30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
mencoba memberi saran


__ADS_3

Bi Minah dan dokter raisa terus berbincang banyak tentang Ilham + Bayu dan Nadira, bi Minah mencoba menjelaskan semuanya kepada dokter cantik itu agar tidak ada kesalahpahaman diantara mereka.


karena dia rasa semuanya sudah jelas bi Minah pun pamit kepada dokter Raisa untuk beristirahat.


"Maaf Bu dokter, saya pamit istirahat dulu ya, bu dokter nggak apa-apa kan saya tinggal di sini sendiri?" Tanya bi Minah yang merasa tidak enak dengan majikannya itu.


"Iya bi, Bibi istirahat saja! Maaf saya sudah mengganggu waktu istirahat bibi" jawab dokter cantik itu.


Mendengar perkataan dokter Raisa, Bibi nah pun bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar, sekarang perasaannya terasa lega sekali setelah semuanya isi hatinya dia curahkan kepada majikannya itu, dia berharap dokter Raisa berbicara sesuatu kepada Nadira agar dia lebih memperhatikan kedua anaknya lagi.


Karena malam sudah semakin larut, dokter Raisa pun masuk ke dalam rumahnya dia berjalan menghampiri kamar Nadira untuk berbicara sesuatu kepadanya.


Tok


Tok


Tok


"Maaf Bu, apa bunda Nadira sudah tidur?" Teriak dokter Raisa dari luar. Dokter Raisa sebenarnya tidak enak berbicara malam-malam seperti ini, tapi dia harus membicarakan masalah ini malam ini juga agar Nadira tidak salah paham lagi dengan bi Minah dan pak Karyo.

__ADS_1


"Masuk dok! Pintunya nggak dikunci kok" teriak Nadira dari dalam kamar. Nadira yang belum tidur dia menyuruh dokter Raisa untuk masuk ke dalam kamarnya, dia tidak bisa tidur karena memikirkan kedua anaknya yang sekarang berada di rumah mantan suaminya itu.


"Maaf ya bu Dira, saya mengganggu waktu istirahat ibu" ujar dokter Raisa merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa Dok, lagian saya juga belum mau tidur kok" ujar Nadira tersenyum. Nadira memperlihatkan wajah sedihnya, mungkin karena dia memikirkan Ilham dan Sifa yang sekarang tidak bersamanya. "Kok dokter Risa belum tidur?" Tanya Nadira.


"Belum Bu, barusan saya ngobrol banyak sama bi Minah dan pak Karyo" Jawab Dokter Raisa.


"Bicara apa Dok?" Tanya Nadira lagi. Nadira penasaran sekali dengan apa yang dibicarakan dokter Raisa dan bi Minah. 


"Barusan saya tanya sama bi Minah tentang Ilham dan Syifa bu, jadi katanya tadi pagi Ilham sendiri yang minta dianterin ke rumah ayahnya, jadi ibu nggak perlu khawatir sama mereka, Ilham sama sifa baik-baik aja kok, mereka juga katanya betah banget Bu tinggal sama Bayu, malah tadi siang juga katanya mereka diajak jalan-jalan sama dia" jawab dokter Raisa sembari mengelus pundak Nadira. "Saya tahu Bu, banyak sekali urusan yang harus ibu kerjakan, tapi menurut saya, untuk saat ini ibu fokus aja sama anak-anak, biar saya yang urus acara pernikahan ibu dan Reza, ibu serahkan semuanya sama saya dan suami saya, tadi fitting bajunya udah selesai kan Bu?" Tanya dokter Raisa ingin tahu.


"Oh jadi besok ibu mau pergi ke butik lagi?" Tanya dokter Raisa


"Iya dok, besok saya udah ada janji sama teman saya katanya di butiknya ada baju yang cocok buat saya, jadi saya mau kesana saja, biar cepat" jawab Nadira tersenyum. Nadira sama sekali tidak berkomentar apapun tentang anak anaknya, yang dia pikirkan saat ini hanyalah baju itu saja dan acara pernikahan. Dokter Risa mengerti dengan perasaan Nadira, tapi yang dia inginkan Nadira tidak bersikap seperti ini kepada kedua anaknya. Dokter Raisa ingin Nadira tetap memperhatikan kedua anaknya meskipun urusannya sangat banyak. Terlebih lagi kedua anaknya yang sudah mulai tumbuh dewasa mereka sudah mengerti sekali jika bundanya sudah tidak lagi peduli dengan mereka.


