30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
harapan Bayu??


__ADS_3

Hari semakin siang, waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, dokter Raisa yang tadi mengantarkan Ilham dan Sifa ke sekolah sekarang dia tidak bisa menjemput mereka karena pekerjaannya yang tidak bisa dia tinggalkan.


Dokter Raisa merasa tidak enak dengan kedua anak baik itu, tadi pagi dia sempat berjanji kepada mereka, dia akan menelpon Nadira sepulang mereka dari sekolah, tapi dokter Raisa tidak bisa menepati janjinya, dia tidak bisa meninggalkan pasien pasiennya di rumah sakit, itu yang membuat dia terlihat sangat kebingungan, dia benar benar merasa tidak enak, dia terus melamun menatap komputer dengan tatapan kosong, pikirannya melayang tidak karuan, memikirkan Ilham dan Sifa yang sebentar lagi akan pergi jauh dari kehidupannya,  disaat har harii terakhirnya dia justru sibuk dengan pasien pasien yang tidak mungkin bisa dia tinggalkan.


Tok


Tok


Tok


Suara orang yang mengetuk pintu ruangan dokter Raisa.


Dokter Raisa yang sedang melamun pun sontak kaget mendengar ketukan pintu ruangan nya.


"Iya masuk!" Teriak dokter Raisa dari dalam ruangan.


Cleeeekk.


Pintu ruangan itu terbuka, ternyata ana suster kepercayaan dokter Raisa masuk menghampiri dokter cantik itu dengan membawa sebuah map ditangannya.


"Maaf dok, siang ini kita harus segera periksa pasien pasien kita di ruang sebelah, kasian mereka dok, mereka sudah menunggu kita dari tadi, kita harus segera menanganinya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan" ujar ana 


Ana menyodorkan map yang dia bawa kehadapan dokter Raisa.


"Ini apa ana?" Tanya dokter Raisa kebingungan


"Ini daftar pasien yang ada di ruangan melati dok, bulan ini pasiennya bertambah 10 orang, banyak sekali pasien baru yang mengidap penyakit kanker ini dok, kita harus segera menanganinya" jawab ana 

__ADS_1


"Ya Allah, kok bisa?" Tanya dokter Raisa kaget


Karena terlalu memikirkan Ilham dan Sifa, dokter Raisa tidak ngeh kalau bulan ini pasiennya meningkatkan drastis, saking tidak konsennya dia tidak merasa kalau selama ini pasien yang dia periksa sampai sebanyak ini.


"Loh dok, dokter sendiri kan yang tiap hari periksa pasien pasien ini, kok dokter malah kaget seperti ini?" Tanya ana yang tidak mengerti dengan dokter cantik itu.


"Iya ana, maaf akhir akhir ini saya lagi kurang fokus, hari ini kita harus tangani ini, kita harus melakukan yang terbaik untuk pasien pasien kita" jawab dokter Raisa dengan tegas


"Ok dok, ayo!" Ujar ana tersenyum


Dengan penuh rasa bersalah, dokter Raisa bangkit dari duduknya, dia berjalan mengikuti ana sembari terus memegangi ponsel, sebelum dia kembali kerja, dokter Raisa mengirim pesan kepada bi Minah kepada BI Minah, menyuruh bi minah untuk menjemput Ilham dan Sifa di sekolah, dokter Raisa juga menitip pesan kepada bi Minah agar BI Minah menyampaikan ucapan maafnya kepada anak anak baik itu karena dia belum bisa menepati janjinya.


"Semoga saja bi Minah membuka pesan ini" batin dokter Raisa.


Dengan perasaan tidak enak, dokter Raisa masih berjalan mengikuti ana, kakinya terus berjalan menelusuri kamar demi kamar di rumah sakit itu, tapi hatinya tidak berada disana, dokter Raisa merasa dirinya melayang, dia merasa jiwa dan raganya terpisah, sangat sulit diucapkan dengan kata kata.


Truuung.


Ponsel Bi Minah berbunyi begitu nyaring.


"Tumben ada yang kirim pesan jam segini, siapa ya?" Tanya bi Minah yang sedang sibuk menyiapkan makan siang di dapur.


BI Minah pun mencoba mengambil ponselnya yang terongok di meja, dia mulai membuka pesan itu lalu membacanya dengan serius.


"Ya Allah Gusti, udah jam berapa ini, kok dokter Raisa baru kasih tau sekarang, Ilham sama Sifa pasti sudah nunggu dari tadi" ujar bi minah yang terlihat sedikit kesal kepada majikannya itu.


Setelah membaca pesan itu, Dengan terburu buru bi Minah bergegas menemui pak Karyo, saking khawatirnya dengan Sifa dan Ilham, bi Minah sampai meninggalkan pekerjaannya di dapur, dia juga pergi jemput Ilham dan Sifa dengan memakai baju daster kucel, dia tidak menghiraukan penampilannya karena dia takut kedua anak baik itu menunggu dia terlalu lama.

__ADS_1


"Pak Karyo, ayo kita jemput anak anak sekarang! Kasian mereka pasti sudah nunggu kita dari tadi" teriak bi Minah kepada pak Karyo yang sedang tidur di pos


"Loh! Bukannya Bu dokter yang jemput Sifa sama Ilham?" Tanya pak Karyo kebingungan


Pak Karyo yang sedang tidur kaget ketika mendengar teriakkan bi Minah yang menyuruh dia untuk jemput anak anak, padahal tadi dokter Raisa sudah bilang kalau siang ini dia yang akan jemput mereka.


"Nanti kita ngobrolnya di mobil, ayooo! Kasian mereka nunggu lama, hari ini mereka kan masuk setengah hari" jawab bi Minah cemas


Melihat bi Minah yang ketir seperti itu, pak Karyo pun berlari mengambil mobil ke garasi, dia menghidupkan mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sekolah Ilham dan Sifa yang tak jauh dari rumah itu.


_di kantor bayu_


Tubuh kekar nan kuat seketika rapuh tak berdaya ketika tangannya memegangi sebuah kado pemberian kedua anaknya yang masih dia simpan rapi di meja kerja. mata yang biasanya menatap tajam kini berurai air mata ketika melihat foto sang istri tercinta yang sudah pergi jauh dari kehidupannya.


Sebuah kenangan yang menyisihkan sedikit harapan dalam dada.


Masih pantaskah?


Rasa bersalah itu selalu menghantui pikirannya, hingga muncul sebuah pertanyaan yang menjadi PR tersulit yang harus segera dia pecahkan.


Menurut para readers.


Apakah Bayu bisa mendapatkan maaf dari Nadira?


Masih pantaskah dia hidup bersama Nadira?


Baca kelanjutannya ya!

__ADS_1


__ADS_2