30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
bersiap untuk fitting baju 2


__ADS_3

📞Oke Dev, nanti aku kesana sama anak anakku kok" ujar Nadira. Nadira baru ingat kalau kemarin dia gak sempet ajak anak anak untuk fitting baju, dia benar benar tidak menyadari itu. 


"Ya Allah, aku baru ingat kemarin aku gak ajak Ilham, pasti dia marah sama aku gara gara ini, ya ampun diraa! Kenapa sih kamu jadi oleng seperti ini" batin Nadira. Nadira benar benar merasa bersalah sekali, Unjung saja Devi mengingatkannya tentang ini, kalau saja tidak, mungkin dia gak akan pernah sadar kalau dia sudah menyakiti kedua anaknya.


📞Aku tunggu ya dir, jangan lupa anak anak!" Ujar Devi lagi. Devi terus aja mengingatkan Nadira tentang kedua anaknya, mungkin ini sebuah pengingat untuknya agar dia bisa selalu mengingat anak-anaknya, Nadira dira benar-benar tidak ngeuh, mungkin karena dia terlalu panik jadi dia bersikap seperti itu, entahlah, hanya Nadira yang tahu semua ini.


Devi pun mematikan panggilan telepon itu, dia mulai bersiap untuk menyiapkan baju-baju yang akan Nadira ambil hari ini, bukan hanya baju, semua dekorasi yang diperlukan juga harus segera diangkut menuju rumah Nadira agar dia bisa cepat-cepat memasangkannya, menghias rumah itu sebagus mungkin.


"Devi ngomong apa sayang? Baju bajunya udah siap semua kan?" Tanya dokter Reza penasaran. Dia benar-benar ingin tahu apa yang barusan Devi bicarakan terhadap calon istrinya itu, dia ingin Devi menyiapkan semua peralatannya secepat mungkin karena memang acaranya tinggal menghitung hari lagi.


"Barusan Devi bilang sama aku, nanti aku harus bawa anak-anak ke butiknya mas, aku sampai lupa loh mas, harusnya kemarin aku ajak anak anak ke butik, soalnya kan mereka juga harus diukur tinggi badannya, pantesan aja Ilham minta dianterin ke rumah ayahnya, ternyata dia kecewa banget sama aku" ujar Nadira dengan matanya yang berkaca-kaca. 


"Iya ya, kok mas juga nggak inget sama sekali, udahlah sayang, nggak apa-apa! Yang penting kan sekarang kita mau ajak anak-anak buat ukur bajunya, lagian kan kemarin kita juga gagal fitting baju di butik itu, mungkin ini pertanda sayang, coba kalau kemarin kita bawa anak-anak ke butik itu, kan ribet!, mana kemarin hujan lagi, kita juga kan pulangnya malam" ujar dokter Reza. Dokter Reza juga sebenarnya merasa bersalah sekali karena kemarin dia sampai lupa tidak mengajak anak-anak Nadira untuk fitting baju bersama, tapi dia mencoba menenangkan hatinya, karena yang terpenting saat ini dia dan Nadira mengajak anak-anaknya untuk fitting baju bersama.


"Iya juga ya mas, Untung aja kemarin kita nggak ajak anak-anak" ujar Nadira juga.

__ADS_1


Mereka pun terus berbincang membicarakan rencana mereka untuk berangkat hari ini, Nadira juga mempersiapkan rencana untuk besok mereka mendekor rumah yang sekarang Bayu tempati menjadi tempat acara pernikahannya. Hari ini mereka akan berangkat ke rumah itu untuk menjemput Syifa dan Ilham sekaligus berbicara kepada Bayu tentang acara pernikahannya.


Ketika Nadira dan dokter Reza sedang berbincang membicarakan acara pernikahannya yang akan digelar di rumah yang sekarang ditempati oleh Bayu, di rumah itu, Bayu, Syifa dan Ilham justru sedang menikmati kebersamaannya bermain bersama si hewan peliharaan burung beo kesayangan Syifa dan Ilham. Mereka bermain bercanda, tertawa, seperti tak Ada beban apapun. Mereka terlihat enjoy enjoy saja, bahkan di hati mereka tidak ada sedikit pikiran untuk bertemu dengan bundanya yang sekarang sedang sibuk mengurus urusannya yang begitu sangat banyak itu.


