30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
membicarakan resepsi pernikahan


__ADS_3

"Ayo mamang anterin!!" 


Mereka Pun berangkat ke rumah Bayu dengan berjalan kaki terlebih dahulu, tapi nanti kalau mereka bertemu angkot baru mereka akan naik angkot itu sampai kesana.


"Pak, nanti kalau bunda tanyain Ilham bilang saja Ilham main ke rumah teman ilham ya pak! Pak Karyo jangan bilang kalau Ilham main ke rumah ayah'' ujar Ilham kepada pak Karyo. Ilham ingin pak Karyo tidak menceritakan ini kepada bundanya.


"Oke den, mamang gak akan bilang siapa siapa kok, lagian kan bunda Aden gak tau kalau Aden pergi sama mamang, jadi pasti bunda Aden gak akan tau" 


"Terimakasih ya pak Karyo" Ilham menoleh ke arah pak Karyo sembari tersenyum. Dia merasa bersyukur sekali bisa bertemu dengan orang orang baik seperti bi Minah dan pak Karyo. Ilham merasa hidupnya tidak sendirian lagi dengan kehadiran mereka.


Perjalanan dari rumah dokter raisa menuju rumah Bayu lumayan jauh, mereka harus menempuh waktu 1 jam jika memakai mobil pribadi, tapi mungkin akan lebih dari satu jam jika naik mobil umum seperti ini. Tapi Ilham tidak merasa keberatan, Ilham justru mencoba mengingat ngingat jalannya supaya nanti dia berani sendiri jika bundanya sibuk.



Ketika Ilham menikmati pengalaman pertamanya naik kendaraan umum bersama pak Karyo di tempat lain, Elsa juga melakukan hal yang sama, Elsa juga memberanikan diri untuk naik kendaraan itu, dia mencoba mengirit biaya transportasi agar bekalnya bisa cukup untuk satu sampai tujuh hari kedepan. Maklum saja bekal untuk biaya hidupnya sudah mulai menipis jadi dia harus bisa hidup serba irit sesuai permintaan mamanya.


"Baru kali ini gue naik angkot, iwwww" ujar Elsa. Elsa terlihat jijik sekali duduk berdampingan dengan orang orang di dalam angkot tersebut.

__ADS_1


Kriiing


Kriiing


Kriiing


Tiba tiba handphone Elsa berbunyi begitu nyaring, dia pun mengambil ponselnya yang dia simpan di tas. 


Muncul nomor Elis di layar ponselnya.


📞Hallo Lis, Lo jadi kan ketemu gue hari ini?" Tanya Elsa penasaran. 


📞Gue udah berangkat Lis, tapi kayaknya gue bakalan telat deh, gini aja! Loe berangkat sekarang! Gue tunggu di depan toko kue yang dulu kita sering beli, loe masih ingat kan?" Elsa balik bertanya kepada Elis.


📞Ingat dong, yaudah, gue berangkat dulu ya! Awas, tungguin gue!" Ujar Elis lagi. 


📞Iya, gue tunggu loe kok" elis pun mematikan teleponnya. Dia bergegas pergi dari rumahnya menuju toko kue itu. Hari ini Elis kebetulan membawa mobil jadi dia bisa menjemput Elsa, dia ingin barengan bersama Elsa agar dia tidak terlalu malu ketika bertemu dengan teman teman lamanya itu. Maklum saja Elis sudah lama banget tidak berkumpul seperti ini karena memang pekerjaannya yang terlalu menyita waktu.

__ADS_1


Perjalanan dari rumah Elis menuju tempat tongkrongan lumayan jauh, dia memerlukan waktu 1 jam untuk sampai disana, tapi untung saja hari ini masih pagi jadi dia bisa sampai lebih cepat dari jam jam biasanya karena jalannya belum terhalang kemacetan.


