30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
membicarakan pernikahan


__ADS_3

Nadira menatap kedua anaknya dengan tatapan mata yang serius ketika Sifa dan Ilham menyodorkan sebuah kotak berisi kado tersebut, ketika dia membukanya dia tidak percaya kalau mereka bisa membelikan dia hadiah mahal seperti yang dia lihat saat ini, dia benar benar tidak percaya, Nadira bertanya tanya Sifa dan Ilham punya uang dari mana sehingga dia bisa membelikan dia hadiah seistimewa itu.


"Sifa dan Ilham dapat uang dari mana, kenapa mereka bisa beli barang mahal kaya gini?" Batin Nadira. Sembari memegangi hadiah itu Nadira memikirkan uang yang mereka dapatkan, dia takut mereka berani mengambil uang orang lain. Nadira mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada mereka.


"Terimakasih banyak sayang, bunda terima ya hadiahnya" Nadira memeluk kedua anaknya dengan erat sembari terus menciumnya. "Sekarang kalian main lagi ya sama Tante Lisa, bunda mau ngobrol dulu sama bunda cantik, sebentar ya! Boleh kan?" Nadira meminta izin untuk berbicara dengan dokter Raisa empat mata saja, dia juga menoleh ke arah Reza dan Reza pun menganggukkan kepalanya mengerti dengan maksud Nadira.


"Baik bunda" ujar Sifa. 


"Ayo sayang, sekarang kalian main sama om ya! Nanti om kasih hadiah buat kalian" dokter Reza mengajak kedua anak itu untuk bermain dengannya, dia ingin mendekati mereka agar mereka terbiasa.


"Mau om, kita main apa?" Sembari berjalan Sifa terus bertanya kepada calon ayahnya itu, mereka terlihat gembira sekali bisa bermain dengan sosok tinggi besar nan ganteng seperti dokter Reza.


"Mereka terlihat senang sekali ya Bu" ujar dokter Raisa sembari terus memperhatikan mereka yang sudah mulai terhalang tembok.


"Alhamdulillah dok, semoga mereka nyaman bersama dokter Reza" 


"Pasti Bu, Reza itu orangnya penyayang sekali sama anak anak, mereka pasti betah bermain sama Reza, kalau saja dulu Reza tidak bercerai dengan sophia, saya yakin anaknya  sudah seumuran sifa" ujar dokter Raisa. Dia teringat masalalu Reza yang hampir sama seperti Nadira, tapi mungkin penderitaan Reza jauh lebih parah dari Nadira karena Reza harus menahan rindunya kepada sang anak yang dibawa pergi oleh ibunya.


"Seumuran Sifa?, maaf kalau boleh saya tau anak dokter Reza perempuan atau laki laki dok?" Nadira kaget ketika mendengar anak dari dokter Reza sampai sampai Nadira menatap dokter Raisa dengan serius.

__ADS_1


"Iya Bu Nadira, anaknya laki laki, ganteng sekali seperti ayahnya" jawab dokter Raisa tersenyum


"Kasian ya dokter Reza, dia pasti ingin sekali ketemu sama anaknya"


"Justru itu Bu, dia sudah beberapa kali hubungi mantan istrinya tapi tak ada jawaban, sekarang saya tidak tau dia dimana, karena dulu pun waktu pertama Sophia ketahuan berselingkuh dia langsung menghilang bawa anak Reza, Entahlah" dokter Raisa menatap pintu kamar itu dengan mata kosong, dia sangat memikirkan nasib temannya itu.


"Semoga saja dokter Reza bisa cepat cepat bertemu anaknya ya dok" ujar Nadira tersenyum


"Amiiiinnn Bu, terima kasih banyak" dokter Raisa menatap mata Nadira sembari tersenyum manis, dia duduk disebelah Nadira lalu menggenggam tangannya dengan erat.


Dokter Raisa sebenarnya berniat untuk menjodohkan Reza dengan Nadira padahal Nadira sendiri sudah jelas jelas akan menikah dengan dokter Reza hanya saja Nadira belum memberi tahu Raisa masalah pernikahannya jadi dokter Raisa belum mengetahuinya.


