
Karena sudah mendengar perkataan yang mengenakan hatinya, ilham pun tertidur Lelap. Rupanya anak itu sudah merasa lega mendengar perkataan bi Minah barusan.
"Alhamdulillah, akhirnya den Ilham tidur juga" ujar bi Minah. Bi Minah menjatuhkan air matanya melihat anak itu tertidur, dia merasa kasihan sekali melihat anak itu, saat ini Ilham mengorbankan hati dan perasaannya untuk keluarga tercintanya.
"Ya Allah, kasian sekali kamu nak, bibi gak tega liatnya, di umurmu yang sebesar ini kamu harus dituntut untuk dewasa, ya Allah, bahagiakanlah anak ini" ujar bi Minah terisak. Bi Minah mengelus kepala Ilham dengan penuh kasih sayang, dia menangis tersedu melihat Ilham berjuang untuk ayahnya yang sekarang serba kekurangan.
Tok
Tok
Tok
Terdengar orang yang mengetuk pintu kamar itu.
"Bi.. Ilham.. ini bunda nak!" Teriak Nadira dari luar kamar.
"Sebentar Bu" ujar bi Minah dari dalam kamar. Bi Minah menghapus air matanya lalu menghampiri Nadira yang menunggu di depan pintu.
Cleeeekk.
Bi Minah membuka pintu kamar itu.
"Maaf bi, sudah mengganggu waktu istirahat bibi, Ilham udah tidur kan?" Tanya Nadira tersenyum. Nadira ingin memastikan anak cikalnya itu sudah tidur atau belum. Dia khawatir sekali terhadap anak cikalnya itu karena akhir akhir ini Ilham terlihat menjauh darinya, Ilham tampak dingin terhadapnya.
__ADS_1
"Ka Ilham…" teriak Sifa berlari menghampiri Ilham. Sifa tidur di samping kakaknya, dia terlihat lucu sekali menyelimuti kakaknya membuat Nadira tersenyum melihat tingkahnya.
"Sayang, ayo nak, kita tidur!" Nadira mengajak anaknya itu untuk tidur bersamanya.
"Non Sifa tidur sama bibi aja ya Bu, ibu istirahat aja, kasian pak dokter sudah nunggu ibu dari tadi" ujar bi Minah tersenyum. Bi Minah meminta Nadira agar Sifa dan Ilham tidur bersamanya, dia mengerti sekali, malam ini Dokter Reza pasti sudah menanti Nadira di kamarnya.
"Ya sudah bi, saya permisi ke kamar dulu, saya titip anak anak ya! Maaf hari ini saya merepotkan bibi terus" ujar Nadira merasa tidak enak.
"Iya Bu"
Melihat anaknya yang sudah tertidur lelap, nadira pun pergi dari kamar itu berjalan menuju kamarnya, karena kamar Nadira dan kamar Ilham saling berhadapan jadi Nadira bisa bolak balik melihat mereka.
"Sayang, dari mana sih? Mas udah nunggu dari tadi" dokter Reza menyambut Nadira dengan pelukan mesra, begitupun Nadira, dia langsung memeluk dokter Reza dengan begitu eratnya.
"Barusan aku liat anak anak dulu sayang, aku khawatir sama mereka, kamu juga udah tau sendiri kan udah beberapa hari ini Ilham cuek sama aku" Nadira bermanja kepada suaminya itu, dia duduk diatas pangkuan Reza sembari terus memeluknya dengan mesra.
"Ahhh, mas Reza" ujar Nadira dengan manjanya.
Kedua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu mulai terjebak hasrat membara, tubuhnya bergelinjang hebat saat tangan itu meraba daerah sensitifnya.
"Aaahhh, enak mas" teriak ibu dua orang anak itu merasakan nikmatnya sentuhan.
"Mas sayang banget sama kamu Nadira" bisik dokter Reza di telinga Nadira. Nadira tersenyum sembari menggigit bibirnya, dia terlihat keenakan dengan sentuhan itu.
