30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
kasih sayang dokter Reza


__ADS_3

Hari semakin larut, adzan Maghrib berkumandang saling bersahutan dari berbagai penjuru kota, waktunya untuk para kaum muslimin melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Gemericik air hujan tak hentinya menetes membasahi dedaunan, semilir angin berhembus kencang seraya membuat tubuh terasa dingin menembus tulang.


Nadira yang kala itu sedang mengeluarkan jaket dari dalam tasnya, dokter Reza datang menghampirinya lalu menyodorkan sehelai sajadah berwarna hijau muda tepat ke hadapannya.


Nadira menoleh ke arah pria bertubuh besar itu sembari tersenyum manis. Lalu meraih sajadah itu dari tangannya.


"Ayo sayang kita sholat berjamaah!" Ajak dokter Reza kepada calon istrinya itu. 


Nadira menganggukkan kepalanya sembari tersenyum manis, dia mengikuti langkah kaki Reza sembari berusaha memakai jaket yang sedari tadi sudah berada di tangannya.


"Mas liat Sifa sama Ilham gak?" Tanya Nadira. Dia menyusul langkah kaki reza lalu menoleh ke arahnya, sekarang posisi berjalan mereka sejajar.


"Anak anak lagi sama Lisa di kamarnya, memangnya kenapa sayang, kamu mau ajak mereka sholat berjamaah sama kita?" Reza menghentikan langkah kakinya. Dia menunggu jawaban Nadira. Karena letak mushola yang berada di luar ruangan villa dia jadi harus menunggu jika nadira mau mengajak kedua anaknya agar mereka bisa berangkat sama sama ke mushola tersebut.


"Lain kali aja mas, lagian di luar kan hujan" jawab Nadira sembari meletakkan kedua tangan di dadanya, memperlihatkan kalau dia sangat kedinginan.


"Sayang kamu kedinginan?" Tanya Reza yang melihat bibir Nadira mulai membiru. Dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Nadira merangkulnya hingga tubuh mereka saling berdekatan.


Nadira gugup ketika tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Reza, dia tidak menjawab pertanyaan cowok yang ada di sampingnya itu, dia hanya diam mengikuti langkah kakinya menuju musholla sembari menikmati kehangatan tubuh kekar sang dokter. 


Ketika mereka sudah sampai di depan halaman musholla. Nadira menghentikan langkahnya lalu menggenggam tangan Reza dengan erat.

__ADS_1


"Terimakasih ya mas" ujar Nadira, Nadira menoleh ke arah Reza dengan mata yang berkaca-kaca. 


"Terimakasih untuk apa sayang?" Tanya reza, dia menghentikan langkah kakinya lalu memegang wajah manis itu dengan kedua tangannya. posisi mereka saat ini saling berhadapan. "Jangan bilang terimakasih terus ya karena mas sudah bosen dengernya, sekarang kita sholat dulu! Setelah sholat kita ngobrol lagi, takut waktu maghribnya keburu habis, mas sayang sayang sayaaaaang banget sama kamu Nadira" ujar dokter Reza, dokter Reza mencubit hidung Nadira dengan lembut, dia mengelus kepala Nadira sembari tersenyum lalu berjalan menuju air untuk mengambil wudhu.


Melihat sikap dokter Reza yang penuh kasih Nadira tak kuasa menjatuhkan air matanya. Dia tidak pernah bermimpi akan mendapatkan kasih sayang seperti ini lagi dari seorang laki laki terlebih dia pernah menjalin suatu hubungan yang membuat hatinya sangat sakit hingga terpuruk.


"Ya Allah, terimakasih engkau telah menghadirkan sosok laki laki yang bisa membuatku lupa akan sakitku, kuasamu sungguh sangat luar biasa" batin Nadira, Nadira menatap langit yang terlihat hitam pekat itu sembari menjatuhkan air matanya. 


"Sayang… ayo!!" dokter Reza memanggil Nadira untuk mengambil wudhu bersamanya. Nadira yang mendengar teriakkan itu pun menoleh ke arah Reza sembari menganggukkan kepalanya "iya mas, sebentar!" Jawab Nadira. Nadira pun menyimpan sajadahnya di depan pintu mushola lalu berjalan menghampiri Reza yang sedang mengambil air wudhu.


