30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
rumah dari luna


__ADS_3

Pong


Suara pesan masuk terdengar ke handphone Elsa.


Elsa mulai melihat ponselnya, ternyata pesan masuk dari sahabatnya Leo.


✉️ Sa, ternyata Julia mengidap penyakit Aids, gue gak nyangka dia seperti ini sa" isi pesan dari Leo.


"Ya Tuhan, Julia pengidap Aids" batin Elsa. Tiba tiba air matanya mengalir deras setelah mengetahui kalau sahabatnya itu mengidap penyakit yang sangat mematikan.


Baru saja Elsa merasakan kebahagiaan, sekarang dia harus kembali merasakan kesedihan yang mendalam, Elsa merasa ini seperti mimpi, dia tidak pernah membayangkan sahabat yang selama ini terlihat kuat ternyata mengidap penyakit yang parah seperti ini.


"Ma, ternyata selama ini Julia kena Aids" ujar Elsa kepada Mamanya. Elsa terlihat lemas, tubuhnya tiba tiba jatuh ke atas kasur dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipi manisnya.


"Astaga, kamu serius sa?" Tanya Bu Lidia, Bu Lidya sepertinya kaget mendengar perkataan Elsa barusan, dia tidak menyangka Elsa memiliki teman yang mengidap penyakit mematikan seperti itu. "Kamu jangan terlalu Deket sama dia sa, itu penyakit yang sangat berbahaya bahkan sangat mematikan" ujar Bu Lidya. Bu Lidya tidak mau Elsa terlalu dekat dengan Julia. Dia tidak melarang Elsa untuk menjenguknya tapi Bu Lidya ingin Elsa berjaga jarak dengan dia.


"Iya ma, kami pasti hati hati kok, lagian perawatan penyakit seperti itu kan tidak gegabah ma, orang jenguk pun jarang, pasti Leo juga menunggunya dari kejauhan" ujar Elsa.


Elsa terus berbincang dengan mamanya di villa itu, mereka membicarakan sahabatnya Julia yang sekarang sedang mengidap penyakit keras, Bu Lidya menyuruh Elsa untuk berhati-hati dengan penyakit yang diderita sahabatnya itu, dia tidak mau anaknya sampai mengidap penyakit yang sama seperti yang diidap oleh Julia.

__ADS_1


Ketika Bu Lidya sedang dirundung kekhawatiran, di tempat lain, tepatnya di kontrakan Bayu yang baru, Bayu sedang sibuk beres beres, dia terlihat sedang merapikan semua baju bajunya ke dalam lemari, hari ini dia akan membereskan rumah barunya itu karena besok dia akan menjemput Ilham, dan membawa Ilham Untuk menginap di rumah barunya itu.


Luna memberikan sebuah rumah kecil untuk Bayu tinggali, rumah minimalis dengan dua kamar di dalamnya, rumah itu terlihat bagus, bahkan lokasinya terletak di pinggir perumahan, terlihat indah dengan taman taman kecil yang menghiasi setiap sudut rumah itu. Disamping rumah itu juga terdapat gudang yang terlihat bersih, mungkin bekas butik yang sudah lama tidak ditempati, cocok sekali untuk menyimpan setiap karya hasil lukisan tangan kecil itu. Bayu berniat untuk memajang semua hasil karya Ilham di toko samping rumahnya.


"Ilham pasti seneng banget denger papanya sudah punya tempat tinggal kaya gini, rumahnya bagus lagi, ya Allah, terima kasih banyak engkau telah memberikan tempat tinggal yang nyaman seperti ini, rasanya semua terasa mimpi, aku benar benar gak nyangka bisa bertemu perempuan baik seperti Luna" ujar Bayu sembari terus bersih bersih rumah itu.


Kepribadian Bayu benar benar sudah berubah, kini dia sudah tidak seperti dulu lagi, sekarang dia terlihat penyayang, sabar dan tangguh.


Tok


Tok


Tok


"Itu pasti Luna" ujar Bayu yang masih sibuk mengepel lantai.


"Bayu, ini saya Luna!" Teriak Luna dari luar. 


