
Bi Minah merasa Bayu Gak mungkin hadir di acara pernikahan itu padahal sebenarnya iya, tadi Bayu sempat menghadiri acara ini, tapi sekarang dia pergi karena dia tidak kuat melihat Nadira dan dokter Reza terlihat mesra seperti ini.
"Apa saya cari ke kamarnya aja ya!" Batin bi Minah terus bertanya tanya.
Karena dia sangat khawatir sekali dengan Ilham, di Minah pun mencari Ilham ke kamarnya, sebelumnya di Minah melihat-lihat dulu ke ruangan-ruangan lain sebelum dia sampai ke kamar anak ganteng itu, tapi dia tidak mendapati ilham disana, dia pun melanjutkan pencariannya ke kamar anak itu sendiri.
Tok
Tok
Tok
Bi Minah mencoba mengetuk pintu kamar Ilham.
"Den Ilham, den Ilham di kamar ya? Den..?" Teriak di Minah dengan sekencang kencangnya. Karena suara alunan musik yang begitu nyaring, bi Minah terpaksa harus berteriak teriak memanggil anak itu agar bisa terdengar hingga ke dalam kamar.
Tak ada sahutan dari Ilham.
__ADS_1
"Den.." teriak di Minah lagi. Dia terus memanggil Ilham hingga Ilham yang sedang sibuk melukis pun, bangkit dari duduknya berjalan membukakan pintu untuk di Minah.
"Bibi manggil aku? Ada apa bi? Memangnya Bibi nggak ikut kumpul sama bunda di bawah?" Tanya Ilham. Ilham terlihat kesal sekali waktu di Minah memanggil-manggil namanya, dia merasa terganggu dengan kehadiran bi Minah di kamarnya, saat ini Ilham benar-benar lagi ingin sendiri, dia muak sekali apalagi mendengar suara alunan musik itu, sangat mengganggu telinganya.
"Iya den, Bibi cari cari Aden dibawa, den Ilhamnya nggak ada, jadi Bibi cari kesini" jawab di Minah merasa tidak enak. "Den Ilham kok nggak kumpul sama bunda di bawah? Den Ilham lagi tidur ya?" Di Minah terus bertanya kepada anak itu, dia ingin sekali menemani dia, tapi Ilham malah terlihat cuek kepadanya. Maklum saja, Ilham sedang memendam kekesalannya seorang diri, jadi dia tidak bisa mengontrol emosinya.
"Aku males bi, di bawah banyak orang, berisik lagi, mending aku di kamar aja kan, masih banyak hal yang lebih penting daripada pada berkumpul gak jelas kaya gitu bi" jawab Ilham dengan begitu cueknya. Ilham benar benar sangat kesal hari ini, rasanya dia malas sekali berbicara dengan siapapun, saat ini dia hanya ingin sendiri, dia sudah malas mendengarkan celotehan orang yang menurutnya tidak terlalu penting.
"Iya den, bibi ngerti maksud Aden, apa boleh bibi masuk? Bibi juga males diam di bawa, bibi cape, pengen istirahat" tanya bi Minah. Bi Minah merasakan apa yang Ilham rasakan, malah dia juga sebenarnya malas sekali berkumpul seperti itu, kalau saja bukan karena dokter Raisa dan Sifa, mungkin dia juga tidak akan menghadiri acara seperti ini, dia sudah terlalu lelah. Usianya yang sudah tua membuat bi Minah mudah sekali kelelahan.
"Boleh bi, masuk saja! Bibi boleh istirahat di kamarku" jawab Ilham. Ilham mempersilakan bi Minah untuk masuk ke kamarnya, sebenarnya dia tidak ingin ada siapapun yang menemaninya, tapi karena kasihan, ilham pun menyuruh bi Minah untuk beristirahat di kamarnya sampai acara itu selesai. "Bibi tidur aja! Ilham masih nyelesain pekerjaan Ilham dulu" ujar Ilham tersenyum.
..
