gak sama bunda?" Tanya bi Minah lagi


"Ilham lagi pengen sendiri bi, lagian bunda lagi ngobrol sama Bu dokter" jawab Ilham. Ilham terlihat sangat kesal sekali ketika bi Minah menyebut nama bundanya, sepertinya Ilham sangat kesal kepada bunda dan semua orang yang berada di rumah itu, dia malas sekali mendengarkan obrolan mereka tentang pernikahan bundanya.


"Tadi dokter raisa sama pak Bram lagi ngomongin acara pernikahan Bu Nadira, berarti Ilham dengar semuanya, pasti Ilham tidak suka kalau bundanya mau menikah lagi, ya Allah, kasian banget sih kamu nak" batin bi Minah.


"Ilham gak boleh sendiri, bibi temenin ya!" Ujar bi Minah. Bi Minah mengerti dengan perasaan Ilham, sekarang dia tau kenapa Ilham ingin sendiri disini, dia pasti belum menerima jika bundanya akan menikah lagi dengan dokter Reza. "Kita ke kamar bibi yu!, Bibi mau ngobrol sesuatu sama kamu nak, sekalian bibi juga punya sesuatu buat Ilham sama Sifa, gimana? Ilham mau ngobrol sama bibi di kamar bibi?" Tanya bi Minah. 


Mendengar perkataan bi Minah ilham menoleh ke arah bi Minah, dia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Ayo nak!" Bi Minah bangkit dari duduknya. Dia meraih tangan Ilham lalu mengajaknya untuk berbicara di kamar. 


Bi Minah merasa kasihan sekali dengan anak itu, bi Minah mengerti Ilham pasti merasakan dilema yang sangat luar biasa. Dia tau Ilham butuh sekali teman untuk sekedar berbincang, teman yang mengerti perasaannya saat ini, itu sebabnya bi Minah mengajak anak itu untuk berbicara empat mata di kamar, dia ingin Ilham mengungkapkan isi hatinya selama ini sekalian bi Minah ingin memberi masukan kepada anak itu agar dia mau mengerti tentang kondisi orang tuanya saat ini.


"Sini nak, duduk dekat bibi" ujar bi Minah. Kamar bi Minah yang terletak di belakang terasa adem dan nyaman, kamarnya juga menghadap ke area taman belakang rumah yang dihiasi tumbuh tumbuhan hijau membuat suasana di kamar itu terasa sejuk jauh sekali dari perkataan / teriakkan orang. 

__ADS_1


"Terimakasih ya bi, baru kali ini Ilham masuk ke kamar bibi ternyata kamarnya bagus ya bi, nyaman!" Ujar Ilham tersenyum. Kamar itu terlihat luas sekali. Banyak sekali pakaian disana, mungkin cucian yang belum disetrika.


"Beginilah kamar bibi nak, berantakan sekali, banyak cucian yang belum bibi setrika" ujar bi Minah tersenyum. "Kamar bibi gak sebagus kamar kalian jadi maklum saja ya nak" ujar bi Minah lagi.


__ADS_2