
"Gimana ya dok, memangnya apa boleh saya tinggal di rumah Bu dokter? saya gak enak ngerepotin dokter terus, kemarin anak anak saya, masa sekarang saya juga tinggal di rumah Bu dokter, saya malu" ujar Nadira sembari mengangkat pundaknya tersenyum tak enak.
"Kenapa malu Bu, justru saya senang ibu bisa tinggal di rumah saya, 1 atau 2 hari saja, nanti saya antar ibu sama anak anak pulang ke rumah ibu, gimana?" Tanya dokter Raisa lagi, dia tersenyum sembari terus menatap Nadira, dokter Raisa menggenggam tangan Nadira dengan erat seakan memohon, dia sangat berharap Nadira bisa mengucap iya, dan tinggal bersamanya.
Melihat dokter Raisa yang terus menatapnya tanpa ragu, Nadira pun tersenyum sembari mengatakan iya, tapi setelah itu dia menoleh ke arah Bram yang sedang asik mengobrol dengan Reza, kebetulan mereka mengobrol terpisah karena mungkin mereka sedang berbicara serius, dia terus menatap Bram seakan menunjukkan kalau dia tidak enak dengan suami dari dokter Raisa itu.
"Suami saya?" Tanya dokter Raisa tersenyum
Nadira mengangguk.
"Kenapa dengan suami saya Bu? Ibu gak enak sama suami saya?" Tanya dokter Raisa sembari tertawa, "sebentar ya Bu!" Tangannya menyetop bibir Nadira yang sudah siap menjawab pertanyaannya "mas sini deh sebentar!" Teriak dokter Raisa memanggil suaminya sembari tersenyum
Mendengar teriakkan Raisa Bram langsung menoleh sembari menganggukkan kepalanya, dia tau istrinya pasti penasaran dengan apa yang sedang dia bicarakan dengan Reza hingga dia memanggilnya, padahal tidak, Raisa memanggilnya hanya untuk meminta izin, rupanya Bram sedang kegeeran.
"Ada apa sayang? Mas sama Reza sedang membicarakan acara lamaran" tiba tiba Bram mengucapkan itu, padahal Raisa tidak bertanya apa apa.
"Lamaran siapa?" Tanya dokter Raisa penasaran
"Reza mau melamar pacarnya" jawab Bram dengan jelas hingga membuat Nadira yang sedang minum tersedak.
__ADS_1
"Uhuk uhuk" Nadira menutup mulutnya sembari menundukkan kepalanya "ma-maaf dok" ujar Nadira
"Bunda kenapa? Bunda gak papa kan?" Tanya Sifa yang melihat bundanya tersedak, Sifa mencoba mengambil tisu lalu memberikannya kepada Nadira
"Bunda gak papa nak!" Ujar Nadira sembari terus menundukkan kepalanya.
Nadira tidak enak hati mendengar perkataan Bram, dia tidak menyangka dokter Reza dan Bram akan berbicara seserius ini, dia tidak percaya dokter Reza akan melamarnya padahal hubungannya belum terbilang lama.
"Dokter Reza mau melamar aku, bagaimana bisa? Apa mungkin aku salah denger?" Batin Nadira bertanya tanya
"Sudah! kita jangan ngebahas itu dulu" ujar Raisa mengalihkan pembicaraan "gini mas, Bu Nadira kan baru pulang dari Singapura, aku tau pasti dia masih capek, kondisinya juga pasti masih belum vit, gimana kalau Bu Nadira tinggal dulu sama kita untuk beberapa hari kedepan, gimana mas? Gak keberatan kan?"
"Bagus dong, jadi kan rumah kita rame terus, jangankan 2 sampai 3 hari selamanya pun mas gak keberatan" jawab bram dengan penuh semangat, dia mengiyakan karena sebenarnya dia juga menginginkan seperti itu, dia berharap kedua anak baik itu bisa terus Tinggal bersamanya sampai dokter Raisa memiliki seorang anak, keberadaan mereka bisa jadi pancingan untuk Raisa bisa memiliki keturunan.