Waktu terus berputar, jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB, Ilham yang sedari tadi melukis, dia sudah menyelesaikan dua lukisan bertemakan alam, sedangkan bi Minah, dia masih tertidur pulas di atas kasur empuk itu dengan tidur menghadap ke arah Ilham.
Melihat bi Minah yang tertidur pulas, Ilham merasa kasihan sekali, dia tidak tega melihat bi Minah, di usianya yang sudah tua dia masih bekerja keras untuk menghidupi keluarganya di kampung. Melihat pemandangan itu, tiba-tiba terlintas di pikirannya sebuah inspirasi untuk melukis. Kali ini Ilham akan melukis bi Minah yang sedang tertidur pulas, dengan temakan ibu kaulah penyemangatku.
__ADS_1
Ilham mencoba memperhatikan ibu tua itu, tangannya yang lihai mencoba menggerakkan pena ke atas dan ke bawah, dia terlihat tekun sekali melakukannya sembari belajar agar dia bisa mewujudkan cita-citanya sebagai pelukis terkenal.
"Den.. maaf bibi ketiduran" bi Minah tiba tiba bangun dari tidurnya ketika Ilham sedang melukisnya. Dia merasa tidak enak karena dia dengan santainya tidur di atas kasur empuknya, dia sangat menyadari posisinya.
"Eeiiiiits, jangan bangun dulu bi, bibi tidur aja, jangan bergerak'' ujar Ilham. Ilham menyuruh bi Minah untuk kembali di posisinya, dia tidak mau ibu tua itu bergerak karena memang dia belum menyelesaikan lukisannya.
"Lah! Kok gitu den? Masa iya bibi harus tidur lagi" tanya bi Minah. Bi Minah tidak mengerti dengan apa yang sedang Ilham lakukan, dia pun tidur kembali seperti tadi sembari terus memperhatikan anak itu.
"Ya bibi tidur aja lagi, nanti aku liatin hasil karyaku, awas ya, jangan bergerak!" Ujar Ilham sembari tersenyum.
"Iya den" ujar bi Minah. Bi Minah juga tersenyum memperhatikan gerak gerik anak itu, jujur dia sangat sangat sangat bangga kepada Ilham, di usianya yang masih kecil dia sudah bisa menghasilkan karya yang begitu bagusnya, dia yakin sekali suatu saat nanti, Ilham akan menjadi anak yang sukses seperti nenek dan kakeknya dulu. "Den Ilham dari kapan bisa melukis kaya gini? anak bibi di kampung juga suka sekali melukis kaya den Ilham, cuma peralatannya aja yg ada jadi anak bibi tidak mengembangkan bakatnya kaya gini" bi Minah ingin tahu sekali dengan hobi anak itu karena anaknya di kampung juga kebetulan memiliki hobi yang sama dengan Ilham.
"Oh ya, kok bisa sama ya bi? Kapan kapan bibi ajak anak bibi kesini dong! biar bisa melukis sama aku disini, nanti kalau jadi, ayah mau kasih aku tempat buat melukis bi, jadi nanti aku punya tempat sendiri" ujar Ilham tersenyum. Dia berharap sekali anak bi Minah bisa melukis bersamanya, maklum saja, Ilham tidak punya teman dekat, jadi dia ingin memiliki teman baru apalagi kalau temannya itu satu profesi dengannya.
"Insyaallah den, lain kali bibi mau ajak dia kesini" ujar bi Minah.
"Memangnya anak bibi kelas berapa? Laki laki atau perempuan?" Tanya Ilham penasaran.
__ADS_1
"Anak bibi baru masuk SMP, sama kaya den Ilham, cuma anak bibi itu perempuan, dia suka sekali naik gunung sama kakaknya, tomboy den" jawab bi minah. Bi Minah mencoba menjelaskan ciri ciri anaknya kepada Ilham, sifat dan hobinya, semua hampir sama dengan ilham. Jadi Setiap dia melihat Ilham dia selalu teringat dengan anaknya itu.