"Aduuhhh! Nanti gimana ya cara ngomongnya sama Elis, masa iya gue nanyain pekerjaan, dia kan taunya gue orang kaya, kira kira malu gak ya kalau minta pekerjaan sama dia, bisa bisa nanti dia ngeledek gue lagi, aduh malu maluin aja!" Batin Elsa. "apa gue minta pekerjaan sama Julia dan Leo aja ya! Tapi kan Mereka gak kerja" Elsa terus memikirkan cara untuk berbicara dengan teman temannya, tapi dia benar benar tidak biasa dengan semua ini, Elsa tidak biasa meminta bantuan kepada mereka malah dari dulu juga Elsa yang sering bantu mereka. Ini benar benar sangat membingungkan untuknya.


Ketika Elsa sibuk dengan urusannya mencari pekerjaan, di rumah dokter Raisa, Nadira justru sedang menikmati masa masa bahagianya. dia terlihat ceria sekali berbincang bersama dokter raisa dan calon suaminya di ruangan tamu. hari ini mereka sedang berdiskusi tentang secara pernikahan itu, mereka barbagi bagi tugas, Nadira dan dokter Reza fitting baju pengantin sedangkan dokter raisa dan pak Bram mereka akan menyiapkan dekorasi dan tempat untuk acara tersebut.


"Jadi kira kira Bu Nadira maunya gimana? mau sewa hotel atau gedung biasa saja ?" tanya pak Bram. pak Bram terus saja bertanya prihal itu karena memang semuanya belum jelas. pa Bram ingin Nadira sendiri yang memutuskannya baru dia akan cari tempat yang paling mewah untuk mereka.


"Kalau saya sih maunya di rumah saya saja pak, depan rumah saya kan lumayan luas jadi kita bisa pakai taman depan untuk acaranya pak, biar gak terlalu keluar biaya besar, menurut dokter gimana?" Nadira menoleh ke arah dokter raisa untuk meminta pendapatnya.


"Iya juga ya Bu, rumah ibu kan luas, lebih nyaman lagi! jadi nanti kita gak ribet lagi kalau acaranya di rumah, menurut papah gimana pah?" dokter Raisa juga meminta pendapat suaminya.


"Kalau masalah tempat saya sih ikut kalian aja maunya dimana, Bu Nadira sama mama ngobrol lagi aja, pastiin tempatnya ya ma! biar nanti teman teman papa langsung kesana, ini acaranya tinggal menghitung hari loh, kita harus bergerak cepat cepat" ujar pak Bram. pak Bram terlihat semangat sekali, dia ingin resepsi itu segera di mulai karena setelah semuanya beres mereka sudah ada janji untuk bulan madu sama sama, pasangan pasangan itu akan berlibur ke Bali.


"Sudah jelas kok pah, papah tinggal suruh teman papa liat tempatnya, nanti biar mama yang kirim alamatnya ke mereka" ujar dokter raisa. dokter Raisa dan pak Bram terlihat kompak sekali. Jujur saja pasangan itu sangat bahagia sekali dengan pernikahan Nadira dan dokter Reza, selain karena dokter Reza sahabatnya dari dulu, Dokter Raisa juga merasa bahagia karena sekarang dia memiliki keluarga baru yang selalu memberikan semangat untuk untuknya, Nadira juga selalu memberikan motivasi untuknya agar dia tidak gampang menyerah dengan kehidupan yang sedang dia jalani, terutama masalah keturunan, Nadira selalu memberikan semangat untuk dokter raisa agar dia bisa cepat cepat dapat momongan, malah Nadira yang merencanakan liburan untuk mereka itu, Nadira ingin dokter Raisa dan pak Bram menghabiskan waktu berdua.


"Iya ma, nanti papa suruh mereka untuk melihat lokasinya"

__ADS_1


"Alhamdulillah, terimakasih ya pak Bram, dokter raisa, saya tidak tau lagi harus berkata apa" ujar Nadira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya


__ADS_2