30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
ingin tahu perasaan Ilham


__ADS_3

Pagi Pun tiba, sinar mentari bersinar menghangatkan tubuh pak Karyo yang pagi itu sedang duduk di posnya. Nadira yang baru keluar dari kamarnya pun dia langsung menghampiri pak Karyo yang sedang duduk di pos itu. Nadira sudah menunggu momen ini dari semalam dia ingin sekali berbicara dengan pak Karyo dan bi Minah untuk bertanya tentang anaknya Ilham karena dia merasa bi Minah lebih tau perasaan anaknya itu.


"Pagi pak Karyo, sendiri aja" sapa Nadira sembari tersenyum manis.


Nadira duduk di sebelah pak Karyo, sembari terus memperhatikan pak Karyo yang sedang menikmati pisang goreng kesukaannya.


"Eh, Bu Nadira, saya mah sendiri aja Bu, sama siapa lagi atuh! Paling kalau disuruh sama pak Bram sama dokter Raisa baru ada kerjaan, kalau nggak disuruh mah saya duduk aja di sini Bu" ujar pak Karyo tersenyum.


"Iya pak, saya mengerti! pekerjaan bapak kan cuma tunggu pos aja. Oh iya pak, kemarin bapak kan yang nganterin Ilham ke rumah ayahnya?" Tanya Nadira ingin tahu. 


"Iya Bu, semalam juga saya mau ngobrol sama ibu tapi saya gak enak, saya takut mengganggu waktu istirahat Bu Nadira" jawab pak Karyo. Pak Karyo sebenarnya merasa tidak enak, dia merasa kalau dirinya terlalu mencampuri urusan Nadira, tapi ini yang bisa dia lakukan sebagai bukti cintanya kepada Ilham dan Sifa, dia sudah menganggap kedua anak itu seperti anaknya sendiri, jadi dia berusaha melakukan apapun untuk kenyamanan mereka.


"Maaf pak Karyo, saya ingin bertanya sesuatu sama bapak, apa benar ilham yang meminta bapak untuk mengantarkan dia ke rumah ayahnya?" Tanya Nadira ingin tahu. Nadira penasaran sekali karena yang dia tau Ilham sangat membenci ayahnya, dia sama sekali tidak mengerti kenapa Ilham tiba tiba ingin pergi ke rumah ayahnya seperti ini.

__ADS_1


"Iya Bu Nadira, den Ilham sendiri yang meminta saya untuk mengantarkannya ke rumah pak Bayu, kemarin waktu saya lagi nongkrong di sini, den Ilham nyamperin saya, dia cerita sama saya kalau dia jenuh diam di rumah terus, dia ingin bertemu dengan adiknya jadi dia meminta saya untuk mengantarkannya ke rumah pak Bayu agar dia bisa bertemu dengan adiknya Syifa. Waktu itu saya langsung anterin dia Bu, saya kira den Ilham minta izin dulu sama ibu tapi ternyata enggak, maaf Bu, ini semua keteledoran saya" jawab pak Karyo yang benar-benar merasa tidak enak dengan Nadira.


"Nggak pak, justru saya ingin berterima kasih sama bapak karena bapak sudah mau mengantarkan anak saya ke rumah mas Bayu, ini kesalahan saya pak, mungkin karena saya terlalu sibuk mengurusi urusan saya jadi Ilham dan Syifa terabaikan, ini benar benar kesalahan saya" ujar Nadira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf pak, apa yang Ilham ceritakan sama bapak tentang saya? Saya sekarang mengerti pasti dia kecewa sama saya, jadi dia lebih memilih tinggal bersama ayahnya, apa yang dia katakan pak? bapak bilang aja, biar saya bisa memperbaiki semuanya, saya melakukan semua ini untuk mereka, tapi karena kesibukan saya merasa jadi merasa terabaikan" Nadira terus bertanya kepada pak Karyo, dia ingin tahu apa saja yang Ilham bicarakan kepada pak Karyo dan bi minah.