__ADS_1
"Aku juga sayang kamu mas" bisik Nadira juga.
Malam ini mereka melakukan pertandingan yang hebat, Mereka merasakan nikmatnya bercinta hingga suaranya terdengar hingga ke luar kamar.
"Itu suara apa bi?" Tanya Sifa yang mendengar ******* hebat bundanya. Malam itu bi Minah dan Sifa akan mengambil air minum ke dapur, tapi pas ditengah perjalanan mereka mendengar suara itu, Sifa jadi terlihat ketakutan, dia berlari ke kamar itu kembali lalu mengunci pintunya rapat rapat membuat bi Minah tak kuat menahan tawanya hingga dia kebablasan ngompol di celana.
"Ya Allah ah, ada ada aja non, kenapa harus lari, itu suara bunda non yang lagi *** ***, hahaha" bi Minah duduk di area tangga sembari tertawa terbahak bahak, dia tidak bisa berjalan ke dapur karena dia tidak bisa menahan kencingnya. Air itu terus keluar Ari area depannya, semakin keras tekanan itu maka semakin deras juga air yang keluar. "Ampuuun dah, sakit perutku ini, hahaha" bi Minah terus tertawa hingga dia tak merasa kalau celananya sudah basah dengan ompolnya.
Ya Allah, kenapa dirumah bunda jadi serem banget ya? Sifa harus gimana ya Allah, Sifa takut" ujar Sifa sembari menutup kepalanya dengan selimut. Sifa terlihat ketakutan sekali, dia berusaha ngumpet di dalam selimut itu hingga tubuhnya penuh dengan keringat. "Bi Minah kok belum datang juga, padahal Sifa takut banget, ya Allah, apa Sifa kekamar bunda aja ya! Bunda pasti mau nemenin sifa terus" ujar Sifa.
Karena rasa takutnya yang luar biasa, Sifa pun membuka selimut itu lalu berlari sekencang-kencangnya ke kamar bundanya, dia tanpa permisi masuk ke dalam kamar itu hingga Nadira dan dokter Reza yang sedang bertanding pun kaget melihat anak itu tiba tiba berada di kamarnya.
"Bunda sama ayah lagi ngapain?" Tanya Sifa yang melihat Dokter Reza berada di atas tubuh bundanya.
Dokter Reza langsung menjatuhkan badannya ke samping Nadira sembari tersenyum manis, kepala dokter tampan itu tiba tiba terasa berat, mungkin karena hasratnya yang belum terpenuhi.
"Bu-bunda sama ayah lagi olahraga nak! Kamu kok disini? Bukannya tadi Sifa mau tidur sama Kakak sama bi Minah?" Tanya Nadira tersenyum. Nadira menggerakkan tangannya, dia menemukan paha sang dokter berharap dia mau mengenakan bajunya kembali.
"Kok bunda sama ayah gak pake baju? Gerah ya bunda? Sini! Sifa hidupkan ac nya" ujar Sifa kepada bundanya. Sifa mengambil remote AC itu dari atas meja rias, anak itu mulai menghidupkan ac nya lalu berlari menghampiri bunda dan ayahnya di atas kasur.
"Ya Allah, anak ini, ganggu aja!" Batin dokter Reza.
Dengan cepat dokter reza langsung memasukkan ****** ********, dia kelihatan repot sekali karena selimut yang dia kenakan tertindih tubuh mungil Sifa.
__ADS_1
"Kenapa mas? Bisa?" Tanya Nadira sembari tidak kuat menahan tawanya. Nadira berusaha meledek suaminya itu, dokter Reza hanya bisa diam menahan sejuta kekesalannya, dia menggigit jarinya dengan sekuat tenaga.
"Bisa apa bunda? Oh iya, Sifa boleh tidur disini kan? Sama ayah sama bunda, tadi Sifa denger hantu di luar jadi Sifa takut banget bunda" ujar Sifa. Sifa terlihat serius sekali menceritakan hantu itu membuat Nadira gemes dibuatnya.