30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
isi hati Ilham


__ADS_3

"Oh iya bibi kok gak liat adik Sifa, dimana dia nak?" Tanya bi Minah, bi Minah baru ngeh kalau Sifa tidak ada di rumah itu, itu sebabnya dia ingin tau dimana keberadaan anak cantik itu.


"Sifa di rumah ayah bi, tadi dia gak mau ikut pulang sama kita" jawab Ilham. Ilham langsung menundukkan kepalanya ketika mengingat ayahnya. Dia terlihat sedih sekali.


"Kalian sudah bertemu ayah? Alhamdulillah nak, bibi ikut senang, kalau adik Sifa sama ayah, Ilham kok gak sama mereka? kenapa Ilham malah diam di kolam kaya tadi?" Tanya bi Minah lagi, bi Minah benar benar ingin tahu semuanya, dia ingin tahu alasannya kenapa Ilham tidak berkumpul bersama adik dan ayahnya di rumah mewah itu.


"Ilham gak mau bi, Ilham mending diam disini sama bibi" jawab Ilham dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa nak? Cerita sama bibi" 


"Ilham benci sama ayah bi, dulu ayah nyakitin bunda, ayah menikah lagi sama perempuan lain disaat bunda sakit keras, Ilham ingat dulu Ilham jagain bunda sama adik di rumah sakit, sedangkan ayah, dia malah pergi bersama wanita itu, dia tidak perduli sama kami bi, Ilham benci, Ilham gak mau liat ayah lagi, tapi Sifa malah main sama ayah, Ilham gak suka" jawab Ilham menjatuhkan air matanya. 

__ADS_1


"Ya Allah, yang sabar nak, bibi mengerti perasaan kamu" bi Minah tak kuasa menjatuhkan air matanya ketika anak sebesar ilham menceritakan kisah itu kepadanya, dia tidak menyangka Ilham sudah sehafal itu bahkan dia yang terbilang anak di bawah umur sudah mengerti semuanya. "Ilham harus kuat ya nak, yang penting sekarang bunda sudah sehat lagi, lebih baik sekarang Ilham berdoa agar bunda selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan, bibi yakin suatu saat nanti ayah Ilham akan menyesal dengan perbuatannya, dia pasti akan meminta maaf sama bunda" ujar bi Minah. Bi Minah mengelus elus kepala anak itu dengan penuh kasih sayang, dia memeluk Ilham dengan erat agar dia tidak merasa sendirian.


"Terimakasih bi" ujar Ilham. Ilham menangis terisak di pangkuan sang bibi, saat ini dia benar benar bersyukur sekali bisa bertemu dengan orang baik seperti bi Minah, disaat orang tuanya sibuk dengan urusan urusannya, ternyata masih ada orang yang mau mendengarkan keluh kesahnya, sekarang Ilham merasakan perhatian dari bi minah yang tidak dia dapatkan dari kedua orang tuanya. 


"Maaf nak, sepertinya Ilham tidak suka melihat bunda mau menikah lagi sama dokter Reza, kenapa nak? Apa bibi boleh tau alasannya?" Tanya bi Minah lagi. Dia terus mengulik isi hati anak itu. Bukannya dia ingin ikut campur tapi dia ingin Ilham mencurahkan semua isi hatinya agar dia tidak memendam semua masalahnya seorang diri.


"Ilham senang bunda bisa mendapatkan pendamping hidup seperti dokter Reza, Ilham tau dokter Reza itu orang baik bi, tapi bunda, bunda tidak memberitahu Ilham kalau dia akan menikah lagi, bunda tiba tiba memberitahu tanggal pernikahannya tanpa berbicara kepada Ilham terlebih dahulu, Ilham merasa tidak dihargai bi, Ilham rasa sekarang bunda sudah berubah, Ilham merasa bunda tidak seperti bunda yang dulu, sekarang dia sibuk mengurusi urusannya sendiri tanpa memikirkan perasaan anak anaknya" jawab Ilham panjang lebar. Akhirnya ilham mencurahkan isi hatinya selama ini kepada bi Minah, sebenarnya dari kemarin dia memang ingin mengungkapkan perasaannya kepada sang bunda, tapi sang bunda terlalu sibuk Dengan urusan urusannya, jadi Ilham malas sekali berbicara dengan bundanya itu, dia lebih baik memendamnya sendiri karena sekarang dia sudah merasa terbiasa dengan itu.


