30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
rencana berobat ke Singapura


__ADS_3

...🌾wanita memang tidak sekuat laki laki, tetapi laki laki tidak akan sekuat itu jika tidak disempurnakan oleh wanita🌾...


...**happy reading...


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂**...


"Maafin aku Nadira, aku belum bisa temani kamu disaat kondisi kamu seperti ini, jujur aku sangat menyesal karena sudah menyakiti kamu, kamu itu wanita yang kuat, bertahanlah Nadira, aku janji setelah ini aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan seperti ini lagi, aku terjebak Nadira, aku terpaksa mengikuti semua keinginan Elsa karena aku takut dia akan berbicara kepada Ilham dan Sifa, aku tak punya pilihan lain, karena jika mereka tau, kamu pasti akan lebih kecewa" batin Bayu merintih


"Mas ayo, nanti keburu siang" ujar Elsa yang terus bermanja bersandar di bahu Bayu


"Iya" ujar Bayu yang masih terlihat sangat cuek


Bayu dan Elsa pun masuk ke dalam mobil, Elsa duduk di depan dengan wajahnya yang tampak semringah, sedangkan Bayu, dia masih tidak enak hati karena dia meninggalkan Nadira dan kedua anaknya begitu lama.


Bayu pun mencoba menghidupkan mobilnya lalu Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Oh iya mas, pernikahan kita kan tinggal beberapa hari lagi,  ini aku sudah buat surat undangan buat pernikahan kita, gimana menurut kamu? Bagus kan?'' tanya Elsa yang memperlihatkan selembar undangan berwarna abu abu yang dihiasi pita abu abu, terlihat sangat indah dan mewah.


"Kamu sudah buat surat undangan?" Tanya Bayu kaget


"Iya dong mas, pernikahan kita kan tinggal menghitung hari, ini juga inisiatif ibuku, dia begitu bersemangat menyiapkan semuanya, kamu jangan mengecewakan ibuku ya mas! Dia sudah terlanjur sayang sama kamu" jawab Elsa bersandar di bahu Bayu


Bayu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya semuanya akan seperti ini, sebelum terlambat, dia akan berusaha mengakhiri semuanya, dia tetap akan meninggalkan Elsa bagaimanapun resikonya.

__ADS_1


Perjalanan dari kantor Bayu menuju butik itu sangatlah jauh, dia memerlukan waktu 1 jam untuk sampai disana, dengan sabar dia mencoba mengikuti semua keinginan Elsa meskipun hatinya merasa tidak karuan, dia akan berusaha bersikap baik agar Elsa tidak curiga, Karena ini hari terakhir dia bersamanya, esok hari Bayu tidak akan pernah menghiraukan semua perkataannya meskipun dia mengancam ingin bertemu dengan Sifa dan Ilham.


...🌹 Keadaan di rumah sakit 🌹...


"Bunda, bunda makan ya! Kata suster sebentar lagi bunda harus minum obat" ujar Ilham menyuapi bundanya dengan satu suapan


"Iya sayang, terimakasih ya!" Ujar Nadira dengan matanya yang berkaca-kaca


"Ya Allah, kuatkanlah aku, berikanlah keajaiban untukku ya Allah, angkatlah penyakit yang ada dalam tubuhku, aku gak tega kalau harus meninggalkan mereka yang begitu sangat menyayangi ku, mereka pasti akan sangat hancur jika aku pergi meninggalkannya" batin Nadira merintih


Cleeeekk


Pintu ruangan Nadira terbuka, ternyata dokter Raisa balik lagi untuk mengambil sampel darah Nadira, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui sel kanker yang ada dalam tubuh wanita dengan 2 anak itu.


