
"Ya Allah, kenapa ibu bisa diusir?" Tanya Agus ingin tahu. "Sekarang Orang tua bu Clara dimana?" Tanya Agus lagi.
"Ceritanya panjang Gus, sekarang saya bingung harus pergi kemana, ibu dan saudara saya tinggal di kampung, saya tidak mungkin pulang ke kampung dalam kondisi seperti ini" jawab Clara menundukkan kepalanya.
"Ya sudah! untuk sementara ibu bisa tinggal di rumah saya Bu, kebetulan ibu saya sendiri di rumah, dia pasti senang kalau saya bawa ibu ke rumah" Agus sangat prihatin dengan kondisi Clara saat ini jadi dia mencoba mengajak Clara ke rumahnya agar ibunya bisa ada teman ngobrol.
"Beneran Gus? Saya boleh ikut ke rumah kamu?'' tanya Clara kaget, Clara menatap Agus dengan serius, dia masih tidak percaya dengan apa yang Agus bicarakan barusan.
"Bener Bu, ayo!" Ujar Agus. Agus mulai beranjak dari tempat itu berharap Clara mau mengikutinya dari belakang. Dia benar benar ingin sekali menolong Clara, dia tidak mungkin membiarkan seorang wanita diam sendiri di pos di waktu yang masih larut malam seperti ini.
Melihat Agus yang mulai berjalan meninggalkan dirinya, Clara pun mulai beranjak mengikuti Agus dari belakang, dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Agus malam ini, karena kalau tidak mungkin sekarang dia masih bengong di pos itu sendirian dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
"Tok tok tok… assalamualaikum Ambu" Agus mengetuk pintu rumahnya mengucap salam, kebetulan rumahnya tepat di belakang mesjid jadi mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke rumah agus.
"Waalaikumsalam nak" ibu Agus membuka pintu rumah itu.
"Ayo masuk Bu Clara!" Ujar Agus. Agus menarik tangan Clara untuk masuk ke dalam rumahnya. "Kenalin ini ibu saya" ujar Agus kepada Clara mencoba mengenalkan ibunya.
"Terimakasih Gus, Bu kenalkan saya Clara, teman kerja Agus di kantor" Clara menyodorkan tangannya ke hadapan ibu agus hingga mereka bersalaman.
"Oalah, cantik sekali kamu nak, ayo silahkan duduk! Sebentar ya nak! Biar ibu buatin teh hangat dulu buat kalian"
Ketika Clara dan Agus berbincang sembari menikmati teh hangat, di villa tepatnya di kediaman keluarga Raisa saat ini, Nadira bangun dari tidurnya berjalan menuju mushola. Dia meninggalkan kedua anaknya yang masih tertidur lelap untuk melaksanakan sholat Sunnah seperti yang biasa dia lakukan ketika di rumah.
__ADS_1
Nadira berjalan dengan perlahan menyusuri setiap ruangan di villa itu, tangannya dengan hati hati membuka pintu masuk villa itu lalu menutupnya kembali. Dia tidak ingin jejaknya menimbulkan suara karena itu dapat membangunkan
"Ya Allah, indah sekali ciptaanmu" sembari melihat dedaunan hijau yang masih tertutup kabut Nadira menghela nafas panjang lalu membuangnya, dia merasakan sejuknya angin pagi yang bisa membuat pikirannya saat ini fresh.
Nadira melangkahkan kakinya menuruni satu demi satu anak tangga yang berada di halaman villa itu, dia berjalan menuju mushola sembari terus menikmati sejuknya angin pagi.
Nadira seakan terbiasa bangun di waktu sepertiga malam untuk melaksanakan sholat yang dimana ketika dia bisa berhadapan dengan Tuhannya-allah dia bisa merasakan ketenangan yang sangat luar biasa, Nadira menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa, meminta kepada sang rob agar semua urusannya berjalan dengan lancar.