"Sama sama Bu" 


"Ngobrol apa Bu?" Tanya Nadira penasaran. Jantung Nadira tiba tiba berdebar sangat kencang ketika dokter Raisa ingin mengatakan sesuatu terhadapnya, dia takut anak anaknya berbuat masalah.


"Maaf sebelumnya Bu, Bu Nadira jangan tersinggung ya!" Ujar dokter Raisa tidak enak "gini Bu, saya berniat menjodohkan ibu dengan dokter Reza" Nadira kaget mendengar perkataan dokter Raisa, Nadira langsung menoleh ke arah Raisa begitu juga Raisa, dia menoleh ke arah Nadira sembari tersenyum tidak enak.


"Me-jodohkan saya?" Dengan gugupnya Nadira balik bertanya kepada Raisa. Dia menatap dokter Raisa dengan tatapan tajam

__ADS_1


"Maaf sebelumnya Bu, saya tidak bermaksud apa apa" dokter Raisa menundukkan kepalanya karena merasa tidak enak dengan Nadira, dia merasa dirinya telah lancang berkata seperti itu terhadap ibu dua orang anak itu "maaf Bu, saya hanya ingin ibu dan kedua anak ibu bahagia, saya yakin dokter Reza pasti bisa jadi ayah yang baik untuk Ilham dan Sifa" dia menjelaskan semua keinginannya, tapi dokter Raisa kembalikan lagi semuanya kepada Nadira, karena semua keputusan ada ditanganya.


Nadira hanya diam, dia tersenyum menoleh ke arah dokter Raisa dengan tangan yang merangkul ke pundak dokter cantik itu.


"Ya Allah dok, tidak papa! dokter tidak perlu merasa tidak enak seperti itu, sebenarnya saya juga ajak dokter bicara empat mata untuk membicarakan itu dok" ujar Nadira tertawa


"Membicarakan apa Bu?" Dokter Raisa bertanya tanya, dia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Nadira.


"Saya ingin berbicara tentang resepsi pernikahan saya dengan dokter Reza" dokter Raisa kaget mendengar jawaban Nadira barusan, matanya terbelalak seakan keluar dari sangkarnya.  Dia tidak percaya bahwa Nadira dan dokter Reza sudah menjalin hubungan.


"Re-resepsi pernikahan? Ibu serius? IBu Nadira tidak bercanda kan?" Tanya dokter Raisa


"Saya serius Bu, saya dan dokter Reza akan segera menikah" jawab Nadira tersenyum, dia menatap mata dokter Raisa dengan tatapan serius.


Mendengar perkataan Nadira, dokter Raisa sangat bahagia sekali, dia sekali lagi menggenggam tangan Nadira dengan mata yang berkaca-kaca, dia benar benar bersyukur, semua keinginan Raisa akhirnya tercapai dimana sahabat yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri akhirnya bisa menemukan pendamping hidup yang baik seperti Nadira yang tak lain ibu dari kedua anak baik yang juga sangat dia sayangi, ini tentu adalah kabar yang sangat membahagiakan untuk Raisa dan suaminya.


Raisa memeluk Nadira dengan erat, dia tak kuasa menjatuhkan air mata kebahagiaannya.


"Ya Allah Bu, saya tidak percaya akan seperti ini, Allah benar benar kabulkan semua keinginan saya, terimakasih Bu Nadira" dokter Raisa mengelus punggung Nadira sembari terus menangis terisak.

__ADS_1


"Mungkin sudah jalannya seperti ini dok, saya yang harus berterima kasih sama dokter, berkat dokter saya bisa bertemu dengan dokter Reza, terimakasih banyak dokter" ujar Nadira, Nadira juga tak kuasa menjatuhkan air mata kebahagiaannya, dia benar benar bersyukur bisa bertemu orang orang baik seperti dokter Reza dan dokter Raisa.


"Sama sama Bu"


__ADS_2