"Selamat siang Bu Nadira, gimana? Apa obatnya sudah ibu minum?" Tanya dokter Raisa ingin tau


"Belum dok, saya bingung mau tebus obat ini bagaimana karena tubuh saya masih sangat lemas, saya belum kuat untuk berjalan dok, saya juga tidak mungkin menyuruh kedua anak saya, mereka masih terlalu kecil, saya takut mereka nyasar pas nyari apotek itu" jawab Nadira menjatuhkan air matanya


"Ya Allah, Kenapa tadi ibu tidak menyuruh suster untuk menebus obat ini? Ini obat yang sangat penting Bu, ibu harus segera meminum obat ini, maaf sebelumnya Bu, memangnya suami ibu kemana? Dari tadi saya belum melihat dia lagi?" Tanya dokter Raisa penasaran


"Ayah pergi ke kantor dokter" Ilham menjawab pertanyaan dokter Raisa sembari tersenyum manis


"Oh, ayahnya ke kantor ya sayang?" Tanya Bu Raisa mencolek hidung Ilham sembari tersenyum manis

__ADS_1


"Iya dokter"


"Ya sudah kalau gitu sekarang saya akan mengambil sedikit darah ibu untuk pemeriksaan ya, ibu jangan terlalu banyak pikiran, untuk masalah obat biar saya yang menyuruh suster untuk menebus obat ini,dan mengantarkan nya kemari" ujar dokter yang sangat baik hati itu


"Terimakasih banyak dokter, maaf kalau saya terus menerus merepotkan dokter" ujar Nadira merasa tidak enak


"Sama sama Bu, itu memang sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter, ibu berdoa saja ya! Semoga hasil tes ini menunjukkan hasil yang baik, jika hasilnya baik, saya akan mengirim ibu ke Singapura untuk pengobatan lebih lanjut, disana saya punya teman yang sangat berpengalaman dalam hal ini, saya yakin, dia pasti akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan ibu" ujar dokter Raisa tersenyum


"Ke Singapura dok? Apa tidak ada pilihan lain? Saya tidak mungkin meninggalkan kedua anak saya" tanya Nadira yang begitu sangat mencemaskan kedua anaknya


"Tidak ada jalan lain bu, kalau ibu ingin sembuh, ibu harus dapat pengobatan yang lebih baik karena memang ini penyakit yang sangat berbahaya, kalau ibu sangat khawatir dengan mereka, ibu bisa menitipkan mereka di rumah saya, kebetulan saya hanya tinggal sendiri Bu, saya mungkin tidak akan kesepian jika mereka menemani saya selama ibu di rawat di Singapura" ujar dokter Raisa tersenyum


Dokter Raisa berharap nadira mengijinkan kedua anaknya untuk tinggal bersamanya karena dokter Raisa begitu sangat merindukan kehadiran sosok seorang anak dalam kehidupannya.


"Tidak dok, saya tidak mau merepotkan dokter" ujar Nadira kebingungan


"Saya tidak merasa direpotkan Bu, justru saya sangat senang kalau mereka tinggal bersama saya, Bu Nadira, saya sudah sangat mengenal ibu, saya hanya ingin ibu kuat demi mereka, ibu beruntung memiliki dua anak yang baik seperti mereka, jangan pernah ibu sia siakan mereka apalagi sampai meninggalkan mereka karena mereka begitu sangat berharga, ibu harus kuat, saya yakin ibu pasti bisa melawan penyakit itu" ujar dokter Raisa dengan matanya yang berkaca-kaca


"Iya dokter, terimakasih banyak, saya akan selalu mengingat perkataan dokter" ujar Nadira menjatuhkan air matanya


"Sama sama Bu, kalau begitu saya permisi dulu, tolong pertimbangkan lagi tawaran saya ya Bu" ujar dokter Raisa


"Baik dokter" 

__ADS_1


Dokter Raisa pun pergi meninggalkan ruangan Nadira dengan membawa resep obat itu di tangannya, dokter Raisa ingin sekali melihat Nadira sehat seperti sedia kala karena dia begitu sangat kasihan kepada Ilham dan Sifa, dari awal Nadira di vonis sakit kanker, dokter Raisa tidak pernah melihat suami Nadira mengantar dia berobat, bahkan dalam kondisi Nadira yang sedang keritis pun suaminya malah pergi ke kantor tanpa ada rasa khawatir sedikitpun, itu sebabnya dokter Raisa ingin mengasuh Ilham dan Sifa selama Nadira tidak ada karena dokter Raisa sudah yakin, ayahnya tidak akan mau mengurus mereka karena dia terlalu sibuk bekerja.


...bersambung...


__ADS_2