30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
kesedihan ilham


__ADS_3

"Berarti besok kita ke pengadilan ya bu?!" Tanya dokter Raisa kepada Nadira. Dokter Raisa menoleh ke arah Nadira sembari memegangi sendok dan garpu di tangannya. Malam itu mereka mencicipi masakan buatan Nadira dan BI Minah, semua orang tampak menikmati makanan itu hingga ludes tak tersisa.


"Iya dok, kalau dokter Raisa ada waktu luang Gimana kalau kita berangkatnya pagi pagi dari sini" ujar Nadira. Nadira berharap dokter Raisa mau menemaninya pagi pagi ke pengadilan biar semua urusannya cepat beres.


"Bisa kok Bu, kebetulan kemarin saya sengaja cuti 3 hari buat nemenin Sifa dan Ilham ketemu ibu. Masih ada waktu 2 hari lagi buat libur, jadi besok saya bisa nemenin ibu dari pagi sampai sore" Raisa mengelus pundak Nadira sembari tersenyum manis. 


"Terimakasih ya dok, saya gak tau lagi harus berkata apa" ujar Nadira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sama sama Bu, lagian saya juga capek tiap hari bulak balik rumah sakit, sekali kali gak ada salahnya kan kalau kita jalan jalan" dokter Raisa, dia menaikkan pundaknya sembari tersenyum.


"Iya dong dok, kita juga butuh refreshing, masa iya diam di rumah sakit terus" ujar Lisa menjawab perkataan dokter Raisa sembari tertawa


Mereka Pun meneruskan makan malam itu dengan penuh canda tawa kebahagiaan. 


**


Malam semakin larut, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Hujan yang tak berhenti dari siang hari membuat kota tampak sunyi. Begitupun suasana di villa milik dokter Raisa. Villa yang begitu sangat megah itu terlihat sepi seperti tak berpenghuni. Tak ada satupun orang yang terlihat dari luar maupun dalam ruangan villa tersebut. mungkin semua orang sudah masuk ke dalam kamar masing masing untuk mengistirahatkan tubuhnya. Setiap lampu dari sudut kamar sudah mulai padam tapi ada satu kamar yang  terlihat masih terang benderang. Kamar itu dihuni oleh Nadira dan anak anaknya.

__ADS_1


"Anak anak bunda kok belum tidur sih?" Tanya Nadira kepada kedua anaknya. 


"Belum ngantuk bunda" jawab Ilham sembari menatap langit langit dengan mata kosong. Posisi tidur Ilham terlentang sedangkan posisi sifa tidur berbalik ke arah kakaknya dengan mata yang sudah setengah tertidur.


"De kamu sudah tidur?" Tanya Ilham menoleh ke arah SifaTapi Sifa sudah memejamkan kedua matanya "yah Sifa sudah tidur" batin Ilham. Ilham menoleh lagi ke arah Nadira tapi Nadira masih saja sibuk dengan berkas berkas yang pak Bram kasih tadi siang. Semenjak Nadira pulang dari Singapura. Ilham merasa canggung kepada bundanya itu apalagi setelah bundanya mengumumkan acara pernikahannya secara mendadak tanpa memberitahu dia dan Sifa terlebih dahulu . Perasaan Ilham sedikit berubah, dia merasa bundanya tidak seperti dulu lagi sewaktu mereka tinggal bersama. 


"Bunda, bunda benar benar mau menikah lagi?" Tanya Ilham yang masih belum percaya dengan keputusan bundanya.


"Iya sayang, Memangnya kenapa nak? Ilham tidak suka ya bunda menikah lagi?" Tanya Nadira. Nadira menyimpan selembar kertas yang ada di tangannya ke atas meja lalu dia berjalan menghampiri Ilham yang masih menatapnya dengan ragu.


"Kamu kenapa nak? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" Nadira duduk di sebelah Ilham sembari mengelus kepala anaknya itu dengan penuh kasih sayang.


"Bunda kenapa gak bilang dulu sama kita kalau bunda mau menikah lagi?" Tanya Ilham dengan mata yang berkaca-kaca.


Nadira yang mendengar pertanyaan anaknya itu dia langsung menjatuhkan air matanya, Nadira tidak menyadari kalau anaknya yang satu ini sudah tumbuh menjadi anak yang dewasa "Maafin bunda ya nak, bunda gak bilang dulu sama Ilham, bunda terpaksa melakukan ini demi kebahagiaan kamu dan adik Sifa" batin Nadira. Sembari mengelus kepala Ilham Nadira terisak hebat. Dia tidak bisa menahan kesedihannya dihadapan anaknya itu. Serapat apapun Nadira menyembunyikan beban kesedihannya Ilham pasti akan mengetahuinya. Ilham sangat jeli dengan kondisi Nadira setelah Nadira mengalami koma waktu itu.


"Bunda" Ilham langsung memeluk Nadira dengan erat. Dia juga menangis terisak di pelukan sang bunda.

__ADS_1


"Maafin Ilham ya bunda, bunda pasti nangis gara gara aku'' ujar Ilham 


"Engga nak, Ilham gak salak kok, yang salah itu bunda, bunda yang harus minta sama ilham dan adik Sifa, maafin bunda ya nak bunda gak bilang dulu sama kalian kalau bunda ingin menikah lagi" Nadira memeluk anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Dia ingin mengungkapkan Begitu besar kasih sayang kepada kedua anaknya dengan pelukan hangat itu setelah dia merasa gagal menjadi ibu yang baik untuk mereka.


"Engga bunda, bunda gak salah apa apa. Ilham tau bunda melakukan semua ini demi kebahagiaan kita kan?" Ilham melepaskan pelukan itu lalu menatap Nadira dengan serius. Air matanya terus mengalir hingga Nadira tak bisa lagi menahan kesedihannya di depan anaknya yang satu ini '' Ilham tau bunda kalau ayah sudah menikah lagi sama perempuan lain" ujar Ilham dengan air matanya yang terus mengalir.


Mendengar perkataan Ilham Nadira begitu sangat kaget, matanya terbelalak menatap kedua bola mata anaknya itu, mulutnya bungkam dengan tubuh yang gemetar hebat. Tubuhnya mematung saking tidak menyangka bahwa anaknya Ilham yang masih duduk di kelas 6 SD itu sudah mengerti semua kesakitan nya selama ini.


"Bunda gak boleh nangis, Ilham sama adik akan selalu menemani bunda sampai kapanpun, Ilham janji akan menjaga bunda sama adik" Ilham menghapus air mata yang mengalir di pipi bundanya itu dengan kedua tangannya. Dia tersenyum sembari memeluk tubuh bundanya yang sedang mematun itu dengan erat penuh kasih sayang.


"Ilham janji akan terus nemenin bunda sama adik? Ilham gak bohong kan?" Tanya Nadira. Dia ingin meyakinkan hatinya dengan jawaban dari ilham.


"Ilham janji bunda" jawab Ilham tersenyum.


"Terimakasih ya sayang, bunda bahagia sekali punya anak seperti kamu, bunda bangga sekali nak" ujar Nadira sembari terus mencium anaknya itu.


"Sama sama bunda, 

__ADS_1


__ADS_2