
"Ini nak nasi gorengnya, makan yang banyak ya! Maaf, ayah cuma bisa siapin makanan seperti ini buat kalian" ujar Bayu dengan mata yang berkaca-kaca. "Gimana nak? Nasi gorengnya enak kan?" Tanya Bayu tersenyum.
Bayu terus saja memperhatikan ekspresi wajah mereka, dia merasa takut nasi goreng buatannya tidak enak, tapi hanya ini yang bisa dia lakukan, maklum saja! dia tidak pernah memasak, jadi enak atau tidak, mereka tetap harus memakannya.
"Enak ayah, ternyata ayah pintar masak juga ya! Nanti Ilham mau belajar masak ah sama ayah, ayah mau kan ajarin Ilham?" Tanya Ilham. Ilham ternyata suka dengan nasi goreng buatan ayahnya. Meskipun penampilan nasi gorengnya tidak semenarik yang Nadira bikin, tapi ternyata rasanya hampir sama dengan nasi goreng buatan Nadira. Mereka berdua terlihat lahap sekali, membuat Bayu semakin semangat untuk memasak lagi buat mereka berdua.
"Enak ayah" ujar Syifa juga.
Mereka pun makan bersama sembari terus berbincang membicarakan kenangan kenangan indah yang pernah mereka lalui, dan bukan itu saja Syifa dan Ilham terus saja bercerita kepada ayahnya tentang apa yang mereka sukai dan apa yang mereka inginkan saat ini, mereka terlihat terbuka kepada ayahnya, beda sekali dengan ketika mereka bersama Nadira, mereka terlihat canggung sekali, entah mungkin karena Nadira yang sibuk, atau apa. Yang jelas Ilham merasa tidak pernah ada waktu untuk sekedar bercerita kepada bundanya
Tiiit
Tiiit
Tiiit
Suara klakson mobil berbunyi, mobil itu terlihat berhenti di depan rumah Bayu, mungkin itu mobil dokter Reza dan Nadira yang akan menjemput Ilham dan Sifa.
__ADS_1
"Itu mobil siapa ayah?" Tanya Syifa yang mendengar klakson mobil itu berbunyi di depan rumah.
"Sebentar ya, ayah lihat dulu! kalian tunggu di sini aja!" Jawa Bayu. Bayu mulai bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri mobil itu. Dia ingin tahu siapa yang datang ke rumahnya pagi pagi seperti ini.
"Assalamualaikum, Sifa.. Ilham.. ini bunda nak!" Teriak Nadira dari luar.
"Waalaikumsalam" ujar Bayu "silahkan masuk!!" Bayu membuka pintu rumah itu lalu mempersilahkan Nadira dan dokter Reza untuk masuk.
"Mana anak-anak? Kok mereka nggak ada? Apa mereka belum bangun?" Tanya Nadira. Nadira berjalan mencari anaknya ke arah dapur sedangkan dokter Reza, dia duduk di sofa menunggu Nadira mencari kedua anaknya.
"Siapa laki laki ini? Apa dia calon suaminya?" Batin Bayu. Bayu terus memperhatikan dokter Reza, dia penasaran sekali dengan laki laki yang sekarang berada di hadapannya itu.
"Saya Bayu, mantan suami Nadira, ada perlu apa kalian datang kemari?" Tanya Bayu. Perasaan Bayu hancur sekali saat ini, bagaimana tidak, di saat dia benar-benar sangat mencintai Nadira, Nadira malah pergi meninggalkannya, dan sekarang dia mau menikah dengan laki-laki lain, ini benar-benar awal dari kehancurannya, Bayu benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa, perasaannya sangat hancur berkeping-keping.
