30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
melawan masa kritisnya


__ADS_3

🌾seorang istri tak perlu menuntut suami untuk membahagiakannya, ia hanya butuh dihormati dan dihargai, namun jika pernikahan tak lagi ada rasa saling. apa harus dipertahankan atau lebih baik ditinggalkan? 


istri yang kuat adalah iya yang tersenyum di pagi hari karena dia tau akan menangis di malam hari, saat hatinya terluka dan dia memilih tetap setia untuk selamanya🌾


...happy reading...


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


''Selamat siang mbak'' ujar Elsa kepada petugas bagian administrasi


''Selamat siang buk, apa ada yang bisa saya bantu?'' tanya petugas itu


"Maaf mbak, saya mau menanyakan pasien yang bernama Nadira yang baru masuk rumah sakit ini, dia dirawat di ruangan mana ya mbak?" Elsa balik bertanya kepada petugas kesehatan itu


 "Sebentar Bu, saya coba cari dulu" jawab petugas itu mencoba mencarinya


"Oh, Bu Nadira yang mengidap kanker rahim itu ya Bu? Yang tadi datang bersama suami dan kedua anaknya kan? Dia dirawat di ruangan melati nomor 2 bu" ujar petugas itu kepada Elsa.


"Oh terimakasih mbak" ujar Elsa 


"Sama sama Bu"


Saking kagetnya, Elsa langsung pergi meninggalkan bagian administrasi itu, dia mengurungkan niatnya untuk bertemu Nadira setelah petugas itu mengatakan kalau Nadira mengidap penyakit kanker.


''Apa gue gak salah denger? Nadira mengidap penyakit kanker? bagus deh, gue jadi gak harus repot repot nyingkirin dia, semoga aja dia bisa cepat cepat mati'' ujar Elsa tersenyum


Setelah mendengar kabar itu, Elsa jadi merasa lebih tenang, dia jadi tidak harus memikirkan Nadira lagi, Elsa hanya tinggal menunggu, karena sebentar lagi kemenangan akan segera menjadi miliknya, sebentar lagi dia akan mendengar kabar duka yang itu tandanya dia akan segera menjadi nyonya di rumah itu.


"Semoga dia cepat cepat mati, aku jadi gak sabar ingin segera tinggal di rumah mewah itu" ujar Elsa tersenyum


Elsapun berjalan menuju mobilnya dengan wajah yang tampak tersenyum, dia masuk ke dalam mobilnya lalu Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor.


...🌹Nadira🌹...


Setelah hampir 12 jam dia tidak sadarkan diri, tangan Nadira akhirnya bergerak, dia terus memanggil nama Ilham dan Sifa dengan matanya yang masih tertutup rapat.

__ADS_1


"Ilham, Sifa" itu yang pertama kali keluar dari mulut Nadira


Nadira mencoba membuka matanya, dia melihat sekeliling ruangan itu masih terlihat samar, dia merasa berada di angkasa hingga terasa sayatan demi sayatan angin yang menusuk seluruh tubuhnya, hingga dia kembali ke posisinya yang semula.


"Ka Ilham!? ka bangun" ujar Sifa mencoba membangunkan Ilham yang tertidur di sofa


"Iya de, ada apa sih? Kk masih ngantuk" tanya Ilham yang merasa sedikit kesal


"Ka, itu tangan bunda bergerak gerak" jawab Sifa 


"Mana dek?" 


Ilham membuka matanya, lalu melihat ke arah Nadira, dan ternyata benar, Ilham melihat tangan bundanya bergerak, bibir yang sangat terlihat pucat itu juga masih terus memanggil manggil nama Ilham dan Sifa.


"Bunda" Ilham bangkit dari duduknya lalu berlari menghampiri Nadira lalu memeluknya dengan erat sembari menjatuhkan air matanya.


"Bunda, ini Ilham, bunda bangun bunda, kami sangat merindukan bunda, bunda jangan tinggalkan kita ya" ujar Ilham menangis terisak


 "Ka, ko tangan bunda dingin?" Tanya Sifa


"Ayo ka" 


Kedua anak pintar itu pun menengadahkan kedua tangannya sembari menangis.


