30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
ingin sekali membantu nadira


__ADS_3

"Maaf ya dok, saya dan anak anak merepotkan dokter Raisa terus" ujar Nadira lagi. Dia terus dan terus meminta maaf kepada dokter Raisa, dia benar benar tidak enak hati.


"Sudah Bu, jangan bilang kaya gitu lagi, dengar ya Bu, saya tidak merasa direpotkan, saya senang ibu dan anak anak bisa tinggal disini, lihatlah Bu rumah sebesar ini hanya dihuni 2/4 orang, jadi sepi rasanya kalau tidak ibu dan anak anak, jangankan tinggal satu atau dua hari tinggal selamanya pun saya tidak keberatan Bu" ujar dokter Raisa. Dokter Raisa mempersilahkan Nadira untuk duduk disebelahnya, tepatnya di sofa ruang keluarga, dokter Raisa sengaja mengajak Nadira untuk duduk sebentar, dia ingin berbincang sembari menikmati teh hangat bersama ibu dua anak itu.


Ketika Nadira dan dokter Raisa sedang berbincang di rumahnya, di rumah Agus, Clara, ibu Agus dan Agus juga sedang berbincang sembari makan bersama, terlihat di meja makan ada sayur SOP, ikan asin, sambal dan lalapan kesukaan Agus, mereka terlihat menikmati hidangan itu dengan lahap, begitu juga Clara, Clara senang sekali bisa bertemu dengan keluarga sehangat ini. Dia sangat menikmati hidangan yang dibuat ibu Agus, masakan kampung yang sudah lama tidak Pernah dia rasakan.


"Maaf Gus, saya mau tanya kamu kok gak masuk kerja hari ini?" Tanya Clara yang merasa heran melihat Agus tidak masuk kerja.

__ADS_1


"Hari ini saya libur Bu, ibu sendiri kenapa dipecat dari kantor?" Agus balik bertanya kepada Clara. Sebenarnya Agus ingin bertanya dari tadi tapi dia merasa tidak enak, jadi dia memberanikan diri bertanya sekarang karena kebetulan Clara juga bertanya kepadanya.


"Ceritanya panjang, Elsa yang memecat saya dari kantor Gus, besok kalau kamu masuk kerja, saya mau titip berkas berkas kantor sama kamu ya! Kamu kasih sama pak Bayu" Clara ingin meminta tolong untuk memberikan berkas penting itu kepada Agus karena mungkin dia tidak akan pernah mau kembali lagi ke kantor Bayu lagi.


"Elsa? Berkas penting?'' tanya Agus. Agus sebenarnya tidak suka dengan pemimpin perusahaan yang sekarang yaitu Bayu, apalagi setelah dia mendengar perselingkuhan antara Elsa dengan Bayu. Agus sangat Benci, kalau saja dia tidak butuh uang untuk menafkahi keluarganya mungkin dari dulu Agus sudah berhenti dari perusahaan itu.


"Iya, Elsa si pelakor itu gus? Kasian Bu Nadira, suaminya direbut sahabatnya sendiri, sekarang Bu Nadira dimana ya Gus?" Sembari menyuap nasi ibu Agus melamun memikirkan Nadira dan kedua anaknya. Keluarga Agus dari dulu sudah kenal dekat dengan Nadira jadi mereka sudah menganggap Nadira seperti keluarganya sendiri.

__ADS_1


"Benar kata ibu Agus, Elsa memang sangat kejam, kasian Bu Nadira, kalau saja aku tau keberadaan Bu Nadira, aku ingin sekali bertemu untuk meminta maaf, selama ini aku berpihak kepada Elsa padahal Elsa yang salah, dia sudah merampas kebahagiaan orang lain" batin Clara


"Ibu, sudahlah Bu, jangan bahas itu lagi, kita doakan saja Bu Nadira, semoga Bu Nadira bisa kembali dan mengambil alih perusahaannya lagi" ujar Agus. Agus sangat berharap Nadira bisa mengambil alih perusahaan lagi karena setelah perusahaan di pegang oleh Bayu, perusahaan itu jadi tidak beres, banyak sekali karyawan yang keluar masuk karena tidak betah dengan ulah Bayu yang terlalu angkuh.


"Oh jadi perusahaan itu punya Bu Nadira, bukan punya pak Bayu?" Tanya Clara ingin tahu.


"Iya Bu, perusahaan itu peninggalan orang tua Bu Nadira, dulu waktu saya baru masuk kerja di Perusahaan itu perusahaan masih dipegang oleh BPK Bu Nadira, jadi sedikit banyak saya tau keluarga Bu Nadira" jawab Agus tersenyum

__ADS_1


"Oh, saya kira perusahaan itu milik pak Bayu" ujar Clara. Sekarang Clara tau tentang semuanya. Dia bersyukur bisa bertemu dengan keluarga Agus jadi dia tau bisa tau semuanya


__ADS_2