
"Berkas berkas apa Bu?" Tanya Agus ingin tahu.
"Berkas kepemilikan perusahaan, dulu saya simpan di ruangan kerja saya yang sekarang jadi ruangan kerja Bayu, kamu masuk ke ruangan itu, disana ada brankas besar, kamu buka saja! Nanti saya kasih pin nya" jawab Nadira. Nadira ingat sekali semua berkas penting dia simpan disana, Nadira ingin sekali mengambil barang barang berharga itu, tapi dia takut para pekerja mengetahui kedatangannya dan membicarakan semuanya kepada Bayu.
"Baik Bu, nanti akan saya coba" ujar Agus tersenyum. Agus sebenarnya bingung dengan pekerjaan ini, tapi dia harus tetap melakukannya demi Nadira, dia ingin Nadira cepat cepat mengambil alih perusahaan itu lagi.
"Terimakasih sebelumnya ya Gus, saya tidak tau harus berkata apalagi sama kamu dan ibu, selama ini kalian baik sekali, semoga Allah membalas semua kebaikan ibu sama Agus dan kamu juga Clara" ujar Nadira dengan mata yang berkaca-kaca. Nadira menepuk pundak Clara sembari tersenyum manis, dia tidak percaya bisa bertemu dengan orang baik seperti Clara. Sekarang dia jadi memiliki teman baru yang bisa membuat hatinya tambah lega apalagi jika Clara tau seluk beluk Elsa, perasaannya jadi tidak takut lagi meskipun Elsa bersifat sangat licik.
"Kita kan sudah ngobrol panjang lebar, Agus juga mungkin sudah tau apa yang harus dikerjakan, jadi sekarang saya dan Nadira mau pamit pulang dulu ya bu! besok saya dan Bu Nadira kesini lagi" ujar dokter Raisa.
"Iya Bu, maaf ya saya sudah merepotkan Agus dan ibu" ujar Nadira menjatuhkan air matanya. "Dan kamu Gus, sekali lagi terimakasih kamu sudah mau membantu saya"
"Jangan berterimakasih terus Bu Dira, kami tidak merasa direpotkan, justru kami senang bisa membantu ibu dan Bu dokter"
"Iya Bu Nadira, pokoknya sekarang ibu jangan banyak pikiran, sekarang ibu pulang lalu istirahat, biar urusan ini saya dan Clara yang pikirkan" ujar Agus tersenyum.
"Benar kata Agus, ayo kita pulang! Ilham dan Sifa pasti sudah menunggu kita dari tadi" dokter Raisa mulai bangkit dari duduknya "terimakasih ya Bu, Clara, Agus, atas jamuannya, saya akan senang sekali jika kalian juga main ke rumah saya" ujar dokter cantik itu tersenyum. Dokter Raisa benar benar nyaman dengan keluarga Agus, sekarang dia jadi merasa memiliki orang tua baru yang membuat hidupnya tidak kesepian lagi.
__ADS_1
"Sama sama Bu dokter, insyaallah lain waktu saya dan anak saya akan berkunjung ke rumah ibu dokter" ujar ibu Agus tersenyum.
"Saya tunggu kedatangannya, ya sudah' kalau semuanya sudah jelas saya dan Bu Nadira permisi pamit dulu, Assalamualaikum"
Dokter Raisa pun mulai berjalan meninggalkan rumah Agus menuju mobil, sedangkan Nadira seperti biasa dia bersalaman terlebih dahulu kepada mereka baru menyusul dokter Raisa yang sudah beranjak dari rumah itu. Karena kebaikannya kemanapun dia pergi dia tidak akan pernah merasa sendiri, karena orang baik pasti akan dikelilingi orang baik juga.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya satu persatu masalahku bisa teratasi, semoga semuanya berjalan dengan lancar seperti apa yang aku inginkan, dengan menyebut namamu aku bersumpah aku tidak ingi menyakiti siapapun, aku hanya ingin memberi pelajaran kepada mereka yang sudah menyakitiku agar mereka tidak bersikap seperti ini lagi, semoga dengan masalah ini engkau cepat cepat memberikan hidayah kepada mereka, amin" batin Nadira.
Nadira masuk ke dalam mobil mewah itu Sembari tersenyum ke arah mereka, dia juga melambaikan tangan kepada mereka yang sangat dia sayangi, orang tua baru baginya.
"Memang benar sekali dok, saya juga merasa seperti itu, sebenarnya saya berat sekali melangkahkan kaki saya dari rumah itu dok, entah kenapa hati saya terasa nyaman jika berada dekat mereka, tapi anak anak, mereka pasti sudah menunggu saya" ujar Nadira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa kita gak nginep di sana saja Bu, gimana?" Tanya dokter Raisa. Dokter Raisa juga merasakan perasaan yang sama dengan Nadira, dia juga sebenarnya betah sekali di rumah itu jadi tidak ada salahnya kalau hari ini dia mengajak Nadira untuk menginap di rumah Agus.
"Anak anak gimana dok?" Tanya Nadira bingung. Nadira tidak mungkin menginap di rumah Agus tanpa kedua anaknya.
Dokter Raisa menghentikan mobilnya lalu menatap Nadira dengan serius.
__ADS_1
"Sekarang Bu Nadira kembali ke rumah Agus, biar saya yang jemput anak anak ke rumah, Agus sama ibu pasti senang kita nemenin mereka malam ini"
"Tapi…!" Nadira ragu
"Sudah Bu, ibu kembali ke rumah Agus, saya yang jemput anak anak, ayo Bu! Biar saya bisa ikut sama Agus nanti malam" ujar dokter Raisa memohon.
"Ya sudah!"
Nadira pun keluar dari mobil dokter Raisa lalu kembali ke rumah Agus, sembari melangkahkan kakinya nadira terus berpikir, dia takut semua keinginannya tidak sesuai rencana.
"Gimana kalau pin brankas itu sudah di ganti sama mas bayu" ujar Nadira. Dia takut malam ini Agus gagal mengambil berkas itu.
Nadira terus melangkahkan kakinya berjalan menuju rumah itu, sementara keluarga Agus masih berkumpul di meja makan, Agus meminta pendapat ibunya tentang rencana mereka malam ini.
"Bu, di ruangan pak Bayu kan ada cctv gimana kalau nanti Agus ketahuan mengambil berkas penting itu?" Tanya Agus kebingungan.
"Mas tenang aja, nanti biar aku yang amanin cctvnya, orang orang kantor kan belum tau kalau aku dipecat, jadi aku masih aman" ujar Clara tersenyum.
__ADS_1