
Hari semakin siang waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 ini saatnya dokter Raisa dan Nadira untuk berangkat menemui Bayu ke rumahnya, mereka terlihat buru buru karena takut Bayu keburu berangkat ke kantor.
"Ilham jaga adik Sifa ya, bunda sama Bu dokter mau pergi sebentar, doakan bunda ya nak!"
"Iya bunda, Ilham sama Sifa doain bunda terus kok" ujar Ilham dengan mata yang berkaca kaca.
Mendengar perkataan Ilham, Nadira tersenyum sembari mengelus kepala anak cikalnya itu, dia bangga sekali kepada kedua anaknya yang begitu mengerti dengan apa yang bundanya rasakan saat ini.
"Ayo Bu Nadira' Kita berangkat!" Dokter Raisa masuk ke dalam mobilnya lebih dulu.
"Ayo dok"
Nadira pun menyusul dokter Raisa masuk ke dalam mobil, sedangkan Ilham dan Sifa masih memperhatikan bundanya dari depan pintu rumah, Ilham melambaikan tangan sembari tersenyum kepada bundanya, dia berharap bundanya bisa cepat menyelesaikan semuanya agar mereka bisa cepat kembali ke rumah mereka yang dulu.
Perjalanan dari rumah dokter Raisa menuju rumah Nadira lumayan jauh, mereka harus menempuh waktu setengah jam untuk sampai disana jadi dokter Raisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai ke tujuan.
"Bu Nadira sudah siap bertemu mantan suami ibu yang kejam itu?" Tanya dokter Raisa tersenyum.
"Siap dok, saya sudah lebih dari siap" jawab Nadira tersenyum.
"Saya aneh sama mantan suami ibu, bukannya dulu dia sendiri yang ingin berpisah dengan Bu Nadira, tapi sekarang cuma dipinta tanda tangan aja kok susah, awas ya Bu jangan sampai ibu merayu lagi sama dia!" Ujar dokter Raisa tersenyum lagi. Dia takut Nadira terbujuk kata maaf Bayu karena dia tau sendiri Nadira orangnya tidak tegaan.
"Liat aja nanti, apa yang akan saya lakukan kepada mereka" ujar Nadira sembari mengepalkan kedua tangannya.
…
Setengah jam berlalu, mereka pun sampai di kediaman Bayu dan Elsa, dokter Raisa dan Nadira langsung keluar dari mobil mewah itu berjalan ke depan pintu gerbang yang masih tertutup rapat.
"Ini rumah Bu Nadira?" Tanya dokter Raisa ingin tahu, dia tidak menyangka Nadira memiliki rumah semewah itu.
__ADS_1
"Iya dok, ini rumah peninggalan almarhum ibu dan bapak saya" jawab Nadira dengan mata yang berkaca-kaca. Nadira terus menatap rumahnya yang terlihat sudah jauh berbeda,
"Masyaallah" dokter Raisa menutup mulutnya seakan tidak menyangka dengan apa yang Nadira katakan. Dia sangat menyayangkan sekali rumah sebesar ini dihuni oleh orang yang bukan haknya. Apalagi disini Nadira yang menjadi korban kenapa justru Nadira yang harus terusir dari rumahnya sendiri.
"Semua sudah terjadi dok, sebentar lagi saya akan tinggal di rumah ini lagi, saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti saya dan kedua anak saya" ujar Nadira menjatuhkan air matanya.
"Semoga saja Bu, ayo kita masuk!"
Dokter Raisa menggandeng tangan Nadira masuk ke halaman rumah itu tanpa permisi, mereka tidak ingin membuang buang waktu, mereka ingin cepat cepat bertemu dengan Bayu dan Elsa agar semuanya bisa cepat beres, Nadira ingin segera menyeret Bayu ke meja hijau, baru setelah itu dia akan memberi pelajaran untuk mereka berdua.
"Assalamualaikum, permisi" teriak dokter Raisa sembari mengetuk pintu rumah itu.
Sembari menunggu mereka keluar Nadira mencoba melihat lihat semua barang miliknya, tapi dia tidak mendapati satu barang pun karena mungkin mereka sudah menyingkirkannya dan menggantinya dengan yang baru.
"Berani beraninya Elsa menyingkirkan semua barang barang kesayangan anak anakku, awas saja kamu Elsa, sebentar lagi aku akan membuat kamu menjadi gembel" batin Nadira.