"Ya Allah, subhanallah, engkau menciptakan anak seluar biasa ini, kuatlah dia ya Allah, berikanlah dia kebahagiaan serta umur yang panjang, aku benar benar sangat menyayanginya meskipun dia bukan darah dagingku" batin bi Minah.


"Ya Allah sayang, bibi gak nyangka kamu sudah sedewasa ini nak, maafin bibi, selama ini bibi kurang memperhatikan kamu dan adik Sifa sewaktu bundamu jauh disana, maafkan bibi" ujar bi Minah yang masih terisak.

__ADS_1


"Gak papa bi, justru Ilham ingin berterima kasih sama bibi, bibi sudah mau mengurus Ilham Sama adik di rumah ini, termasuk Bu dokter cantik, Ilham tidak tau harus berbuat apa untuk membalas semua kebaikan bibi sama dokter cantik, bibi doakan Ilham ya bi, semoga Allah menjadikan Ilham orang yang sukses agar Ilham bisa membalas semua kebaikan kalian" ujar Ilham. Ilham menghapus air mata bi Minah sembari tersenyum manis.


 "Ya Allah nak, amiiin, bibi akan selalu mendoakan Ilham dan Sifa, sekarang Ilham yang sabar ya, mungkin bunda seperti ini karena bunda tidak mau Ilham sama Sifa kepikiran masalah yang sedang dihadapi bunda, bibi tau bunda tidak mau memberatkan Ilham nak, bunda pasti melakukan ini untuk kebaikan Ilham sama adik, jadi bibi harap Ilham bisa memaklumi bunda kalau akhir akhir ini bunda selalu sibuk, doakan saja bunda ya! mudah mudahan Allah bisa cepat cepat membereskan masalah bunda agar bunda ada waktu lagi buat kalian" ujar bi minah. Bi Minah mencoba memberi arahan kepada anak itu agar dia tidak terlalu kecewa kepada bundanya, dia berbicara seperti itu agar Ilham bisa mengerti.


"Insyaallah bi, Ilham ngerti, tapi sekarang Ilham merasa bunda tidak menghargai Ilham" ujar Ilham lagi. 


"Bukan seperti itu nak, bunda bukan tidak menghargai kamu, bunda seperti itu karena bunda belum tau kamu sudah sedewasa ini, jadi maafkan bunda ya nak, bunda pasti tidak ada niat kesitu" ujar bi Minah. Bi Minah mencoba memberi tahu Ilham agar anak itu tidak kecewa kepada bundanya.


"Masa iya sih bi" tanya Ilham.


"Iya nak, dulu bunda kan jauh, jadi bunda tidak tau kamu sudah sedewasa ini, jangankan bunda kamu, bibi saja yang melihat kamu sehari hari pun tidak tau kalau kamu sudah sedewasa ini nak, bibi malah heran dengan perkataan Ilham barusan, karena memang anak seusia Ilham tidak sepantasnya berkata seperti ini, Ilham benar benar sudah mengerti di usia Ilham yang masih belia seperti ini, ini benar benar sangat luar biasa nak" jawab bi Minah tersenyum. Bi Minah mencoba menyembunyikan kesedihannya saat ini, dia sebenarnya sedih sekali mendengar perkataan Ilham barusan, tapi dia mencoba menguatkan hatinya. 

__ADS_1


"Iya bi" ujar Ilham. Ilham menatap bi Minah sembari tersenyum manis, sekarang dia merasa lega karena sudah mengungkapkan isi hatinya kepada bi Minah.


__ADS_2