30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
kesal kepada sifa


__ADS_3

"Mas ke dapur dulu mau ambil minum!" Ujar dokter Reza dengan nada datar. Melihat Sifa yang masih terlihat segar, dokter Reza pun keluar dari kamar itu dengan wajah kesal, dia berjalan ke ruang bawah untuk mengambil minum. Di Perjalanan menuju ruang bawah dokter Reza kaget melihat bi Minah yang sedang duduk ti tangga.


"Bibi, bibi ngapain duduk disini?" Tanya dokter Reza ingin tahu, Dokter Reza penasaran sekali melihat bi Minah yang duduk di tangga itu, dia ingin tahu apa yang sedang dia lakukan padahal ini sudah larut malam.


"Eeehh, pak dokter. Maaf pak dokter, bibi ngagetin pak dokter ya?" Tanya bi Minah tersenyum. Dia melihat dokter ganteng itu dari atas sampai bawah, dia penasaran sekali dengan apa yang mereka lakukan tadi hingga Sifa berlari terbirit-birit.


"Enggak, memangnya bibi lagi apa malam malam gini duduk di tangga?" Tanya dokter Reza lagi.


"Tadi bibi mau ambil minum ke dapur, baru aja sampai di tangga ke 3 udah sakit pinggang bibi pak, jadi bibi duduk dulu disini" jawab bi Minah tersenyum. Bi Minah terpaksa berbohong kepada dokter ganteng itu, dia sebenarnya tidak sakit pinggang melainkan menahan ngompolnya.


"Aduuuh! pak dokter malam diam disitu lagi, pasti dia nyium bau Pesing dari celanaku" bayi bi Minah. Bi Minah merasa tidak enak karena dia ngompol di celananya, dia bingung sekali saat ini, mau pergi pasti ketahuan, tapi kalau diam terus di sini dia takut dokter Reza curiga padahal sebenarnya dia tidak melakukan apa apa.


''ini bau apa ya?" Tanya dokter Reza. Dia mulai menggerak gerakan hidungnya untuk mencari dari mana bau itu berasal.


"Bapak mau kemana? Mau ke dapur ya?" Tanya bi Minah. 


"Iya bi, saya mau ambil air minum buat di kamar, maaf ya bi, saya jadi gak sopan langkahi bibi gini" ujar dokter Reza. Dia merasa tidak enak karena sudah ngelangkahin bi minah yang sedang duduk di tangga itu.

__ADS_1


"Gak papa pak, lagian saya kok yang halang halangi jalan" ujar bi Minah tersenyum. 


Melihat dokter Reza yang melanjutkan langkahnya menuju dapur, bi minah pun mulai bangkit dari duduknya, dia dengan cepat berlari ke kamar Ilham menuju kamar mandi, malam ini dia harus mandi setengah badan untuk menghilangkan bau Pesing itu baru setelah itu dia kembali ke ruang bawah untuk mengambil air minum.


"Untung aja pak dokter jalan ke dapur, kalau enggak kan bahaya, bisa ketahuan nanti bibi ngompol di celana, kan malu" ujar bi Minah sembari terus membersihkan area bawahnya.


"Bibi kok gak liat non Sifa ya, kemana anak itu?" Bi Minah bertanya tanya. Setelah kejadian tadi bi Minah belum melihat Sifa lagi, dia malah duduk di tangga itu sembari menahan ketawanya. Dia tidak langsung mengikuti anak itu ke kamar.


Bi Minah keluar dari kamar mandi untuk memastikan Sifa berada di kamar itu atau tidak.


Bi minah pun keluar dari kamar Ilham berjalan dengan pelan ke ruang bawah sembari melihat ke arah kamar nadira, tapi malam itu sayangnya kamar Nadira tertutup rapat, yang terlihat hanya Dokter Reza yang baru kembali dari dapur dengan membawa satu gelas air putih di tangannya.


"Udah ah, gak papa, mending sekarang saya tidur aja , capek dari tadi bolak balik terus" ujar bi Minah. Bi Minah berjalan ke ruang bawah untuk mengambil air minum terlebih dahulu, setelah itu dia langsung kembali ke kamar ilham untuk beristirahat.


"Ayah, itu air minum buat aku kan?" Tanya Sifa yang melihat dokter Reza masuk dengan membawa air putih di tangannya.


"Sifa mau minum nak? Ini!" Dokter Reza menyodorkan air minum itu ke hadapan anak tirinya itu. Dia tersenyum dengan hati yang sangat kesal.

__ADS_1


"Kapan tidurnya sih anak ini? Mana kelihatannya masih ceria gitu lagi, gak ada rasa ngantuk ngantuknya" batin dokter Reza. Dokter Reza terus memperhatikan gerak gerik anak itu. Dia sangat kesal karena malam ini Sifa sudah mengganggu malam pengantinnya bersama Nadira.


"Mas, ayo tidur! Udah malam, besok kita kan mau ke rumah dokter Raisa, nanti kita kesiangan lagi" Nadira mengedipkan matanya ke arah dokter Reza, dia mencoba memberi kode agar dokter Reza berpura pura tidur agar Sifa ikut tidur bersamanya, tapi dokter Reza tidak mengerti dengan maksud istrinya itu, dia hanya duduk sembari memperhatikan Sifa yang masih meminum air putih itu. "Mas'' ujar Nadira lagi.


"Apa sayang?'' tanya dokter Reza tersenyum.


"Ayo tidur, kalau mas tidur nanti Sifa juga ikut tidur sama kita" ujar Nadira. Nadira terpaksa mengatakan ini agar dokter Reza mengerti maksudnya.


Tapi untungnya anak kecil itu belum mengerti kalau ayah dan bundanya ingin dia tidak berada di kamar itu. "Iya ayah, kalau ayah tidur Sifa juga ikut tidur kok, Sifa mau tidur bareng ayah" ujar Sifa tersenyum menoleh ke arah papa barunya.


"Tuh kan! Apa aku bilang, Sifa mau tidur bareng sama kita mas, ayo!'' Nadira mengedipkan matanya lagi agar dokter Reza mau berpura pura tidur dengannya, dia pun mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur itu, tapi dokter Reza tidur di posisi membelakangi Nadira, sedangkan Nadira dibiarkan menidurkan Sifa agar anak itu cepat terlelap.


5 menit berlalu, rasa ngantuk mulai melanda, Reza yang hanya ingin berpura pura tidur pun akhirnya tertidur terlelap, begitu juga nadira, dia benar benar merasakan kantuk yang hebat tapi dia masih ingat kepada suaminya, dia tidak mau mengecewakan suaminya malam ini, dia ingin melayani dokter Reza dulu setelah itu dia akan langsung beristirahat.


"Sayang, kamu udah tidur?" Tanya Nadira dengan nada pelan. "Sayang..!!!" Ujar Nadira lagi. Karena tak ada jawaban, Nadira menoleh ke arah suaminya tapi ternyata dokter Reza sudah terlelap dalam tidurnya.


"Yah! Mas Reza udah tidur, kasian mas Reza, malam ini aku belum sempat melayani dia, udah ah, biarin aja! Lagian kasian, dia juga pasti cape, mending aku juga tidur" ujar Nadira. Nadira Pun ikut tertidur lelap.

__ADS_1


__ADS_2