
Ilham dan Sifa rupanya sudah bisa berdamai dengan sang ayah, bahkan sekarang mereka lebih respek kepada ayahnya ketimbang bundanya sendiri. padahal selama ini yang ditunggu tunggu kedatangannya oleh mereka adalah Nadira bukan Bayu, tapi sekarang kenyataannya berubah, kedua anak itu lebih nyaman bersama ayahnya bukan bersama bundanya.
"Assalamualaikum anak anak ayah, coba tebak ayah bawa apa buat kalian?" Tanya Bayu. Bayu masuk ke dalam kamarnya dengan membawa dua kantong plastik yang berisi makanan untuk mereka makan bersama.
"Pasti nasi uduk yang di depan" jawab Ilham tersenyum. Ilham masih ingat dulu ayah dan bundanya selalu membeli nasi uduk yang dijual di depan komplek, mereka sangat suka sekali dengan makanan itu karena selain harganya yang cukup terjangkau rasanya juga sangat enak, cocok sekali untuk ibu ibu yang malas masak dirumah. Dulu Nadira juga suka beli kalau dirinya bangun kesiangan.
"Kok ka Ilham tau sih? Pinter!" Ujar Bayu sembari mengelus kepalanya anak cikalnya itu. "Kita makan dulu yu nak! Kasian ka Ilham udah lapar dari tadi" ajak Bayu kepada kedua anaknya itu.
"Ayo ayah! perut Sifa juga udah lapar" ujar Sifa. Mereka Pun bangkit dari duduknya lalu mengikuti Bayu yang sudah jalan lebih dulu.
"Mmmmh kasian, maafin ayah ya nak! tadi ayah bangunya kesiangan jadi ayah gak sempet masak buat kalian" ujar Bayu. Bayu pun menghentikan langkahnya, dia mempersilahkan kedua anaknya untuk jalan lebih dulu darinya.
"Ya Allah, terimakasih engkau telah memberikan aku kesempatan untuk bisa berkumpul lagi bersama mereka, mereka adalah penyemangat hidupku, aku gak sanggup jika harus berpisah lagi dengan mereka, maka aku mohon padamu, janganlah engkau biarkan kedua anakku menjauh dariku lagi, aku ingin selalu ada didekat mereka hingga tubuhku menua" bayi Bayu merintih.
"Asiiik! Kita bisa makan bareng disini lagi ka, sayangnya gak ada bunda ya, bunda sibuk telus sih jadi gak bisa makan bareng sama kita" ujar Sifa. Sifa duduk di meja makan itu dengan penuh semangat, dia terlihat bahagia sekali bisa makan bersama ayah dan Kakak nya lagi seperti dulu, tapi dia merasa ada yang kurang yaitu bundanya yang selalu sibuk dengan urusannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya dik" ujar Ilham tersenyum.
"Alhamdulillah ka" ujar Sifa juga.
Melihat kedua anaknya yang sedang berbincang, Bayu hanya tersenyum sembari menyiapkan piring dan sendok untuk mereka, Bayu menuangkan nasi uduk itu ke atas piring mereka lalu mengambilkan dua gelas air putih yang dia simpan di dekat piring mereka.
"Anak anak ayah makan yang banyak ya! Biar cepat tumbuh jadi anak yang dewasa, ayah ingin segera melihat kalian sukses seperti nenek dan kakek, sudah besar Ilham pasti jagain bunda dan ayah, dan Sifa, kamu pasti merawat ayah nak, ayah bersyukur sekali memiliki kalian berdua" ujar Bayu kepada kedua anaknya. Bayu tak kuasa menjatuhkan air matanya di hadapan Ilham dan Sifa, dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat ini.
"Ayah kok nangis, Sifa pasti akan merawat ayah kok, Sifa tidak akan meninggalkan ayah karena Sifa sayang banget sama ayah" ujar Sifa. Sifa bangkit dari duduknya lalu menghampiri Bayu. Dia memeluk ayahnya dengan penuh kasih sayang.
