30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
dilema


__ADS_3

"Benar juga ya, jangan jangan Elsa ambil sesuatu dari rumah ini, sebentar Mas periksa dulu!" Begitu mendengar perkataan Nadira Bayu bergegas bangkit dari duduknya, tadinya dia ingin memeriksa berkas berkas penting rumah itu tapi Nadira menghentikan langkahnya.


"Jangan sekarang mas, nanti saja! Aku mau bicara sesuatu sama kamu" ujar Nadira. 


Bayupun duduk kembali di kursi itu bersiap mendengarkan perkataan mantan istrinya itu.


"Kamu mau bicara apa?" Tanya Bayu. Bayu bersiap memasang telinganya lebar lebar untuk mendengarkan perkataan mantan istrinya itu.


"Mas kemarin kamu minta harta Gono gini kan?" Nadira balik bertanya kepada Bayu.


"Iya, kamu sudah kasih rumah ini kan? Maaf Nadira, kamu memang sudah memberikan rumah ini sama mas tapi mas benar benar tidak tau masalah ini, mas tidak tau kalau Elsa mau menggadaikan rumah ini sama pak Baskoro" jawab Bayu. Bayu benar benar merasa tidak enak kepada mantan istrinya itu. Dia tau Nadira pasti keberatan jika rumahnya digadaikan, tapi ini benar benar bukan kemauan dia, Bayu juga merasa kalau dirinya sudah ditipu oleh elsa karena hampir saja dia kehilangan rumah itu.


"Bukan masalah itu mas, aku gak jadi kasih rumah ini sama kamu, kalau kamu minta harta Gono gini nanti aku kasih, tapi bukan rumah ini, aku sebenarnya tidak keberatan jika kamu ambil rumah ini, jual rumah ini, tapi anak anak mas, kamu tau sendiri kan mereka sudah merasa nyaman tinggal di rumah ini, apalagi rumah ini satu satunya peninggalan ibu dan ayah, mereka pasti tidak akan pernah memberikannya pada siapapun" jawab Nadira. 


"Jadi?" Tanya Bayu lagi.


"Ya sekarang aku mau kamu pergi dari rumah ini, kamu kemasi barang barang kamu sekarang juga! gak mungkin kan kita tinggal satu rumah, kita kan sudah berpisah" jawab Nadira dengan nada datar.


"Kalau mas pergi dari rumah ini mas tinggal dimana Nadira? Tolong kasih mas waktu 1-2 hari lagi sampai mas punya tempat tinggal baru" ujar Bayu memohon. Bayu kaget mendengar ucapan Nadira barusan, dia tidak menyangka Nadira akan setega itu terhadapnya tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menerima apapun keputusan Nadira karena memang Nadira yang memiliki semuanya.


"Sekarang Nadira sudah benar benar berubah" batin Bayu. Bayu memalingkan wajahnya dari perempuan yang ada di hadapannya itu, dia jadi sedikit kesal kepada Nadira tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena memang dia tidak memiliki apa apa.


"Oke, kamu boleh tinggal di rumah ini untuk 1-2 hari, gak lebih" ujar Nadira.

__ADS_1


Karena dia rasa semuanya sudah jelas dan Bayu menyetujuinya, Nadira pun bangkit dari duduknya berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Bayu yang masih duduk di kursi itu. dia berjalan menghampiri Ilham dan Sifa sembari tersenyum bahagia.


"Ya Allah, terimakasih engkau telah menyadarkan hati mas Bayu, jika saja tanpa bantuan engkau ya Allah mungkin mas Bayu tidak akan seperti ini" batin Nadira.


Nadira merasa sangat bahagia sekali hari ini, karena setelah sekian lama dia memikirkan cara untuk menyingkirkan Elsa dan Bayu, akhirnya sekarang dia berhasil melakukannya, dulu dia pernah berpikiran untuk menyerah karena memang Nadira tau berurusan dengan mereka itu tidaklah mudah, tapi ternyata semua tidak seperti apa yang dia pikirkan.


"Sayang sayang bunda…!!!" teriak Nadira memanggil Ilham dan Sifa yang terlihat sedang asik bermain.


"Bunda…!!" Sifa berlari menghampiri bundanya yang kala itu juga sedang berjalan menuju ke arahnya, Sifa memeluk Nadira sembari tersenyum, terlihat sekali kalau dia sedang bahagia, mungkin hari ini Sifa senang sekali bisa pulang ke rumahnya itu dan berkumpul dengan ayahnya.


"Sayang, kita pulang dulu ke rumah dokter raisa yuk! Besok kita kesini lagi" ujar Nadira kepada anak bungsunya. sedangkan Ilham, dia baru menghampiri bunda dan adiknya dengan tubuh yang kelihatan lesu tak bergairah.


"Enggak ah!? Sifa mau disini aja sama ayah" ujar Sifa. Karena tidak mau diajak pulang oleh bundanya Sifa langsung berlari ke luar rumah menghampiri ayahnya yang masih duduk di kursi taman depan.


"Ayo bunda kita pulang!" Ujar Ilham. Ilham berjalan melewati bundanya, dia bergegas pergi meninggalkan bundanya tanpa mendengarkan perkataan bundanya terlebih dahulu. Ilham merasa dirinya sudah besar jadi dia sudah berani pulang sendiri. Dia tetap akan pulang meskipun bunda dan adiknya tidak mau.


"Ilham… tunggu nak!" Teriak Nadira. Nadira Pun berlari mengejar Ilham.


Nadira terlihat kebingungan sekali, dilema yang dia rasa saat ini, kedua anaknya berlainan arah tapi dia tetap harus berada di antara keduanya.


"Ya Allah, gimana ini" batin Nadira.


Ketika Nadira sedang dirundung kebingungan terhadap kedua anaknya. di kantor pak Baskoro, pak Baskoro kembali menelpon Elsa, dia berniat untuk mengajak Elsa ketemuan agar dia bisa tau dengan jelas kenapa Elsa mau menggadaikan rumah itu. sekalian dia ingin bertemu dengan Elsa untuk menanyakan statusnya, maklum saja, laki laki hidung belang pasti senang mendengar perempuan secantik Elsa berstatus janda.

__ADS_1


"Aku gak percaya perempuan seperti Elsa bisa dibuang begitu saja, ternyata Bayu bodoh sekali" ujar pak Baskoro tersenyum.


Pak Baskoro mulai meraih ponselnya yang teronggok di meja lalu menelpon nomor Elsa.


tuuuut


tuuuut


tuuuut


Suara panggilan yang belum terangkat.


📞Hallo pak" Elsa mengangkat telepon.


📞Hallo Sa, saya ingin mengajak kamu ketemu hari ini, apa kamu bisa bertemu dengan saya?" tanya pak Baskoro.


📞Bisa pak, kebetulan hari ini saya gak kemana mana jadi saya bisa bertemu sama bapak, kita mau ketemu dimana ya pak?" Elsa balik bertanya kepada pak Baskoro. dia terlihat semangat sekali karena dia kira pak Baskoro akan memberinya uang.


📞Nanti saya kirim alamatnya sama kamu, saya tunggu kamu ya Elsa!" jawab pak Baskoro.


📞Baik pak"


Elsa pun mematikan teleponnya, dia langsung berlari menghampiri mamanya yang kala itu sedang memasak di dapur.

__ADS_1


__ADS_2