"Ka Ilham, lihat deh aku bawa apa?" Teriak Syifa dari balik semak-semak yang berada di taman belakang rumahnya. Ilham dan Bayu yang sedang bermain bersama si beo pun menoleh ke arah Syifa.


"Kamu bawa apa nak? Coba ayah lihat!" Teriak Bayu. Bayu terus memperhatikan anaknya itu, dia ingin tahu apa yang sebenarnya Sifa lakukan di balik semak-semak itu.


Syifa bangkit dengan satu ekor cacing di tangannya.


"Ini ayah! Hahaha.." anak itu terlihat sangat ceria sekali, dia melemparkan cacing itu ke arah kakak dan ayahnya.


"Berani dong kak, aku kan udah besar" teriak Syifa lagi. Syifa berjalan menghampiri ayah dan kakaknya yang sedang asyik bermain burung beo kesayangannya. Hari ini dia ingin memberi makan burung itu, dan memandikannya seperti apa yang sering ayahnya lakukan.


"Sekarang Syifa aja yang rawat burungnya ya ayah? Ayah duduk aja, aku mau belajar jadi perawat, biar nanti sudah besar aku bisa rawat ayah sama bunda" ujar Syifa tersenyum. Mendengar perkataan anaknya Bayu tak kuasa menahan kesedihannya, tubuhnya gemetar dengan mata yang berkaca-kaca, dia bangga sekali memiliki anak baik dan pintar seperti Syifa dan Ilham, rasanya dia tak sanggup jika nanti dia harus berpisah lagi dengan mereka.

__ADS_1


"Siap, ibu perawat!" Ujar Bayu kepada anaknya itu. 


Syifa mulai menghampiri sangkar burung beo itu, dia mulai membersihkan kandangnya, memberi makannya, hingga memberi minum burung itu. Semua dia lakukan sendiri, Bayu hanya memperhatikannya, dia ingin anaknya belajar untuk Mandiri, karena dia tidak bisa terus bersama mereka apalagi sebentar lagi Nadira akan menikah dengan dokter Reza.


"Udah dulu yu!  kita sarapan dulu! ayah mau buatkan nasi goreng buat kalian, kalian mau nggak?" Tanya Bayu tersenyum. Bayu mulai bangkit dari duduknya, dia menggandeng tangan kedua anaknya berjalan menuju dapur. Hari ini adalah hari pertama bagi Bayu memasak untuk kedua anaknya, dia terlihat semangat sekali menyiapkan makan pagi untuk mereka berdua.


Bayu mempersilahkan sifa dan Ilham untuk duduk di meja makan.


"Tunggu ya nak! ayah mau buatkan nasi goreng dulu buat kalian" ujar Bayu. Bayu meluncur menghampiri penggorengan, dia mulai mencari bahan-bahan untuk di masak ke dalam lemari es.


"Ayah mau buat nasi goreng seperti yang sering bunda bikin buat kita kan? Horeeee" teriak Sifa. Sifa terlihat senang sekali melihat ayahnya masak seperti ini, ini benar benar pemandangan yang sangat luar biasa bagi mereka.


Sifa dan Ilham terus memperhatikan ayahnya, mereka tertawa ketika melihat tingkah laku ayahnya yang lucu, maklum saja, Bayu belum pernah memasak seperti ini, jadi dia masih takut berhadapan dengan minyak panas, penggorengan dan asap dapur seperti ini.


5 menit berlalu.

__ADS_1


"Eng ing eng, nasi gorengnya sudah jadi!" Teriak Bayu. Bayu meluncur dengan membawa satu bakul nasi goreng di tangannya, dia menyimpan nasi goreng itu ke atas meja makan.


"Asik!" Teriak Sifa. Sifa mulai mengambil piring lalu menyimpan piring itu tepat di hadapannya. Begitupun Ilham, Ilham juga melakukan hal yang sama, Ilham menyimpan piring itu tepat di hadapannya, dia sudah siap menyantap nasi goreng buatan ayah tercintanya yang terlihat sangat menggiurkan itu.


__ADS_2