
Dokter Reza malah bengong sembari menundukkan kepalanya, dia bingung harus mulai dari mana untuk berbicara kepada Nadira, yang jelas saat ini dia belum berani untuk bertanya, dia lebih memilih diam saja meskipun hatinya merasa takut.
"Mas, kok malah bengong sih, ayo mikirin apa?" Nadira menggoda dokter Reza dengan mencubit lipat pinggangnya sembari tersenyum manis, dokter Reza yang melihatnya pun membalas senyumnya dengan greget seakan ingin menggigit wanita yang berdiri di hadapannya itu.
"Enggak, kamu cantik" ujar dokter Reza tersenyum. Dia balik menggoda Nadira dengan mengatakan kalau dirinya cantik, padahal sebenarnya benar, wajah Nadira saat ini sangat cantik, tubuhnya juga langsing tidak seperti dulu sewaktu dia baru melahirkan Ilham dan sifa.
"Kamu bisa aja si mas, dasar gombal" Nadira tersipu malu ketika dokter Reza menatapnya dengan penuh perasaan, dia memalingkan wajahnya lalu masuk ke dalam ruangan villa dengan perlahan.
"Sayang kamu benar benar cantik, mas jadi makin sayang deh sama kamu" ujar dokter Reza lagi.
"Berarti kalau aku jelek mas gak sayang dong sama aku" ujar Nadira sembari menoleh ke arah Reza. Nadira duduk di sofa ruang tamu disusul Reza yang ikut duduk juga disana. Posisi mereka sekarang duduk berdekatan bahkan rapet bak seperti pengantin baru.
"Bagaimanapun penampilanmu, mas akan tetap sayang kamu Nadira" ujar dokter Reza tersenyum.
"Terimakasih mas" ujar Nadira membalas senyuman manis dokter tampan itu, dia bersandar di tubuh Reza dengan manja merasakan hangatnya tubuh sang dokter sembari terus bercerita tentang keinginannya saat ini, dia ingin sekali dokter Reza mensuportnya agar dia ada kekuatan untuk merebut kembali semua harta kekayaannya dari Bayu.
Dokter Reza merasakan ketenangan ketika Nadira mendekap di tubuhnya, dia senang sekali Nadira bisa bercerita semua keinginannya saat ini jadi dia merasa Nadira mempercayainya, menghargainya sebagai pasangan yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Sayang, mas senang sekali kamu punya semangat untuk mengambil alih perusahaan kamu dari dia, tapi mas takut mantan suami kamu mempersulit semuanya, gimana kalau dia tidak menceraikan kamu?" celetuk Reza.
__ADS_1
Mendengar perkataan dokter Reza Nadira langsung bangkit lalu menatap Reza dengan tatapan serius, perkataan dokter Reza memang benar sekali, Nadira sampai tidak berpikir kesitu, dia hanya memikirkan semua keinginannya sedangkan dia tidak memikirkan resiko apa yang akan terjadi.
"Benar kata mas Reza, Bayu pasti tidak akan terima kalau aku mengambil alih perusahaan, apalagi Elsa, kuatkan aku ya Allah" batin Nadira.
"Nggak mas, dia gak mungkin mempersulit sidang perceraian aku dan dia, dia sendiri yang menginginkan perceraian ini mas, lagian sekarang dia juga sudah memiliki istri, kita berfikir positif saja ya! Allah pasti akan mempermudah niat baik kita" jawab Nadira tersenyum. Nadira mencoba menenangkan hatinya dengan berbicara seperti itu kepada dokter Reza, dia sebenarnya takut sekali tapi dia harus hadapi ini, dia harus bisa mengambil hak Ilham dan sifa yang sudah Bayu rampas, dia tidak akan membiarkan kedua anaknya sengsara sedangkan anak Elsa menikmati semua harta miliknya itu.
"Iya sayang" ujar dokter Reza tersenyum penuh ragu.
"Mas kayaknya ngantuk deh, sebentar, aku buatkan kopi dulu buat kamu ya mas!" Ujar Nadira.
"Iya sayang" ujar Reza sembari menganggukkan kepalanya.
Sembari mengaduk kopi Nadira terus meyakinkan hatinya "Aku pasti bisa, aku harus kuat, aku tidak boleh kalah dengan mereka" ujar Nadira.
"Bu Nadira, ibu sudah bangun?" Tanya dokter Raisa yang baru saja datang untuk mengambil minum. Dokter Raisa membawa gelas kosong di tangannya, dia berjalan menghampiri Nadira yang kebetulan sedang membuatkan kopi untuk dokter Reza.
"Iya dok" jawab Nadira tersenyum.
"Hari ini kita berangkat pagi kan Bu? Nanti dari sini kita naik taksi aja ya, biar pak Karyo antarkan anak anak ke rumah, kasian mereka kalau berlama lama diam disini, sekalian mas Bram mau cepat cepat pulang, soalnya dia ada kerjaan mendadak, dia harus cepat cepat berangkat ke luar kota" ujar dokter Raisa
__ADS_1
"Baik dok, pak Bram kok mendadak sekali berangkat ke luar kotanya ya? Apa memang sudah biasa seperti itu?" Tanya Nadira ingin tahu, mendengarkan pekerjaan pak Bram yang serba mendadak Nadira jadi teringat dengan pekerjaan Bayu mantan suaminya kebetulan Bayu juga sering keluar kota seperti itu jadi dia ada kesempatan untuk datang ke kantornya ketika Bayu sedang di luar kota, jadi dia bisa mencari berkas penting di kantornya untuk mempermudah dia mengambil lagi perusahaan itu.
"Memang sudah biasa seperti itu Bu, memangnya kenapa?" Tanya dokter Raisa yang merasa sedikit aneh dengan Nadira.
"Ini tentang perusahaan saya dok, jadi rencananya saya akan mengambil alih perusahaan saya dari tangan mantan suaminya saya, tapi saya harus mencari cara supaya saya tidak ketahuan oleh mantan suami saya dan istri barunya, karena kalau sampai mereka tahu mereka pasti tidak akan memberikannya kepada saya dan anak anak, mereka pasti akan melakukan apapun untuk mempertahankan perusahaan itu, sedangkan saya dan anak anak sangat membutuhkannya dok" jawab Nadira dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Itu bisa diatur Bu, nanti saya akan bantu ibu untuk mengambil alih perusahaan ibu, ibu tenang saja, kita jangan mau kalah sama mereka, kita harus lebih pintar dari mereka Bu" ujar dokter Raisa tersenyum.
"Iya dok, terimakasih banyak" ujar Nadira tersenyum.
"Sama sama Bu, jangan terlalu dipikirkan, nanti kita bicara lagi ya Bu, saya mau ke kamar dulu, mau bersih bersih!" Ujar dokter Raisa sembari menepuk pundak Nadira. Dia melangkahkan kakinya berjalan menuju kamar meninggalkan Nadira yang masih mengaduk kopi.
"Dokter Raisa bener, aku gak boleh terlalu memikirkan itu, aku dan dokter Raisa pasti bisa merebut kembali harta peninggalan ibu dan bapak" batin Nadira.
Karena terlalu lama di dapur Nadira pun bergegas mengantarkan kopi itu ke ruang tamu, dia berjalan dengan cepat karena tak enak dengan dokter Reza yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Sayang, kamu kemana dulu Kok lama bikin kopinya?" Tanya dokter Reza tersenyum
"Maaf mas, barusan ada dokter Raisa di dapur jadi aku ngobrol dulu sama dia" jawab Nadira merasa tidak enak
__ADS_1
"Kirain mas kamu ketiduran di dapur"