"Ayah bersyukur sekali bisa memiliki anak anak yang baik seperti kalian nak, ayah bangga sekali" Bayu mencium anaknya satu persatu. Dia tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya saat ini selain dengan menangis. "Ayo nasinya dimakan dulu nak, nanti setelah makan ayah mau ajak kalian jalan jalan, kalian mau kan?" Tanya Bayu. Bayu menyuruh mereka untuk segera memakan nasi uduk itu, dia ingin mereka cepat cepat mereka menghabiskan makanan itu agar dia bisa cepat membawa mereka untuk bermain ke luar, dia tidak ingin membuang buang waktunya bersama mereka berdua, karena pasti nanti kedua anak itu diambil lagi oleh bundanya.
"Habiskan ya nak! Siapa yang habis duluan nanti ayah kasih hadiah lagi" ujar Bayu membujuk. Bayu ingin kedua anaknya itu makan dengan lahap karena dia paling tau mereka. Sifa dan Ilham sulit sekali makan banyak kecuali jika mereka dibujuk dengan sebuah Hadiah.
"Beneran ayah, ayah mau beliin kita hadiah lagi?" Tanya Sifa ingin tahu.
__ADS_1
"Bener dong! masa ayah berbohong sama anak anak ayah yang pintar pintar ini, ayah janji kalau kalian habisin makanannya ayah akan membelikan kalian hadiah + jalan jalan hari ini, keliling kota" jawab Bayu tersenyum. Bayu sangat senang sekali melihat kedua anaknya ceria seperti ini, dia ingin sekali memberikan kebahagiaan untuk mereka, sebagai kata maafnya karena dulu dia sudah menyia nyiakan mereka.
"Horeeee, kita jalan jalan ka, ayo kakak habisin makanannya, biar kita bisa cepat pergi jalan jalan!" Ujar Sifa dengan begitu semangatnya.
Bayu yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum bahagia, dia bersyukur sekali bisa membuat mereka senang seperti ini karena hanya inilah yang bisa dia lakukan untuk menebus semua kesalahannya dulu.
…
Ketika Bayu merasakan kebahagiaan karena bisa berkumpul lagi bersama kedua anaknya, di tempat lain Elsa justru sedang dilanda kebingungan yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak, ke tiga temannya itu tidak ada yang mengetahui lowongan pekerjaan yang bagus untuknya, Elsa berharap bisa seperti dulu lagi sewaktu dia masih bekerja di perusahaan Bayu, tapi itu hanya harapannya saja, karena sesuatu yang sudah ditinggalkan sulit sekali untuk bisa dimiliki kembali, penyesalan tidak akan datang lebih dulu jadi dia hanya bisa menyesalinya.
"Leo.. gimana sih caranya bisa kaya lo? Lo gak kerja tapi bisa beli barang barang branded kaya gini? Orang tua Lo juga biasa biasa aja kaya orang tua gue, bagi resepnya dong! biar gue bisa kaya lo" ujar Elis kepada temannya itu. Elis merasa heran dengan dua temannya Leo dan Julia, mereka tidak bekerja tapi bisa sukses seperti sekarang ini beda sekali dengan dirinya dan Elsa, tanpa bekerja keras mereka tak bisa punya apa-apa bahkan untuk biaya hidupnya sehari hari pun mereka Berdua harus capek terlebih dahulu.
Mendengar pertanyaan Elis, Leo dan Julia hanya tersenyum sembari menatap satu sama lain. Mereka berdua tidak berani memberitahu mereka karena memang mereka berdua bekerja di sebuah klub malam.
"Pekerjaan kita ada lah! Memangnya kenapa Lis? Kurang apa lagi coba sama pekerjaan Lo? Lo udah jadi sekretaris di perusahaan ternama, mau cari yang kaya gimana lagi?" Tanya Leo kepada sahabat itu.
__ADS_1
"Ini bukan buat gue Leo, ini buat teman kita Elsa!" Jawab Elis sembari menoleh ke arah Elsa yang terlihat sedang melamun. Elsa sepertinya tidak menyadari obrolan temannya sedari tadi, dia hanya duduk, bengong, raganya berada bersama teman temannya tapi hatinya entah berada dimana.