"Ya Allah, tolong sembuhkanlah sakit bunda, ilham ingin berkumpul lagi bersama bunda ya Allah, Ilham tidak mau kehilangan bunda, kalau bunda pergi, kita sama siapa? Tolong Ilham ya Allah, Ilham sayang sekali sama bunda, kalau bunda bangun, Ilham janji Ilham akan jadi anak yang lebih baik lagi" ujar Ilham 


"Iya ya Allah, Sifa juga tidak mau kehilangan bunda, sembuhkan lah bunda ya Allah, Sifa juga sayang banget sama bunda" ujar Sifa 


Nadira mendengar suara kedua anaknya, tapi dia tidak bisa melihat.


 Di alam bawah sadar, Nadira merasa dirinya berada di suatu tempat yang tak pernah dia kunjungi sebelumnya, dia mendengar teriakkan kedua anaknya yang memanggil dia dari kejauhan, dia terus berjalan mencari suara itu, hingga pada akhirnya dia bertemu dengan kedua anaknya yang sangat dia rindukan.


"Sifa, Ilham, sini nak!?" Ujar Nadira memeluk kedua anaknya.


"Bunda, ayo kita pulang! Ilham sama Sifa masih ingin belajar bersama bunda, bunda sudah janji sama kita kalau bunda Mau mengajarkan kita menggambar" ujar Ilham 

__ADS_1


"Bunda tidak bisa pulang nak, bunda harus pergi, kalian belajar bersama ayah ya! Ayah pasti akan mengajarkan kalian gambar yang lebih bagus" ujar Nadira tersenyum


Nadira melepaskan pelukannya lalu berjalan 2 langkah meninggalkan Ilham dan Sifa.


"Engga bunda, bunda tidak boleh pergi, kalau bunda pergi, kita tinggal sama siapa? Kita masih sangat membutuhkan bunda, ayah tidak mungkin mengajarkan kita menggambar, karena ayah sibuk dengan pekerjaannya" ujar Ilham menjatuhkan air matanya


Dalam mimpi itu Nadira tidak menghiraukan perkataan Ilham, dia tersenyum sembari terus melangkahkan kaki meninggalkan kedua anaknya.


"Bunda, kita sayang sekali sama bunda, kenapa bunda malah pergi? Apa bunda sudah tidak sayang lagi sama kita? kenapa bunda tega meninggalkan kita sendiri?" Teriak Ilham sembari memeluk Sifa dengan erat


"Bunda, aku sama kakak mau ikut bunda saja" teriak Sifa menangis


Mendengar tangisan itu, Nadira menghentikan langkahnya, dia berbalik arah berlari menghampiri kedua anaknya itu lalu memeluk mereka dengan erat, kedua anak pintar itu pun menggandeng tangan bundanya berjalan ke arah cahaya yang sangat silau, hingga pada akhirnya dia pun terbangun dari kritisnya.


"Bunda, bunda bangun?" ujar Sifa menjatuhkan air matanya


"Iya sayang" ujar Nadira tersenyum mengelus kepala Sifa dengan penuh kasih sayang


"Bunda cepat sembuh ya! Sifa gak betah diam terus disini bunda, Sifa mau pulang, Sifa mau sekolah" ujar Sifa memeluk bundanya dengan erat


"Hussss" ujar Ilham yang sejak tadi belum melepaskan pelukannya


"Iya sayang, sebentar lagi kita pulang ya nak, maafin bunda ya! Gara gara bunda kalian jadi gak bisa masuk sekolah" ujar Nadira menjatuhkan air matanya


"Ya Allah, berikanlah aku kesempatan untuk hidup agar aku bisa tetap bersama mereka, aku sangat menyayangi mereka ya Allah, aku tak tega meninggalkan mereka, mereka masih terlalu kecil, mereka masih sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu" batin Nadira merintih


Cleeeekk


Pintu ruangan terbuka, ternyata dokter Raisa datang bersama 2 orang suster untuk memeriksa keadaan nya. 


"Selamat siang Bu Nadira, Bu Nadira ini memang seorang wanita yang sangat kuat, saya selalu berharap ibu bisa kembali sehat seperti sedia kala, ibu harus semangat ya! Kedua anak ibu masih sangat membutuhkan ibu" ujar dokter Raisa tersenyum


Dokter Raisa pun mencoba memeriksa keadaan Nadira saat ini, dia mencoba mengecek tensi darah dan detak jantungnya, ternyata semuanya sudah kembali normal, itu kabar yang sangat bagus untuk Nadira.


...bersambung...

__ADS_1


__ADS_2