Pak karyo bingung harus memulai dari mana, dia ingin sekali menceritakan semuanya, tapi dia takut Nadira kecewa. Dia tidak mau melihat Nadira sedih dan kepikiran, apalagi sekarang pak Karyo melihat Nadira lagi sibuk-sibuknya menyiapkan acara pernikahannya bersama dokter Reza. 


"Saya tidak tahu Bu, den Ilham nggak bilang apa-apa sama saya, Bu Nadira tanya aja sama bi Minah siapa tahu den Ilham bicara sesuatu sama dia, den Ilham kan sering sekali bercerita sama bi Minah" jawab pak Karyo. Untuk saat ini pak Karyo lebih memilih diam, dia berpura-pura tidak tahu apa-apa, padahal sebenarnya dia sendiri yang mengetahui semuanya, Ilham bercerita kepadanya tentang bundanya tapi dia tidak ingin menceritakan itu kepada Nadira karena dia takut Nadira kecewa.


"Kenapa pak Karyo tidak jujur sama aku ya? Padahal aku ingin tahu bagaimana perasaan ilham, aku ingin tau apa yang membuat Ilham kecewa sama aku, aku gak mungkin bertanya langsung sama Ilham, Ilham pasti tidak akan berkata jujur sama aku" batin Nadira. "Ya Allah nak, maafin bunda" batin Nadira.


"Oh iya Bu, sekarang ibu mau pergi ke butik lagi ya?" Tanya pak Karyo. Pak Karyo malah mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau Nadira terus bertanya tentang ilham kepadanya karena semua sudah jelas, Ilham Sudah merasa nyaman tinggal bersama ayahnya.

__ADS_1


"Enggak pak, hari ini saya gak jadi pergi ke butik, saya ingin pergi ke rumah mas Bayu untuk jemput Ilham dan Sifa" jawab Nadira. Nadira menoleh ke arah pak Karyo, dia ingin melihat ekspresi pak Karyo setelah dia tau Nadira akan menjemput Ilham, tapi ternyata pak Karyo terlihat biasa biasa saja.


"Iya Bu, mereka sangat membutuhkan ibu" ujar pak Karyo.


Waktu terus berputar, jam kini sudah menunjukkan pukul 07.00, dokter Raisa juga sudah terlihat rapi dan wangi, dia sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit, hari ini dia terlihat buru-buru sekali, dia berjalan menghampiri pak Karyo dan Nadira yang sedang mengobrol.


"Anterin saya ke rumah sakit pak, sekarang!!" Teriak Dokter Raisa kepada pak Karyo yang sedang bersantai.


"Siap Bu dokter" ujar pak Karyo, dengan tangan yang memberi hormat ke arah majikannya. Pak Karyo pun bergegas pergi mengambil mobil yang masih terparkir di garasi sedangkan Nadira, dia bangkit dari duduknya menghampiri Dokter Raisa.


"Hari ini bu Nadira jadi ke butik kan? Nanti Reza yang jemput ibu kesini, saya buru buru Bu, sudah banyak pasien saya yang menunggu" tanya dokter cantik itu.


"Insyaallah dok, nanti saya akan coba hubungi teman saya dulu, kalau barangnya sudah siap baru saya akan pergi kesana" jawab Nadira Tersenyum.

__ADS_1


"Oh iya, lebih baik seperti itu biar ibu sama Reza gak nunggu lama, saya pamit pergi dulu ya Bu! Assalamualaikum" ujar dokter Raisa. Karena pak Karyo sudah menunggu di depan, Dokter Raisa pun berjalan meninggalkan Nadira, dia bergegas masuk ke dalam mobil mewah itu lalu pergi ke rumah sakit.


"Dokter Raisa terlihat sibuk sekali pasti lagi banyak pasien nya di rumah sakit, ya Allah ya, sembuhkanlah mereka yang sedang berjuang melawan penyakitnya" batin Nadira.


__ADS_2