"Sama sama Bu Nadira, terimakasih loh Bu Nadira sudah mau tinggal di rumah kami jadi kan nanti pasti dokter Reza main terus ke rumah, dia jadi gak pura pura lupa lagi sama saya, setiap mau ke rumah sakit pasti cuma numpang lewat saja depan rumah saya, gak pernah mau mampir" Bram berkata dengan keras sembari tersenyum, seolah olah menyindir sahabatnya itu, kebetulan Reza masih berdiri di depan pagar kayu depan taman.
"Mas, ngomong apa sih?" Tanya dokter Raisa tersenyum, dia tau suaminya hanya bercanda, Bram berusaha memancing Reza agar Reza mau mengobrol bersama mereka, meskipun sebenarnya Reza jarang sekali mampir ke rumahnya, karena mungkin kesibukannya.
Nadira hanya tersenyum menatap dokter Raisa sembari menggelengkan kepalanya seperti tidak tau apa apa, dia belum memberitahu Raisa tentang hubungannya dengan Reza karena dia rasa waktunya belum tepat.
__ADS_1
"Yang lagi diomongin malah diem aja nih" teriak Lisa, Lisa berbicara sembari menoleh ke arah Reza yang masih saja anteng memberi makan ikan koi yang lucu lucu menggemaskan.
Reza hanya menoleh seperti tidak mendengarkan apa apa, dia sengaja tidak ikut nimbrung bersama mereka karena dia tau ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan, dan orang itu tak lain adalah Bayu, Reza sendiri belum tau dia itu siapa, tapi yang jelas Reza mengetahui keberadaan Bayu sedari tadi sewaktu mereka keluar dari mobil, Reza tau Bayu mengikuti mereka jadi Reza terus memperhatikan dia karena takut Bayu adalah seorang penjahat.
"Sebentar ya dok, saya kesana dulu!" bisik Nadira sembari menunjuk ke arah Reza
Dokter Raisa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
Ketika Nadira bangkit dari duduknya berjalan menghampiri dokter Reza, Ilham terus memperhatikan bundanya dengan mata yang berkaca-kaca, meskipun Sifa dan yang lain bercanda, mengobrol di sampingnya tapi dia hanya diam membisu sembari terus dan terus memperhatikan bundanya, Ilham merasa ini seperti mimpi, dia tidak pernah membayangkan dia bisa bertemu lagi dengana bundanya setelah kejadian di rumah sakit itu, dia benar benar sangat bahagia, tapi kebahagiaan itu kurang tanpa kehadiran sosok ayah disampingnya, Ilham ingin sekali keluarganya seperti dulu lagi.
Ilham menjatuhkan air matanya lalu menghapusnya kembali, dia tidak mau Sifa dan yang lain tau kalau dia menangis.
"Ayah! sekarang bunda ada bersama kita, tapi kenapa ayah malah senang senang bersama perempuan lain, kalau ayah bawa perempuan itu ke rumah, lalu nanti Ilham bawa bunda pulang kemana?" batin Ilham merintih, rupanya anak itu sudah mengerti bagaimana perilaku ayahnya selama ini, dia sangat kecewa, dia benci kepada sosok ayah yang sudah berani menyakiti bundanya, tapi dia tidak bisa berbuat apa apa, dia hanya bisa menangis dan pura pura tidak tau apa apa, padahal sebenarnya hatinya sangat hancur berkeping keping.
"Mas, kok kamu malah disini? ayo kita gabung sama mereka!" ajak Nadira sembari menarik tangan Reza.
"Mas lagi merhatiin seseorang, kayaknya dari tadi dia ngikutin mobil kita" jawab Reza menoleh ke arah Nadira, dia menatap Nadira dengan serius.
"Siapa mas? mana orangnya?" tanya Nadira ingin tahu
__ADS_1
"Itu coba kamu perhatikan, orangnya berdiri di bawah pohon, dari tadi dia merhatiin kamu" jawab dokter Reza dengan sedikit kesal "Kamu kenal orangnya?" tanya dokter Reza lagi.
deg