"Ya Allah, tuhan semesta alam tabahkanlah hatiku dalam menghadapi semua ujian yang engkau berikan, berikanlah kelancaran urusanku dunia maupun akhirat, berikanlah kesehatan untukku, kedua anakku serta orang orang yang aku sayangi ya Allah, aku memohon kepadamu tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang, kuatkanlah aku, kuatkan lah badanku ya rab" ujar Nadira dalam doanya.
Sembari membuka mukena yang dia kenakan, Nadira tak kuasa menjatuhkan air matanya, Nadira tak bisa menahan kesedihannya setiap kali dia sedang berhadapan dengan Tuhannya, dia benar benar merasa tak mampu menghadapi semuanya sendiri, dia merasa kalau dirinya terlalu lemah.
"Sayang, kamu disini juga?" Tanya dokter Reza yang baru saja masuk, kebetulan dokter Reza juga ingin melaksanakan shalat Sunnah.
"Kamu kenapa sayang? Kamu nangis?" Tanya dokter Reza yang melihat wajah Nadira sembab, dia mencoba mendekat ke arah Nadira untuk melihat wajah wanita yang sangat dia cintai itu. Dokter Reza tidak mau sampai Nadira bersedih seperti ini, dokter Reza ingin selalu membuat Nadira bahagia dan nyaman ketika di dekatnya.
"Nggak mas, barusan aku kelilipan, banyak debu disini, mungkin mushola ini jarang sekali ditempati orang" ujar Nadira tersenyum. "Ya sudah sekarang mas sholat dulu aja, aku tunggu mas disini ya!?" Ujar Nadira
"Iya sayang, mas sholat dulu ya!"
Melihat dokter Reza yang mulai mengerjakan 2 raka'at sunat Nadira tak kuasa menjatuhkan air matanya kembali, dia sangat bahagia melihat dokter Reza yang rajin sekali beribadah seperti ini, beda sekali dengan suaminya yang dulu, dulu Nadira tidak pernah melihat Bayu mengerjakan sholat, bahkan Nadira tidak pernah merasakan bagaimana rasanya sholat berjamaah bersama sang suami.
"Terimakasih banyak ya Allah, sekarang aku tau kenapa engkau membiarkan mas Bayu menyakitiku, engkau menjauhkan aku darinya untuk menghadirkan sosok pria yang lebih baik dalam hidupku, aku benar benar sangat bersyukur ya Allah" batin Nadira
__ADS_1
Nadira terus memperhatikan dokter Reza yang sedang khusuk melaksanakan sholat, dengan terburu buru kedua tangannya mencoba menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya, dia tidak mau dokter Reza melihatnya menangis lagi, dia akan berusaha kuat di hadapan sang dokter agar dia tidak terlalu menambah beban pikiran sang dokter tampan itu.
"Sudah sholatnya?" Tanya Nadira yang melihat dokter Reza baru saja selesai melaksanakan shalat.
"Sudah sayang, kamu juga sudah beres kan? ayo kita ke villa lagi!" Jawab dokter Reza, dia menoleh ke arah Nadira sembari tersenyum.
"Sudah mas, Ayo"
Nadira dan dokter Reza pun meninggalkan mushola itu lalu kembali ke villa.
"Sayang…" dokter Reza menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk villa, dia memanggil Nadira karena ingin menanyakan sesuatu kepada calon istrinya itu.
"Apa mas?" Tanya Nadira. Nadira juga menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Reza sembari tersenyum. "Mas mau tanya apa?" Tanya Nadira lagi.
"Nanti berangkat ke pengadilan nya pagi pagi?"
"Iya mas, memangnya kenapa?" Tanya Nadira lagi
"Nggak sayang" jawab dokter Reza menggelengkan kepalanya. Dokter Reza sebenarnya ingin berbicara sesuatu kepada Nadira, tapi dia merasa tidak enak. Dia takut kalau dia bertanya sesuatu Nadira akan tersinggung dan marah kepadanya jadi dia memilih untuk diam.
"Kamu kenapa mas? apa ada yang ingin kamu tanyakan? Ayo bertanya saja, aku gak papa kok"
__ADS_1