
Setelah menerima telpon dari Nadira, dokter Raisa langsung bergegas menemui Ilham dan Sifa di kamar, dokter cantik itu terlihat sangat buru buru hingga dia tidak menghiraukan Bi Minah yang sedang mengepel lantai yang tepat di hadapannya itu, dokter Raisa terlihat sangat ketakutan, perasaannya tidak bisa tenang mendengar Nadira yang akan segera kembali ke Indonesia.
"Bu Raisa kenapa buru buru kaya gitu ya? Mau kemana dia? Apa jangan jangan Bu Raisa mau ke kamar Ilham dan Sifa? Ya bener, pasti Bu dokter mau kasih tau mereka kalau bunda mereka akan segera pulang ke Indonesia, mereka pasti akan senang banget" batin bi Minah
BI Minah terlihat lega melihat majikannya yang sudah mulai bisa mengikhlaskan Ilham dan Sifa, karena jika Ilham dan Sifa sudah bertemu dengan orang tua mereka, itu berarti tugas dia mengurus Ilham dan Sifa sudah selesai, jika mereka sudah tidak ada di rumah itu, mungkin bi Minah akan sedikit lega, dia tidak akan lagi melihat kedua anak baik itu menangis ketika berdoa, bi Minah sangat tak tega, hatinya menjerit ketika kedua anak itu mengatakan rindu bundanya yang jauh disana. Tapi setelah tau kepulangan Nadira bi Minah jauh lebih tenang, wajahnya terlihat berseri, dia bersyukur karena doa kedua anak baik itu akhirnya dikabulkan oleh tuhan.
"Terimakasih ya Allah, akhirnya Ilham sama Sifa bisa ketemu bundanya" ujar bi Minah tersenyum.
Dia Pun kembali membereskan semua pekerjaannya karena memang sebentar lagi dia harus segera mengantar Ilham dan Sifa ke sekolah.
Tok
Tok
Tok
Dokter Raisa mengetuk pintu kamar Ilham dan Sifa.
"Sayang, buka pintunya nak, ini Bu dokter" teriak dokter Raisa dari luar kamar.
"Iya dokter cantik, tunggu sebentar!" Teriak Sifa dari dalam kamar.
Ketika pintu kamar itu dibuka oleh Sifa, dokter Raisa langsung memeluk Sifa dengan erat, dia menangis tersedu, dia
tidak bisa membayangkan kalau dia harus kehilangan mereka, kedua anak pintar itu yang begitu sangat dia sayangi.
__ADS_1
"Dokter cantik kok nangis? Sifa bandel ya dokter? Maafin Sifa ya!" Tanya Sifa sembari menjatuhkan air matanya.
Anak cantik itu ikut sedih melihat dokter Raisa menangis, Sifa yang masih sangat belia tituntut untuk menjadi dewasa sebelum waktunya, dia mengerti, itu sebabnya dia merasa tidak enak terlalu lama tinggal dirumah mewah itu, tapi dia tidak punya pilihan lain, perasaannya yang tidak karuan membuat dia semakin mengingat sang bunda yang entah kapan mau menjemputnya.
"Engga nak, kamu anak baik sayang, Sifa tidak perlu meminta maaf seperti ini" jawab dokter Raisa terisak.
"Kalau Sifa anak baik, trus kenapa dokter cantik menangis? Bu dokter jangan bohong sama sifa" Tanya Sifa
Tangan kecil itu mencoba menghapus air mata sang dokter, dalam lubuk hatinya yang paling dalam Sifa menjerit, Sifa takut dia dan kakaknya Ilham membuat dokter cantik itu keberatan mengurusnya hingga menangis seperti ini.
"Bu dokter sayang sekali sama Sifa, Bu dokter takut Sifa dan Ilham ninggalin Bu dokter" jawab dokter Raisa
"Kita juga sayang banget sama Bu dokter, dokter cantik gak boleh nangis lagi ya! Kita berdua akan tetap disini kok, iya kan kak?" Sifa menoleh ke arah kakaknya yang sedang sibuk memasukan buku kedalam tas.