"Maaf Bu, apa boleh saya kasih saran buat ibu?" Tanya dokter Raisa tersenyum. Sebenarnya dokter Raisa merasa tidak enak berkata seperti ini kepada Nadira. Tapi dia terpaksa harus mengatakannya, jika dibiarkan, dia tidak mau terjadi kesalahpahaman antara Nadira dan kedua anaknya begitupun Bayu.


"Tentu saja dok, katakan saja?" Jawab Nadira tersenyum. Nadira memasang telinganya lebar lebar. Dia siap mendengar apapun yang dokter cantik itu katakan.

__ADS_1


"Sekarang kan Bayu lagi gak kerja, gimana kalau sementara waktu ini ibu serahkan hak asuh anak anak ke dia sampai urusan ibu selesai? Nanti kalau urusan ibu udah beres baru ibu ambil lagi hak asuh mereka dari dia, maaf Bu, bukannya saya mau ikut campur urusan ibu, tapi kan nggak ada salahnya kalau ibu kasih kesempatan buat dia mengurus Syifa dan Ilham untuk sementara waktu ini, menurut ibu gimana?" Tanya dokter Raisa. Dokter Raisa mencoba bertanya lagi ke kepada Nadira, dia berharap Nadira bisa mengerti dan menginjakan kedua anak itu tinggal bersama ayahnya.


"Saya bingung dok, gimana kalau mereka nggak betah tinggal sama dia, gimana kalau mereka nggak ke urus dok? Saya tahu banget mas Bayu seperti apa, saya takut Ilham dan Syifa dibiarkan gitu aja" jawab Nadira yang terlihat kebingungan.


"Nggak mungkin bu, sejahat apapun laki-laki dia tidak mungkin berani menyakiti anak anaknya, saya dengar sendiri dari bi Minah, katanya Bayu perhatian sekali sama Ilham dan Sifa, malah katanya tadi siang dia ngajak anak-anak jalan-jalan Bu, bi Minah nggak mungkin bohong Bu, ibu tahu sendiri kan bi Minah sayang banget sama Ilham dan Sifa" jawab dokter raisa tersenyum. Dokter Raisa mencoba memberi pencerahan kepada ibu dua orang anak itu.


"Iya dok, nanti saya akan pikir-pikir lagi" ujar Nadira.


"Ya sudah, ibu pikir pikir saja dulu! Ibu ikuti apa kata hati ibu, saya berharap ibu bisa mendapatkan pilihan yang tepat" dokter Raisa mengelus pundak Nadira sembari tersenyum manis. "kalau gitu saya permisi ke kamar dulu ya Bu! ibu istirahat! Awas ya Bu, Jangan tidur terlalu malam" Dokter Raisa. 


Dokter Raisa pun bangkit dari duduknya berjalan meninggalkan kamar itu menuju kamarnya. Dia sebenarnya bingung entah apa yang harus dia katakan kepada Nadira, dilema yang dia rasa saat ini.


Dokter Raisa masuk ke dalam kamarnya dengan tubuh yang sudah sangat lelah.


"Kamu dari mana dulu sayang? kok baru masuk kamar?" Tanya Bram. Bram juga terlihat masih sibuk sekali, dia masih duduk di meja kerjanya dengan laptop yang masih menyala di hadapannya.


"Aku dari kamar Bu Nadira dulu mas! kamu belum tidur?" Dokter Raisa malah balik bertanya kepada suaminya itu.


"Dari kamar Nadira? memangnya habis ngapain? Gimana katanya fitting bajunya, udah beres kan?" Tanya Bram lagi. Bram penasaran sekali, dia ingin tahu apa Nadira dan Reza sudah beres fitting bajunya atau tidak. Dia ingin semuanya cepat beres agar mereka bisa cepat cepat duduk santai.

__ADS_1


__ADS_2