Ketika Nadira dan dokter Reza bersiap untuk melaksanakan sholat Maghrib, bayu dan clara malah asik berbincang di sebuah cafe yang tak jauh dari kantornya. Clara menemani bayu karena memang tadi bayu mengajak Clara untuk bertemu dengan clien di cafe tersebut tapi karena clien ya tak kunjung datang mereka jadi makan berdua saja.


"Maaf pak, tadi Elsa cari bapak ke kantor, apa bapak sudah bertemu dengan Elsa?" Tanya clara ingin tahu. sebenarnya Clara malu bertanya seperti itu kepada Bayu tapi karena dia tidak memiliki pembahasan yang lain dia terpaksa bertanya tentang sahabatnya sembari memperhatikan tingkah laku Bayu yang terlihat cool. pesona Bayu ternyata mencuri perhatian Clara, jantungannya berdebar kencang ketika melihat kegagahan dan ketampanan wajah bayu yang sedang duduk tepat dihadapannya itu.


"Saya sudah bertemu dengan dia, apa yang dia bicarakan sama kamu Clara?" Tanya Bayu. Bayu menatap Clara dengan serius hingga membuat jantungnya berdebar semakin kencang.


"Elsa gak ngomong apa apa pak, dia cuma nanyain bapak?" Jawab Clara menundukkan kepalanya. Dia merasa gugup karena bosnya itu terus memperhatikan dia dengan mata setengah melotot.


"Trus kamu jawab apa sama dia? Dari mana kamu tau tadi saya lagi di villa?" Bayu terus bertanya kepada Clara. Dia meletakkan tangannya di atas meja, mendekatkan tubuhnya ke hadapan Clara hingga wajah Bayu dan Clara hampir bersentuhan.


"Sa-saya gak tau bapak tadi dr villa pak" Clara semakin menunduk, dia takut dengan tatapan Bayu yang seakan akan menuduhnya. Padahal Clara tidak tau apa apa.

__ADS_1


"Trus Elsa tau dari mana keberadaan saya kalau bukan dari kamu Clara, saya tau kamu itu orang suruhan Elsa? Kamu pura pura kerja di kantor saya hanya untuk mata matai saya kan?" tanya Bayu dengan tegas. Clara semakin menundukan kepalanya. Tubuhnya tiba tiba gemetar tak karuan.


"Ya Allah, aku harus jawab apa" ujar Clara dalam hati. Clara bingung harus berkata apa kepada bosnya itu, dilema melanda pikirannya saat ini, jika dia bilang iya pasti dia akan dipecat dari tempat kerjanya tapi jika dia bilang tidak dia akan berbohong kepada bosnya itu.


Ketika Bayu menunggu jawaban dari Clara, handphone Clara tiba tiba berbunyi begitu nyaring, membuat Bayu sedikit memundurkan badannya, dia memalingkan wajah kesalnya itu sembari bersandar di kursi dengan melipat tangan di dadanya. Angkuh.


Clara dengan cepat mengambil ponselnya di dalam tas. Nampak nama Elsa muncul di layar ponselnya.


"Elsa, ngapain dia telpon aku?" Batin Clara. Dia menatap Bayu dengan perlahan lalu tunduk kembali "ngapain kamu liatin saya? Siapa yang telpon kamu? Elsa?" Nyinyir Bayu. Bayu memalingkan wajahnya kembali menunggu Clara mengangkat telpon dari istrinya itu.


"Ayo angkat, bilang sama dia kalau saya sama kamu ada disini" ujar Bayu.


"I-iya pak" ujar Clara. Clara menelan salivanya bulat bulat. Dia mencoba mengangkat telpon dari sahabatnya itu dengan tubuh yang masih gemetar tak karuan.


"Hallo sa" Clara mengangkat telpon. Clara menatap Bayu dengan tatapan memelas.


"Kamu dimana Clara? Kamu lagi sama mas Bayu kan?" Tanya Elsa. Clara lagi lagi menatap Bayu. Dia bingung harus menjawab apa pada sahabatnya itu.


Bayu menggerakkan tangannya turun naik seakan akan menyuruh Clara untuk menaikkan volume telepon itu. Bayu juga menganggukkan kepalanya agar Clara menjawab iya kalau dia sedang bersama Bayu di cafe itu.


"I-iya Sa" jawab Clara

__ADS_1


__ADS_2