
Bayu membuka pintu rumahnya lalu melihat lihat ke luar ternyata benar saja tukang itu sudah menunggu Bayu di depan gerbang. Bayu pun berjalan menuju gerbang rumahnya menghampiri si tukang itu.
"Maaf pak, dengan pak Bayu? Ini suratnya" si tukang itu menyodorkan amplop kehadapan Bayu.
"Iya" jawab Bayu dengan sedikit kebingungan. Bayu yang tidak tahu isinya pun mengambil amplop itu dari tangan si tukang, Bayu meraba amplop itu tapi isinya tipis, mungkin hanya selembar kertas atau lebih, tidak memungkinkan berkas berkas dari Clara dimasukkan ke dalam amplop kecil seperti itu.
"Terimakasih pak, kalau begitu saya permisi dulu!" Ujar si tukang itu. Setelah amplop itu selamat di tangan Bayu, tukang itupun menyalakan motornya lalu pergi dari rumah Bayu.
"Sama sama" ujar Bayu sembari terus memperhatikan isi amplop itu, Bayu sangat penasaran dengan isi di dalamnya karena tidak biasanya ada kiriman paket seperti ini "Surat apa ya?" Bayu bertanya tanya.
Bayu tidak langsung membuka amplop itu dia malah masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa sembari terus memandangi amplop tersebut. Pikiran Bayu saat ini benar benar sangat kacau, perasaannya juga tidak karuan, dia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk kepada dirinya, tapi dia tidak terlalu menghiraukan kegelisahannya karena mungkin itu hanya perasaannya saja.
Bayu menyimpan amplop itu di atas meja lalu dia merebahkan tubuhnya di sofa sembari menatap langit langit. Tadi dia merasa bersemangat karena dia kira yang datang mengirimkan surat kepadanya adalah Clara, tapi ternyata bukan jadi dia tidak langsung membuka surat itu karena dia rasa itu tidak penting, karena dipikirannya saat ini hanya Clara dan berkas berkas itu.
Ketika Bayu hampir memejamkan matanya, Elsa turun dari ruang atas dengan wajah penuh kekesalan, mungkin tadi dia bisa menahan amarahnya kepada Bayu tapi sekarang tidak lagi kesabarannya telah habis, apalagi melihat Bayu yang malah bersikap dingin terhadapnya membuat Elsa greget ingin menampar laki laki yang sekarang jadi suaminya itu.
"Mas kamu kok tidur disini?" Tanya Elsa kepada Bayu. Elsa melihat ke arah meja ternyata ada surat itu, jadi dia mengambilnya lalu membukanya tanpa izin dari suaminya itu.
"Surat apa ini?" Batin Elsa. Elsa mulai membuka lipatan kertas itu lalu membacanya. "Dari pengadilan agama" batin Elsa. Karena penasaran Elsa terus membacanya hingga beres.
"Kamu lagi ngapain disini?" Tanya Bayu kaget ketika melihat Elsa duduk di sebelahnya "surat itu…!?" Bayu langsung merebut surat itu dari tangan Elsa "suruh siapa kamu baca surat ini?" Tanya Bayu lagi. Dia terlihat marah ketika Elsa lebih dulu membuka surat itu.
__ADS_1
"Itu surat dari pengadilan agama mas" jawab Elsa. Elsa memalingkan wajahnya seakan puas dengan surat yang barusan dia baca itu.
"Pengadilan agama?" Tanya Bayu penasaran
"Iya kamu baca aja!"
Melihat wajah Elsa yang terlihat acuh, Bayu langsung membaca surat itu dengan teliti, dan ternyata benar, surat itu dari pengadilan agama yang menyatakan bahwa dirinya dan Nadira sudah tidak ada hubungan apa apa lagi. Bayu kaget dengan datangnya surat itu, perasaannya tambah hancur ketika dia harus menerima kenyataan bahwa Nadira sudah tidak Sudi lagi hidup dengannya padahal dia masih berharap kepada Nadira, dia bermimpi bisa berkumpul lagi bersama keluarganya tapi itu hanya mimpi, mimpi yang tak mungkin menjadi kenyataan.