"Siapa?" Terdengar teriakan Elsa dari dalam rumah. Dia membuka pintu rumah itu lalu menatap Nadira dan dokter Raisa dengan mata yang hampir keluar, mungkin dia kaget karena kedatangan tamu yang tidak diinginkan.
"Nadira" batin Elsa.
"Boleh saya masuk?" Tanya Nadira tersenyum sinis, dia tidak menyangka di pagi hari seperti ini dia harus berhadapan dengan wanita kuman seperti Elsa.
"Ma-masuk!?" Ujar Elsa. Elsa mempersilahkan Nadira dan dokter Raisa untuk masuk ke dalam rumah meskipun sebenarnya hatinya menolak.
Nadira dengan tenangnya duduk di sebuah sofa di ruang tamu yang biasanya dia pakai tempat belajar Ilham dan Sifa, dia melihat semuanya sudah tampak berubah, dia tidak melihat satupun barang yang dulu sempat menjadi pajangan di rumah itu, bahkan dia tidak melihat foto foto Ilham dan Sifa yang dulu dia pasang di dinding ruangan itu.
"Bayu benar benar keterlaluan, bisa bisanya dia membiarkan Elsa menyingkirkan foto anak anak, ini gak bisa dibiarin" batin Nadira.
"Ada perlu apa kamu datang kesini?" Tanya Elsa menatap Nadira dengan tajam. Dia bukannya menyiapkan minum untuk menjamu tamu, tapi malah berdiri di hadapan Nadira dan dokter Raisa dengan melipat tangan sombong.
__ADS_1
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Terserah saya dong mau kesini atau engga, inikan rumah saya" jawab Nadira tersenyum. Nadira juga melipat tangannya bersandar di sofa mewah itu dengan santai. Membuat Elsa kesal hingga mengepalkan kedua tangannya.
"Ngomong apa kamu? Rumah kamu? Heeeh mimpi, sudah lama gak ketemu ternyata sekarang kamu sudah mulai stres Nadira, kasian banget sih, haha" ujar Elsa tertawa di hadapan mereka.
"Mana suami kamu Elsa? Panggil dia kesini, saya ingin bicara sama dia, nanti dia sendiri yang akan memberitahu kamu bahwa sebenarnya rumah ini bukan rumah dia" Nadira bangkit dari duduk berjalan menghampiri Elsa. "Tunggu saja, sebentar lagi kamu akan menjadi gembel" bisik Nadira ke telinga Elsa.
Mendengar perkataan Nadira barusan Elsa mengepalkan tangannya dengan wajah merah menyala, tangannya ingin menjambak rambut Nadira tapi tangan Nadira lebih cepat meraih tangan itu dengan kasar hingga Elsa merintih kesakitan.
"Sakit?" Tanya Nadira tersenyum."Panggil suami kamu sekarang juga, saya ingin berbicara dengan dia" teriak Nadira di telinga perempuan kuman itu.
"Iya, lepasin!" Elsa menepis tangan Nadira lalu berjalan menuju ruang atas untuk memanggil Bayu.
Melihat cara Nadira memperlakukan Elsa, dokter Raisa tersenyum sembari mengangkat satu jempolnya, sebenarnya dokter Raisa tidak menyangka Nadira akan melakukan itu tapi jujur saja dia kagum dengan perempuan hebat itu. Dia tidak menyangka Nadira bisa bersikap tenang dengan perkataan Elsa yang sangat menyakitkan, karena bagi dia bersikap seperti itu tidaklah mudah, jika saja Elsa berkata seperti tadi terhadapnya mungkin dengan cepat dokter Raisa akan menghajarnya tapi tidak untuk Nadira.
Nadira pun kembali duduk di sofa dengan begitu anggunnya.
"Hebat" ujar dokter Raisa tersenyum.
"Sebenarnya tangan saya sudah gatal ingin menampar perempuan itu dok" ujar Nadira kesal.
"Sabar" ujar dokter Raisa tersenyum lagi.
"Iya dok, kita harus sabar menghadapi perempuan licik seperti dia"
...bersambung...
...jangan lupa like, comen, n votenya ya🤗...
...mampir juga di karyaku yang baru...
__ADS_1
...cinta terlarang kasta....
...author sangat membutuhkan dukungan kalian semuanya 😥...