"Masuk, pintunya gak dikunci kok" teriak Bayu dari dalam rumah, Bayu melihat ke arah pintu rumahnya ternyata Luna masuk dengan membawa banyak sekali barang barang di tangannya. Bayu merasa aneh dengan perempuan itu, dia tidak mengerti kenapa perempuan itu bisa membawa belanjaan banyak seperti ini ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Bay! Kamu masih beres beres?" Tanya Luna. Luna kagum sekali dengan laki laki yang ada di hadapannya itu, dia tidak menyangka laki laki seperti Bayu mau membereskan rumah yang kotor seperti ini.


"Seperti apa yang kamu lihat lun, rumah ini kotor banget, masa iya saya harus tidur di rumah kotor kayak gini, jadi terpaksa lah saya bersih-bersih sendiri, toh ini juga buat kenyamanan saya kok, bener nggak? Eh by the way, terima kasih ya atas rumahnya, saya janji kalau saya sudah punya uang nanti saya akan bayar sewa rumah ini ke kamu" jawab Bayu tersenyum. Bayu terlihat senang sekali dengan rumah itu, apalagi dia bisa tinggal di rumah itu secara gratis seperti ini. Dia tidak mengeluarkan uang sama sekali untuk membayarnya jadi uang bekalnya bisa dipakai untuk bekal makannya bersama Ilham.


"Udah nggak usah banyak ngomong kamu, lagian rumah ini juga nggak terpakai, daripada kosong nggak kepake mending dimanfaatin kan?" Ujar Luna sembari tersenyum manis. "Oh iya, ini saya bawa baju baju bagus buat kamu bay, nanti malam kamu kan mau dinner sama saya, jadi saya ingin kamu mengenakan baju ini, kamu pakai ya!" Ujar Luna. Luna menyodorkan dua buah tas besar berisi pakaian ke hadapan Bayu, dia ingin Bayu memakainya nanti malam, dia ingin Bayu terlihat keren di depan keluarganya agar keluarganya mau menerima Bayu dan merestui hubungan mereka.


"Kenapa kamu bawa baju sebanyak ini? Dinnernya cuma malam ini aja kan Luna?" Tanya Bayu.


"Iya, malam ini, tapi ini buat jaga jaga aja bay, siapa tau aja lain kali kamu dibutuhkan lagi, lagian lumayan kan baju bajunya, kalau kamu gak mau ya buang aja! Ribet amat" jawab Luna. Sebenarnya Luna ingin hubungan mereka tidak hanya malam ini saja, dia ingin menjalin hubungan yang serius dengannya bukan hanya sekedar pura pura.


"Oke, nanti saya pakai bajunya, terimakasih banyak ya Luna" ujar Bayu. Bayu mengambil baju itu dari tangan Luna, lalu menyimpannya di atas meja yang sudah dia bersihkan. "Kamu duduk aja dulu! Kursinya udah bersih kok" ujar Bayu. Sembari menunggu nya beres beres Bayu mempersilahkan Luna untuk duduk di kursi yang sudah dia bersihkan. 


"Kamu pasti belum makan? Saya pesankan makanan buat kamu ya!?" Tanya Luna. Luna merasa kasihan dengan laki laki yang ada di hadapannya itu, dia mengerti sekali dengan apa yang Bayu rasakan, apalagi jika dia tidak tidur semalaman, dia pasti merasakan kelelahan. Jadi Luna ingin memesankan makanan untuk bayu tapi dia mencoba meminta izin dulu kepada laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Nggak usah Luna, nanti biar saya masak sendiri aja" jawab Bayu dengan tegas.


"Memangnya kamu bisa masak bay?" Tanya Luna lagi, Luna merasa tidak percaya jika laki laki yang ada di hadapannya itu bisa memasak.


"Nanti kita coba!" Jawab Bayu tersenyum.

__ADS_1


Mendengar jawaban Bayu, Luna hanya tersenyum, dia benar benar tidak percaya laki laki seganteng Bayu bisa melakukan semua pekerjaan rumah apalagi Memasak, Luna jarang sekali menemukan laki laki seperti ini, yang dia tahu laki laki itu hanya bisa merepotkan perempuan saja, tapi ternyata dia salah. Ternyata masih banyak laki laki yang mandiri seperti Bayu ini, membuat dia semakin tertarik dengan laki laki yang ada di hadapannya ini.


__ADS_2