"Sebentar mas, aku ambilin pulpen dulu" ujar Elsa tersenyum. Elsa bangkit dari duduknya berjalan menuju meja kerja Bayu yang tak jauh dari ruangan itu. Sekarang Elsa merasa puas dengan surat itu, karena itu artinya Nadira dan Bayu tidak akan lagi bersama.
Sementara itu di sofa Bayu masih terdiam sembari terus menatap surat itu dengan tubuh gemetar. Perasaannya saat ini sangat hancur berkeping keping.
"Ini pulpennya mas!" Elsa menyodorkan sebuah pulpen hitam ke hadapan Bayu, dia sudah tidak sabar ingin melihat Bayu menandatangani surat cerai itu.
Bayu meraih pulpen itu dari tangan Elsa, tapi dia tidak langsung menandatanganinya, Bayu malah terus memandangi surat itu dengan mata kosong, entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi yang jelas Bayu tidak sanggup jika harus menandatangani nya.
"Ayo mas, tandatangan!" Celetuk Elsa lagi.
Mendengar perkataan Elsa Bayu bukan mencoret kertas itu dengan tangannya, tapi dia malah menjatuhkan kertas itu hingga kertas itu terbang ke bawah kolong sofa, Bayu tidak menyadari perkataannya dulu kepada Nadira, di awal Bayu sendiri yang ngotot ingin berpisah dengan Nadira tapi sekarang ketika peluang terbuka sangat luas untuknya Bayu malah menolak perpisahan ini, padahal dia hanya perlu menandatangani surat itu tanpa harus ribet pergi ke sana kemari.
"Kamu mau kemana mas? Kok kamu belum tandatangan suratnya?" Tanya Elsa yang melihat Bayu berjalan menuju ruang atas "aku simpan suratnya di meja kerja kamu ya mas!" Ujar Elsa lagi tapi Bayu tidak menghiraukan perkataan Elsa. Dia malah nyelonong tanpa sepatah kata apapun.
__ADS_1
"Asik, sebentar lagi gue bisa menguasai seluruh harta mas Bayu" ujar Elsa tersenyum. Elsa menciumi kertas itu beberapa kali, dia mengira dengan perpisahan ini dia bisa menguasai seluruh harta Bayu, padahal tidak, perpisahan ini justru awal dari kesengsaraan Elsa dan Bayu karena sebentar lagi Nadira akan mengambil semua hartanya dari Bayu.
"Gue harus telepon mama, mama pasti senang dengar kabar ini" ujar Elsa. Elsa merebahkan tubuhnya di sofa dengan hati berbunga bunga, dia senyum senyum sendiri, khayalannya melambung tinggi menembus langit ke 7. Dia merasa jadi seorang ratu yang tak tertandingi yang menguasai singgasana kerajaan.
Tuuuuttt
Tuuuuttt
Tuuuuttt
Suara panggilan yang belum diangkat.
📞Hallo Elsa" Bu Lidia mengangkat telepon dari anaknya.
📞Hallo ma, mama kok pulang gak bilang bilang aku sih, mana bawa Keyla lagi!" Ujar Elsa yang sedikit kesal kepada mamanya.
📞Iya sa, tadi mama bawa Keyla ke rumah mama, mama gak enak tinggal disitu terus, kamu sama bayunya juga jarang di rumah, makanya mana bawa Keyla kesini" ujar Bu Lidia. Bu Lidia bersikap biasa biasa saja kepada Elsa padahal di hati kecilnya menyimpan kekesalan kepada anaknya itu.
📞Oh iya, mah, aku ada kabar baik buat kita" ujar Elsa tersenyum. Dia yakin dengan semua khayalannya makanya dia tenang tenang saja, padahal semua permasalahan hidupnya akan segera datang menimpanya.
📞 Syukurlah" ujar Bu Lidia tersenyum
__ADS_1