Ilham sendiri bingung harus menjawab apa, dia hanya bisa mengatakan iya untuk menenangkan hati sang dokter, dia tidak mungkin tinggal bersama dokter Raisa selamanya, kini Ilham yang sudah tumbuh menjadi anak dewasa itu punya pilihan sendiri, jika suatu saat terjadi apa apa dengan sang bunda, ilham berencana untuk pulang ke rumah mereka yang dulu meskipun sang ayah sudah menikah dengan perempuan lain.
"Kalau seandainya bunda kalian pulang? Apa kalian akan tetap tinggal disini?" Dengan lantang dokter Raisa bertanya seperti itu kepada mereka, dia mencoba menguatkan dirinya meskipun sebenarnya dia belum siap mendengar Jawaban dari kedua anak itu.
Sifa terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari dokter Raisa begitu juga dengan Ilham, mereka tidak bisa berkata apa apa, Karena memang sudah pasti jawabannya sama, mereka pasti akan memilih ikut bersama bundanya, bunda yang begitu sangat mereka sayangi dan mereka rindukan.
"Bu dokter ngerti nak, kalian tidak usah jawab karena Bu dokter sudah tau Jawabannya, kalian pasti sangat merindukan bunda, iya kan nak? begitu juga bunda kalian, besok lusa bunda kalian akan pulang ke Indonesia, jadi kalian tunggu ya!" ujar dokter Raisa tersenyum
dokter Raisa mencoba menguatkan dirinya meskipun hatinya menjerit, dia berusaha kuat tapi tak bisa menahan air matanya, dia terus menangis sembari memeluk Sifa dengan erat.
"Ya Allah, berat sekali aku melepas mereka, aku gak punya pilihan lain, aku gak mungkin memaksa mereka untuk tetap tinggal bersamaku, kebahagiaan mereka ada ditangan bundanya, aku tidak mungkin memisahkan mereka" batin dokter Raisa merintih.
__ADS_1
Melihat dokter Raisa yang terus menangis, Ilham langsung memeluk dokter cantik itu dengan erat, dia tidak melepaskan pelukannya, Ilham ingin menunjukkan kasih sayangnya kepada sang dokter, tak ada kata yang bisa dia ucapkan saat ini, Ilham hanya bisa berterima kasih atas kebaikan dokter Raisa yang sudah menjaga dia dan adiknya selama ini.
"Terimakasih ya dokter, Ilham sayang sekali sama dokter, Ilham sudah menganggap Bu dokter itu seperti bunda Ilham sendiri, jangan sedih lagi ya! Meskipun sebentar lagi bunda jemput kita, kita gak akan pernah melupakan Bu dokter kok, Ilham sama Sifa pasti akan sering main kesini, iya kan dek?! " Tanya Ilham menoleh ke arah adiknya
"Iya ka, nanti kita pasti main terus kesini, disini kan rame, ada bibi sama pak Karyo yang suka hibur kita" jawab Sifa tersenyum
"Iya sayang, terimakasih, Bu dokter gak nangis lagi kok, Bu dokter nangis seperti ini karena memang Bu dokter bahagia akhirnya kalian bisa ketemu bunda kalian lagi, semoga kalian selalu bahagia nak" ujar dokter Raisa tersenyum.
Dokter cantik itu mencoba menghapus air matanya, dia bangkit dari duduknya lalu membantu Ilham membereskan semua buku bukunya ke dalam tas, hari ini dokter Raisa berniat untuk mengantarkan mereka ke sekolah, dia ingin menghabiskan waktu bersama mereka sebelum mereka pergi bersama bundanya.
...🌺di Singapura 🌺...
"Apa katanya?" Tanya Lisa ingin tahu.
Lisa yang sedari tadi mendengarkan percakapan Nadira dia sangat penasaran dengan jawaban dokter Raisa, Lisa ingin sekali mendengar suara kedua anak Nadira tapi Nadira keburu mematikan teleponnya.
"Alhamdulillah Sifa sama Ilham sehat mbak, tapi saya tidak bisa ngobrol karena mereka sudah berangkat ke sekolah" jawab Nadira.
"Yah, sayang sekali ya Bu, padahal kita mau denger suara mereka" ujar Lisa
"Iya mbak, nanti Kita telpon lagi aja"
...bersambung...
...jangan lupa like, comen n votenya ya🌹...
__ADS_1