"Saya dan Nadira kesini mau jemput Ilham dan Sifa, kami mau mengajak mereka untuk fitting baju, apa boleh saya membawa mereka berdua?" Tanya dokter Reza. Dokter Reza sebenarnya sangat kesal sekali melihat Bayu, tapi dia tidak memperlihatkan kekesalannya karena dia tidak mau mencari masalah dengan Bayu, sekarang dia mencoba untuk berdamai saja, karena itu lebih baik, dia tidak mau menimbulkan perselisihan di antara mereka agar Syifa dan Ilham tidak menjadi korban, dia ingin Ilham dan Sifa nyaman dengan keberadaannya, begitu juga ketika mereka bertemu seperti ini, dokter Reza tidak ingin ada keburukan diantara mereka bertiga.
"Kalau saya sih tergantung mereka berdua" jawab Bayu dengan nada datar. Bayu terlihat cuek sekali, entah karena dia cemburu atau apa, yang jelas saat ini dia terlihat malas sekali melihat wajah laki laki yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu gak keberatan bay, Semoga aja mereka mau ikut bersama saya dan Nadira" ujar dokter Reza tersenyum.
Nadira muncul dari arah dapur dengan membawa Ilham dan Sifa.
"Bunda kok baru kesini sih? Tadi ayah masak nasi goreng kesukaan kita loh, bunda untuk makan belum? Ayo bunda ikut sarapan sama kita!" Sifa terus bertanya kepada bundanya itu, dia menceritakan kalau tadi ayahnya memasak untuk mereka berdua, Sifa terlihat senang sekali, beda dengan Ilham, Ilham terlihat biasa biasa saja dengan kehadiran bundanya saat ini.
"Oh ya? Alhamdulillah kalau ayah masak buat kalian, bunda udah makan kok tadi, maaf ya! Bunda baru bisa kesini lagi, hari ini bunda mau ajakin kalian ke butik, kalian mau kan?" Tanya Nadira kepada kedua anaknya. Nadira mengajak kedua anaknya untuk duduk bersama dokter Reza dan Bayu. Mereka berbincang disana, merundingkan rencana mereka kedepannya, Nadira juga berbicara kepada Bayu tentang acara pernikahannya yang akan diselenggarakan di rumah itu.
"Sifa ikut bunda" jawab Sifa. Sifa terlihat baik baik saja karena memang dia tidak ada pikiran buruk apapun tentang ayah dan bundanya, anak kecil itu benar benar belum mengerti apa apa.
"Iya nak" ujar Nadira. Nadira mengelus kepala Sifa dengan penuh kasih sayang, dia bersyukur sekali melihat Bayu dan dokter Reza bisa akur seperti ini, dia ingin keluarganya tetap baik baik saja seperti ini, merasakan rasa kebersamaan dengan mereka.
"Menurut kamu gimana mas? Kamu mau tetap disini atau mau cari tempat lain? Aku sih berharap kamu bisa hadir di acara pernikahan aku Sama mas Reza, aku ingin kamu temenin anak anak mas " Dengan teganya Nadira berkata seperti itu kepada Bayu, dia sebenarnya tidak ingin berkata sesuatu yang menyakitkannya, tapi Nadira tidak punya pilihan lain, dia tetap harus berkata seperti itu agar ada kepastian yang jelas.
"Aku akan menemani kedua anakku" jawab Bayu dengan jelas.
"Baik mas, terimakasih sebelumnya" ujar Nadira lagi.
__ADS_1
Nadira tersenyum begitu mendengar keputusan bayu barusan, dia benar benar lega sekali karena akhirnya semuanya berjalan dengan lancar, dia sempat ragu untuk berbicara ini kepada Bayu, dia takut Bayu berkata yang tidak mengenakan terhadapnya, tapi ternyata tidak, dengan sadarnya Bayu mengatakan kalau dia akan terus menemani anaknya meskipun sebenarnya hatinya sangat terluka.
"Ya Allah, bunda sama dokter Reza mau menikah di rumah ini, kenapa bunda melakukan ini? Kenapa bunda tidak bisa menjaga perasaan ayah" batin Ilham.